R.Moeljono (Muljono) adalah putra pasangan Mas Sajid
Sastrodihardjo dan Rr. Moedilah, Rr. Moedilah adalah putri dari
R.Soeparman Hardjo Koesoemo bin R. Kyai Sosroredjo ing Dolopo
bin Kyai Ageng Gadjah Surengpati Wedono Prajurit ing Madiun.
MISI SERANGAN UDARA PERTAMA YANG DILAKUKAN BERSAMA AURI UNTUK MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
Dalam melaksanakan agresinya, Belanda berusaha mengintimidasi dan
memaksa kedudukan Indonesia makin mundur ke pedalaman, serta
menghancurkan potensi-potensi kekuatan udara Republik Indonesia
diberbagai daerah. Seluruh pangkalan udara Republik Indonesia diserang
secara serempak, mereka bergerak dengan mengandalkan pesawat-pesawat
tempur P-5 Mustang dan P-40 Kitty Hawk serta pesawat pembom B-25/B-26.
Penyerangan terhadap pangkalan-pangkalan udara Republik Indonesia, yang
saat itu masih dalam proses perintisan, tentunya dimaksudkan untuk
menghilangkan atau mengurangi kemampuan Angkatan Udara Republik
Indonesia, sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk mengadakan serangan
udara terhadap Belanda. Demikian pula halnya dengan Pangkalan Udara
Maguwo Yogyakarta, tidak luput dari sasaran serangan Belanda.
Serangan Belanda di Pangkalan Udara Maguwo, dilaksanakan secara
bergelombang. Serangan awal dilancarkan pada pagi hari tanggal 21 Juli
1947, tetapi serangan awal ini mengalami kegagalan, karena secara
kebetulan cuaca di atas kota Yogyakarta berkabut tebal sehingga Belanda
tidak mampu melaksanakan serangan. Kegagalan tersebut tidak mengurangi
usaha Belanda untuk menghancurkan Maguwo, karena pada siang harinya
Belanda menyerang kembali. Selama 40 menit, empat buah pesawat pemburu
Belanda menyerang dengan menjatuhkan beberapa bom di atas lapangan
terbang Maguwo dan Wonocatur, yang menyebabkan timbulnya kebakaran di
beberapa tempat, namun pesawat yang telah disembunyikan sebelumnya luput
dari serangan Belanda.
Pukul 14.10 WIB tanggal 23 Juli 1947,
Belanda kembali menyerang lapangan terbang Maguwo. Pesawat-pesawat
pemburu Belanda melepaskan tembakan mitraliur dan menjatuhkan granat
tangan. Serangan Belanda ini mendapat perlawanan dari anggota AURI, satu
pesawat Belanda kena tembak dan melarikan diri. Dua hari berikutnya,
yakni pada 25 Juli 1947 pukul 14.30 WIB, kembali Maguwo diserang oleh
dua pesawat P-40 Kitty Hawk Belanda. Meskipun demikian perlawanan kita
dari bawah tidak kendor sedikitpun. Dalam pertempuran ini satu pesawat
Belanda terkena tembakan pasukan penangkis serangan udara dan melarikan
diri kearah Solo.
Menjelang Magrib tanggal 25 Juli 1947, Belanda
kembali melancarkan serangan berikutnya. Kali ini AURI mengalami
kerugian yang sangat besar, karena pesawat-pesawat tempur Belanda
menemukan pesawat-pesawat AURI yang sedang di run up. Pada serangan yang
kelima kalinya ini, beberapa pesawat Cukiu dan Cureng AURI hancur,
bahkan satu-satunya pesawat pembom AURI yang tersisa, yaitu Pangeran
Diponegoro I ikut hancur.
Serangan-serangan Belanda yang tidak
beraturan tersebut, menunjukan bahwa Belanda berusaha keras untuk
melumpuhkan dan menghancurkan kekuatan udara Republik Indonesia.
Penghancuran sasaran yang diperkirakan menjadi tulang punggung kekuatan
udara Republik Indonesia, dianggap Belanda sebaga salah satu cara
terbaik dalam mencegah Pangkalan Udara Republik Indonesia untuk
melakukan serangan, yang akan mengancam kedudukan maupun menyerang
daerah yang baru saja diduduki Belanda.
Serangan udara Belanda atas
kekuatan udara Republik Indonesia dapat dikatakan berhasil, sebagian
besar hasil pembinaan kekuatan udara Republik Indonesia yang telah
dibangun selama kurang lebih dua tahun setelah kemerdekaan hampir dapat
dilumpuhkan. Beberapa pangkalan udara di Pulau Jawa dapat diduduki,
Pangkalan Udara Bugis (Malang) dan Kalijati dapat dikuasai Belanda,
selain itu pesawat terbang yang ada di Pangkalan Udara Maospati,
Panasan, dan Cibeureum banyak yang dihancurkan Belanda, sedangkan di
Pangkalan Udara Maguwo hanya tersisa dua Cureng, satu Guntei dan satu
Hayabusa.
Setelah Belanda melancarkan agresinya, fasilitas
penerbangan dan pesawat-pesawat yang telah diperbaiki oleh para tehnisi
Angkatan Udara Republik Indonesia berhasil dihancurkan Belanda, bahkan
beberapa pangkalan udara berhasil dikuasai oleh Belanda. Meskipun
demikian, kenyataan tersebut tidak mengendorkan semangat para pendahulu
TNI Angkatan Udara, justru menjadi motivasi untuk terus berjuang dalam
mempertahankan kemerdekaan.
Dengan berbekal empat pesawat yang
tersisa di pangkalan udara Maguwo, para pendahulu TNI Angkatan Udara
melakukan perlawanan dan melancarkan serangan balik terhadap
daerah-daerah yang berhasil diduduki Belanda.
Gagasan untuk
melakukan pembalasan lewat udara terhadap kedudukan Belanda, menjadi
pemikiran utama para pemimpin Angkatan Udara, terutama bentuk tindakan
balasan yang akan dilaksanakan, karena kesiapan pesawat yang ada tidak
memadai, dan kemampuan terbang operasional para kadet penerbang saat itu
terbatas pada penerbangan pengintaian. Atas dasar itu, maka Komandan
Sekolah Penerbang Komodor Muda Udara A. Adisutjitpo, merasa sayang kalau
para penerbang muda ini “gugur”, beliau menginginkan agar mereka lebih
dulu ditingkatkan kecakapan terbangnya untuk mampu menerbangkan pesawat
tempur, bahkan tercetus kata-kata beliau bahwa andai kata harus
mengadakan serangan balas akan dilakukan oleh beliau sendiri. Gagasan
beliau tersebut disampaikan sebelum berangkat ke luar negeri.
Tetapi
situasi waktu yang sangat mendesak untuk melakukan serangan balasan,
maka setelah Komodor Muda Udara Adisutjipto dan rombongannya berangkat
melaksanakan missinya ke luar negeri, para teknisi di Maguwo secara
diam-diam sibuk dengan melaksanakan modifikasi dan mengadakan
pemeriksaan beberapa pesawat terbang seperti Hayabusha, Cureng dan
Guntai.
Pesawat-pesawat tersebut dipersiapkan untuk dijadikan
pesawat pembom, kegiatan tersebut memang sangat dirahasiakan. Dibawah
pimpinan Basir Surya, para teknisi memeriksa dan memperbaiki
pesawat-pesawat yang dapat dipersiapkan untuk melaksanakan misi operasi.
Sedangkan pada bidang teknik persenjataan dipimpin oleh Opsir Muda
Udara I Eddie Sastrawidjaja. Sementara itu pimpinan Angkatan Udara
Komodor Udara S. Suryadarma dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma
mengadakan rapat-rapat tertutup.
Sejalan dengan proses penyiapan
pesawat oleh para tehnisi AURI, pada tanggal 28 Juli 1947 lebih kurang
pukul 19.00, seorang kurir ke Mess Perwira di Wonocatur yang membawa
perintah KSAU yang ditujukan kepada empat orang kadet AURI, yaitu Kadet
Penerbang R.Muljono, Sutardjo Sigit, Suharnoko Harbani, dan Bambang
Saptoadji agar menghadap Komodor Udara S. Suryadarma dan Komodor Muda
Udara Halim Perdanakusuma. Panggilan yang sangat dirahasikan itu
menyangkut rencana operasi udara yang akan ditugaskan kepada keempat
penerbang tersebut. Rencana operasi ini disampaikan sendiri oleh Komodor
Muda Udara Halim Perdanakusuma selaku Perwira Operasi dengan
penjelasan-penjelasan seperlunya. Operasi udara itu berupa pengeboman
atas kota-kota yang menjadi kubu musuh di Jawa Tengah. Pelaksanaannya
tidak bersifat perintah tetapi sukarela, namun demikian tidak ada
seorang pun dari para penerbang itu yang menolak tawaran tersebut.
Pada kesempatan itu, ditunjuk pula para penembak udaranya (air gunner).
Mereka adalah Kaput, Dulrachman dan Sutardjo. Ketiga air gunner
tersebut merupakan teknisi berpangkat Bintara, yang belum pernah
mendapat pendidikan “gunnery” dari AURI. Modal utama mereka adalah
keberanian dan bersedia untuk berkorban dalam mempertahankan kemerdekaan
Bangsa Indonesia.
Pada pertemuan tersebut, KMU Halim Perdanakusuma
menjelaskan secara rinci rencana penyerangan kedudukan Belanda di
Semarang dan Salatiga, yaitu :
1. Kadet Udara I R.Moeljono
ditugaskan menyerang Semarang yang disertai penembak udara Sersan Udara
Dulrachman menggunakan pesawat pembom tukik Guntei.
2. Kadet Udara I Bambang Saptoadji ditugaskan mengawal pesawat pembom Guntei menggunakan pesawat Hayabusha.
3. Kadet Udara I Sutardjo Sigit didampingi penembak udara Sersan Udara
Sutardjo dan Kadet Penerbang Suharnoko Harbani didampingi penembak udara
Sersan Udara Kaput menyerang Salatiga menggunakan pesawat Cureng.
Sasaran pemboman dan tembakan ditentukan hanya pada kedudukan dan
markas militer lawan, penerbangan yang dilaksanakan harus menghindari
Boyolali, karena pasukan Belanda telah masuk ke daerah tersebut. Di
samping itu, para penerbang tidak diperbolehkan untuk terbang langsung
menuju sasaran, tetapi harus membuat dog-leg, yaitu terbang ke arah
timur, baru kemudian belok ke kiri menuju sasaran, dengan tetap
memperhatikan taktik pendadakan.
Penyerangan akan dilaksanakan
sedini hari mungkin, selama kurang lebih satu jam, untuk menghindari
penyergapan dan pengejaran lawan. Apabila serangan selesai, para
penerbang diinstruksikan untuk segera kembali ke Maguwo, dengan tree top
level (terbang serendah mungkin) dan hedge-hopping. Teknik ini
dimaksudkan untuk mengurangi ruang gerak pesawat musuh yang jauh lebih
tinggi kecepatanya, apa bila mereka mengejar dan mau menyergap.
Selesai briefing, mereka bergabung dengan para tehnisi pesawat yang
sedang berusaha memperbaiki dan mempersenjatai pesawat yang akan
digunakan. Untuk melengkapi persenjataan Guntei, para teknisi tidak
mengalami kesulitan, karena pesawat jenis ini termasuk pesawat tempur.
Pesawat pembom Guntei yang berhasil diperbaiki mampu membawa bom
seberat 400 kg. di samping itu, juga dipasang sebuah senapan mesin yang
diletakan di belakang penerbang.
Sedangkan pada pesawat Cureng, para
teknisi harus bekerja keras, karena pesawat ini digunakan sebagai
pesawat latih. Berkat ketekunan para tehnisi, pesawat cureng berhasil
dimodifikasi menjadi pesawat pembom, dengan menempatkan sebuah bom
seberat 50 kg di bawah kedua sayapnya. Untuk melepaskan bom-bom
tersebut, disebelah kiri tempat duduk penerbang dibasang tiga buah
handle (pegangan) yang terbuat dari kayu dengan warna yang berbeda-beda.
Yang kiri warna Merah untuk melepaskan bom di bawah sayap kiri, yang
tengah warna Kuning untuk melepaskan kedua bom sekaligus, yang kanan
berwarna Hijau untuk melepaskan di bawah sayap kanan.
Selain
dilengkapi bom, pesawat Cureng dilengkapi pula dengan senapan mesin.
Dari kedua pesawat Cureng yang disiapkan, hanya satu pesawat yang bisa
dipasang senapan mesin, karena satu pesawat Cureng yang akan diawaki
Sutardjo Sigit tidak ada tempat kedudukan (mounting)-nya untuk memasang
senapan mesin, sehingga pesawat ini sama sekali tidak dapat membela diri
apabila disergap musuh. Sebagai gantinya, pesawat Cureng tersebut
diberi bom-bom bakar yang dibungkus dengan kain Blacu. Sedangkan pesawat
Hayabusha tidak jadi digunakan, karena adanya kerusakan pada system
persenjataanya. Meskipun para juru teknik telah berusaha dengan bekerja
keras sampai pukul 01.00 dini hari tanggal 29 Juli 1947, kerusakan pada
sistim persenjataan pesawat Hayabusha belum juga dapat diatasi. Dengan
demikian Kadet Penerbang Bambang Saptoadji merasa sangat kecewa.
Setibanya di Mess Wonocatur tempat mereka disiagakan penuh, Ia
mendatangi ketiga kadet penerbang lainnya untuk dibujuk agar salah
seorang bersedia diganti. Mereka tidak mau melepaskan tugas yang telah
dipercayakan pada pundak masing-masing.
Sebelum melaksanakan misi
operasi penyerangan, ketiga kadet penerbang hanya diberi kesempatan
untuk beristirahat sekitar 2 jam.
Pada pukul 03.00 dini hari,
mereka dibangunkan dan pukul 04.00 sudah harus siap di lapangan terbang
Maguwo untuk menerima briefing dari kepala teknisi Bapak Sudjono, yang
sebelumnya tidak mengetahui akan adanya serangan balas AURI terhadap
Belanda. Bapak Sudjono menjelaskan tentang tugas yang akan dilakukan
para teknisi setelah pesawat kembali dari melakukan penyerangan.
Briefing berikutnya adalah dari Meteo yang dilakukan oleh Bapak Patah
dengan menggunakan peta yang dipakai di sekolah dasar yang memberikan
gambaran mengenai kabut rendah, angin tenang dan lainya. Sedangkan
mengenai kesiapan pemadam kebakaran diberikan oleh Bapak Djunaedi.
Pada pukul 05.00, ketiga pesawat mulai taxi-out ke posisi take-off,
yang sebelumnya dilepas oleh KSAU Komodor Udara S. Suryadarma dan
Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma. Ketiga pesawat take off secara
bergantian, Pesawat Guntei yang diterbangkan oleh R.Moeljono dan
Dulrachman sebagai "air-gunner" terbang terlebih dahulu. Kemudian
disusul pesawat Chureng yang dikemudikan oleh Sutardjo Sigit yang
dibantu Sutardjo sebagai "air-gunner". Selanjutnya Suharnoko Harbani
dengan Kaput juga menggunakan pesawat Chureng merupakan pesawat yang
terakhir mengangkasa.
Untuk membantu tinggal landas, dipasang
sebuah lampu sorot pada ujung landasan di belakang pesawat, maksudnya
agar mendapat cukup penerangan. Dengan demikian landasan bisa nampak
terang oleh sorot lampu tersebut dan memberi sedikit keuntungan bagi
pilot untuk menentukan batas pesawat baru mulai mengudara. Mereka tidak
diperkenankan menggunakan lampu dan peralatan lain dalam pesawat untuk
menjaga kerahasiaan operasi yang sedang dilaksanakan. Ketiga pesawat
tidak dibekali peralatan navigasi dan komunikasi, masing-masing kru
pesawat hanya dibekali senter yang berfungsi sebagai alat komunikasi apa
bila diperlukan. Walaupun para penerbang ini belum berpenglaman terbang
malam, dengan penuh ketekunan dan kewaspadaan mereka bergiliran
meninggalkan landasan terbang Maguwo secara lancar.
Pemboman Kota Semarang
Dengan menggunakan pesawat terbang pembom jenis Guntai, Kadet Penerbang
I R.Moeljono memulai pelaksanaan operasi udara atas kota Semarang
sebagai sasaran urutan pertama. Rute penerbangan yang dipakai dalam
operasi udara ini memakai cara yang paling mendasar dan sederhana dalam
ilmu navigasi yaitu dengan cara dead reckonning yang memperhitungkan
arah dan kecepatan angin, keadaan cuaca dan lain sebagainya, karena
penerbangan tersebut dilakukan pada malam hari yang tidak memungkinkan
para penerbang mengamati tanda-tanda di daratan (land-marks) untuk
dipakai sebagai pedoman. Para awak pesawat hanya dibekali lampu senter
(battery) sebagai pertolongan dan bantuan sekedar apabila diperlukan
penggunaannya. Komunikasi antar awak ataupun antara pesawat satu dan
lainnya hanya dilakukan dengan isyarat sandi yang dilakukan lewat sinar
lampu senter tersebut, itupun kalau terpaksa saja.
Untuk menuju
kesasaran para penerbang diinstruksikan tidak langsung menuju sasaran,
tetapi menempuh suatu rute dogleg, yang telah diplot oleh komodor Muda
Udara Halim Perdanakusuma. Untuk pesawat Guntai ke Semarang dan pesawat
Cureng ke Salatiga. Dogleg tersebut berupa terbang kejurusan timur
selama sekian puluh menit, kemudian belok sekian derajat untuk langsung
menuju sasaran.
Setelah take off, Kadet Penerbang R.Moeljono
menunggu sejenak, setelah terlihat pesawat Cureng dari kejauhan, maka Ia
segera melesat langsung menuju sasaran di Semarang. Secara fisik
serangan dalam rangka operasi udara terhadap kota Semarang dilakukan
pada hari Selasa, 29 Juli 1947 pukul 06.10 pagi dan pesawat Guntai ini
menyerang dari arah utara. Menghadapi arah posisi yang demikian, maka
Kadet Penerbang R.Moeljono, menggunakan taktik pendadakan (surprise)
dengan mengambil titik awal arah serangan yang dianggap paling aman.
Setelah pesawat Guntai ini mendekati daerah sasaran, tidak langsung
melakukan serangan udara dengan segera, tetapi terlebih dahulu membelok
untuk mengitarinya. Kesempatan tersebut dipakai untuk memahami medan dan
menjajaki kemungkinan sasaran pemboman dan tembakan yang akan dituju.
Setelah memasuki kawasan di atas laut Jawa, berulah pesawat mi membelok
kembali kearah selatan dan menyerang Semarang dari arah utara.
Siasat ini tidak diketahui sama sekali oleh Belanda. Selain itu Belanda
memang tidak memperkirakan, bahwa pesawat RI akan mampu hadir di atas
wilayah kekuasaannya, apalagi mewujudkan suatu bentuk serangan. Di luar
dugaan dan perkiraan kemampuan tersebut, ternyata pagi itu salah satu
pusat kekuatan Belanda di Jawa harus menghadapi serangan udara Republik
Indonesia. Selain itu perkiraan tepat telah diambil oleh Kadet Penerbang
R.Moeljono bahwa pertahanan udara musuh akan kebobolan dengan serangan
yang datang dari arah laut.
Setelah selesai melakukan operasi
pendadakan ini, pesawat segera diarahkan langsung kembali ke pangkalan
semula. Kadet Penerbang R.Moeljono baru mendaratkan pesawat Guntai-nya
pada urutan terakhir, setelah kedua pesawat Cureng Kadet Penerbang
Suharnoko Harbani dan Kadet Penerbang Soetardjo Sigit memasuki landasan
Pangkalan Udara Maguwo, karena misi Kadet Penerbang I R.Moeljono
mengambil jarak yang terjauh dibandingkan dua misi operasi udara yang
lain.
Pemboman Kota Salatiga
Setelah pesawat pembom Guntai
yang diterbangkan oleh Kadet Penerbang R.Moeljono berhasil tinggal
landas dan mengudara, maka segera Kadet Penerbang Soetardjo Sigit
mengambil posisi untuk bersiap-siap berangkat. Sinar Lampu sorot yang
sangat terang dan menyinari landasan dari ujung ke ujung, menjadi
pedoman dan arah dalam melaksanakan tinggal landas di pagi hari yang
gelap dan dingin itu. Pesawat terasa lebih berat, karena adanya muatan
tambahan dua bom masing-masing seberat 50 kg yang digantungkan pada
kedua sisi sayap dan beberapa buah bom bakar. Untuk itu diperlukan
kecepatan lepas landas yang lebih tinggi supaya lebih aman, sehingga
suatu sudut tanjakan tertentu dapat dipenuhi.
Disisi lain tanjakan
pesawat harus diusahakan jangan sampai terlampau terjal agar kecepatan
tidak berkurang dan mencapai stalling speed yang dapat mengakibatkan
pesawat jatuh. Pesawat berhasil naik dengan sempurna dan dapat mengatur
keseimbangan setelah pada ketinggian yang cukup. Kadet Penerbang
Soetardjo Sigit selaku flight leader membuat satu lingkaran untuk
memberi kesempatan waktu kepada wing man Kadet Penerbang Suharnoko
Harbani agar bergabung dalam formasi menuju ke sasaran.
Selain itu,
untuk menerbangkan pesawat jenis ini diperlukan suatu keuletan dan
keterampilan para penerbangnya, karena pesawat ini tidak dibekali lampu
penerangan dan radio sebagai sarana perhubungan. Mereka hanya dibekali
lampu senter saja dengan isyarat-isyarat tertentu yang diperlukan untuk
berhubungan. Sehingga usaha Kadet Penerbang Soetardjo Sigit untuk
memberikan kesempatan kepada wing man Kadet Penerbang Suharnoko Harbani
supaya mengikutinya tidak berhasil. Dalam kegelapan di pagi buta
tersebut dengan menyalakan lampu senter yang dipegangnya, Kadet
Penerbang Soetardjo Sigit mencoba mengarahkan sinarnya ke segala penjuru
sekelilingnya dengan harapan dapat dilihat oleh rekannya. Ternyata
Kadet Penerbang Suharnoko Harbani tidak mengikutinya. Setelah jelas
tidak ada pesawat yang mengikutinya, maka Kadet Penerbang Soetardjo
Sigit mengambil keputusan untuk melaksanakan misi operasi ini secara
sendirian, meskipun hal tersebut berarti bertambahnya resiko, karena
tidak adanya wing man menyebabkan pula tidak adanya senjata penangkis
bila diserang pesawat musuh, sebab pesawat Kadet Penerbang Soetardjo
Sigit tidak dilengkapi dengan senapan mesin penangkis serangan musuh.
Sama halnya dengan pesawat Guntei, setelah take off, pesawat Cureng
juga membuat gerakan dogleging, yaitu mula-mula terbang lurus ke arah
timur untuk beberapa menit, baru kemudian membelok ke kiri dalam jumlah
derajat tertentu kemudian menuju ke arah sasaran, setelah dijalani
beberapa menit akan sampai pada sasaran kota Salatiga, gerakan ini di
maksudkan untuk menghindari kota Boyolali.
Siasat pendadakan di
Salatiga cukup berhasil, karena setelah sampai diatas kota Salatiga,
lampu-lampu listrik masih menyala, tetapi kelihatan sepi. Seperti juga
operasi udara di kota Semarang, Belanda sama sekali tidak menyangka dan
memperkirakan kemampuan RI untuk mengadakan serangan balas ke Salatiga.
Sesuai petunjuk sebelumnya, sasaran yang dituju ialah daerah di sebelah
utara kota Salatiga, yang diperkirakan sebagai pusat kekuatan militer
Belanda. Untuk mengorientasi sasaran, Kadet Penerbang Soetardjo Sigit
membuat satu kali putaran, setelah sasaran yang diinginkan sudah ampak,
yang disebut dalam pengarahan dan dikatakan sebagai Markas Militer
Belanda, ia segera membuat bombing run yang pertama.
Di dalam
pesawat ada tiga tangkai pegangan (handle) kayu yang berturut-turut dari
kiri ke kanan yaitu berwarna merah, kuning dan hijau. Ia menukikkan
pesawatnya menuju sasaran kemudian menarik handle yang merah untuk
melepaskan bom di bawah sayap sebelah kiri, pesawat oleng ke kanan,
karena terganggu keseimbangannya. Sekejap api menyembur jauh di belakang
bawah yang disusul dengan suara ledakan bom yang dijatuhkan.
Dengan
menjaga keseimbangan pesawatnya, Kadet Penerbang Soetardjo Sigit
bermaksud membuat bombing run yang kedua. Ia menarik handle yag berwarna
Hijau untuk melepaskan bom sebelah kanan, namun gagal karena tangkai
pegangan patah. Serangan berikutnya ditempuh dengan cara menukikkan
kembali pesawatnya, akan tetapi gagal juga, karena handle yang di tengah
berwarna kuning ketika ditarik juga patah. Handle yang berwarna kuning
tersebut berfungsi untuk melepaskan kedua buah bom sebelah kiri dan
kanan sekaligus. Usaha ketiga kalinya ini ternyata gagal lagi, sedangkan
bom masih tetap tergantung dan tidak terlepas.
Kadet Penerbang
Soetardjo Sigit tetap berusaha untuk melepaskan bom yang tersisa dan
masih tergantung di bawah sayap sebelah kanan dengan cara menarik kabel
yang terkait dengan bom agar dapat terlepas. Tetapi untuk ini diperlukan
usaha khusus tanpa mengurangi kemampuan mengendalikan pesawat, apalagi
saat itu berada di atas wilayah musuh, yang sewaktu-waktu dapat
menembaknya. Untuk menarik kabel, Kadet Penerbang Soetardjo Sigit harus
menundukkan kepala serendah-rendahnya, sehingga tidak dapat memandang ke
luar cockpit. Ketiga kabel tersebut akhirnya berhasil diraih dengan
tangan kirinya sambil tangan kanannya mengendalikan kemudi pesawat.
Dengan menahan napas ditariknya kuat-kuat ketiga kabel tersebut dan
akhimya berhasil juga.
Hari mulai terang matahari sudah mulai
memancarkan cahayanya di cakrawala timur, tiba-tiba ia teringat bahwa
juru tembaknya masih membawa bom bakar satu peti penuh. Dibuatnya satu
puteran terbang lagi sambil memberi isyarat kepada juru tembak yang kini
menjadi juru bom untuk siap-siap melemparkan bomnya. Ia memberi isyarat
agar bomnya dilemparkan, supaya pasti dapat meledak kunci pengamannya
harus dibuka satu persatu.
Pemboman Kota Ambarawa
Pada
rencana operasi yang telah digariskan sebelumnya, bahwa untuk menyerang
Salatiga disiapkan dua buah pesawat Cureng. Sebagai pimpinan misi
ditunjuk Kadet Penerbang Soetardjo Sigit, sedangkan Kadet Penerbang
Suharnoko Harbani bertindak sebagai wing man. Tetapi rencana ini harus
juga mengalami perubahan karena beberapa faktor dan situasi yang terjadi
di medan operasi.
Setelah Kadet Penerbang Suharnoko Harbani tinggal
landas dengan mengikuti prosedur keberangkatan pesawat-pesawat
sebelumnya, mulailah timbul masalah, Kadet Penerbang Suharnoko Harbani
telah keliru membututi sinar api yang keluar dari mesin pesawat Guntai
yang diterbangkan oleh Kadet Mulyono, karena mengira pesawat tersebut
adalah Cureng yang diterbangkan oleh Kadet Penerbang Soetardjo Sigit.
Tanpa ragu-ragu Kadet Penerbang Suharnoko Harbani mengejar tanda
tersebut, tetapi ternyata makin lama makin jauh ketinggalan dan akhirnya
tidak keihatan lagi. Hal ini memang sudah sewajarnya, karena kecepatan
pesawat Guntai lebih tinggi dari pesawat Cureng, maka pesawat Guntai
diberi tugas beroperasi di daerah sasaran yang lebih jauh, yaitu kota
Semarang.
Setelah kehilangan sinar api pesawat Guntai, dan tidak
berhasil menemukan pesawat Cureng Kadet Penerbang Soetardjo Sigit. Kadet
Penerbang Suharnoko Harbani segera berusaha menentukan posisi
pesawatnya, mengingat keterbatasan kemampuan dan waktu operasi yang akan
dilaksanakan. Saat-saat kritis yang perlu segera diatasi tiba-tiba dia
melihat sebuah danau dari kota di dekatnya. Dia segera menganalisanya
dan menarik suatu kesimpulan bahwa kota tersebut adalah Ambarawa, yang
berdekatan dengan Rawapening. Dengan cepat Ia memutuskan untuk memilih
kota Ambarawa sebagai sasarannya, karena kota tersebut juga telah
diduduki Belanda.
Kota Ambarawa tidak termasuk dalam rencana
operasi, memang bukan sasaran yang direncanakan semula. Setelah yakin
bahwa daerah yang dilaluinya merupakan daerah kekuasaan lawan, dia
kemudian tidak ragu-ragu lagi memulai serangan udara. Ketinggian pesawat
mencapai kurang lebih 3.000 kaki ke atas untuk sekedar mengadakan
terbang keliling sambil mengamati sasaran yang akan dituju. Setelah
mendekati sasaran, pesawat kemudian menukik ke bawah kemudian melepaskan
bom secepatnya. Setelah itu harus terbang serendah-rendahnya untuk
mengelakkan kemungkinan serangan lawan, yang bisa saja saat itu telah
mengetahui keberadaanya.
Setelah selesai melaksanakan serangan udara
di atas kota Ambarawa, segera diputuskan untuk kembali ke pangkalan
semula. Sementara itu timbul keraguan sejenak, rute mana yang akan
dipakai/diambil untuk perjalanan kembali tersebut. Meskipun dari
Ambarawa dapat ditempuh langsung ke arah selatan sehingga dapat
memperpendek jarak untuk tujuan Maguwo, Yogyakarta. Namun pertimbangan
lain lebih memastikan, ialah bahwa Pimpinan Operasi telah menekankan
agar rute penerbangan kembali sama dengan ketika pemberangkatannya.
Tampak faktor keamanan menjadi bahan pertimbangan penting sehingga hal
ini perlu ditegaskan lagi sebelum operasi dilaksanakan.
Dengan
demikian maka pesawat kembali melalui rute semula, yaitu menuju arah
antara Boyolali dengan danau di Panasan, baru kemudian menuju ke Maguwo.
Walaupun mempunyai rute alternatif melalui Magelang tetapi tidak
dipilihnya karena daerah tersebut lebih sulit kondisi geografi dan
cuacanya.
Tindakan berani dari penerbang-penerbang RI dalam memberi
serangan balas sungguh mengagumkan. Lebih-lebih jika diingat bahwa tugas
penerbangan semacam itu baru pertama kali mereka lakukan. Apalagi kalau
mengingat keadaan pesawat yang serba terbatas kondisinya. Meskipun
Taktis dan strategi serangan itu tidak menimbulkan kerugian besar bagi
Belanda, namun serangan itu memberi pengaruh besar terhadap situasi dan
kondisi saat itu, karena sejak itu Belanda melakukan penggelapan
penerangan pada malam hari di seluruh Jawa Tengah.
Bahkan kejadian
yang ditimbulkan atas keberhasilan operasi udara ini, telah menarik
perhatian opini dunia luar. Radio Singapura telah menyiarkan kejadian
tersebut sebagai berita penting (Head Line) dalam acara siarannya dan
disebutkan mungkin sebagai kegiatan yang pertama dilakukan oleh Angkatan
Udara Republik Indonesia. Pokok acara yang disiarkan oleh radio
Singapura tersebut adalah, bahwa AURI telah menyerang pertahanan Belanda
di Semarang dan Salatiga.
R. Muljono (tengah) nomor tiga dari kanan
(Dari kiri ke kanan : Sutardjo, Dulrachman, Kaput, Muljono, Sutardjo Sigit, Suharnoko Harbani)
Pesawat Guntei
JEJAK PESAWAT PERTAMA TNI AU: P-51 MUSTANG, Si Cocor Merah
Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 merupakan titik
kulminasi dari perjuangan bangsa Indonesia, yang berarti bahwa sejak
saat itu bangsa Indonesia telah menjadi negara yang berdaulat dan bebas
menentukan nasibnya sendiri dalam suatu kerangka Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Namun pernyataan kemerdekaan yang
diproklamirkan tersebut, bukanlah akhir dari perjuangan bangsa
Indonesia, karena Kolonial Belanda baru mengakui kedaulatan Negara
Indonesia pada 27 Desember 1949 sebagai tindak lanjut dari keputusan
Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haaq, Belanda tanggal 23 Agustus – 2
November 1949 yang memaksa Pemerintah Belanda mengakui kedaulatan
Republik Indonesia Serikat (RIS). Pengakuan kedaulatan ini kemudian
ditandai dengan penyerahan kekuasaan, baik sipil maupun militer kepada
bangsa Indonesia. Salah satu fasilitas militer yang diserahkan adalah
penyerahan pangkalan-pangkalan udara beserta fasilitasnya, yang
dilaksanakan secara bertahap dan sebagai puncaknya adalah penyerahan
Markas Besar Penerbangan Militer Belanda atau Hoofd Kwartier Militaire
Luchtvaart (HKML) di Jalan Merdeka Barat Nomor 8 Jakarta Pusat kepada
Angkatan Udara Republik Indonesia Serikat (AURIS) tanggal 27 Juni 1950.
Dengan telah diserahkannya seluruh fasilitas Militaire Luchtvaart (ML)
kepada Pemerintah Indonesia, maka sejak saat itu AURI sudah memiliki
kekuatan udara dengan berbagai macam jenis pesawat, diantaranya adalah
pesawat tempur P-51D Mustang buatan Amerika Serikat, yang kemudian
melalui Surat Keputusan KSAU Nomor 28/II/KS/51 tanggal 21 Maret 1951,
P-51 Mustang ditempatkan di Skadron 3 Pemburu Pangkalan Udara Cililitan,
Jakarta dan selanjutnya dipindahkan ke Lanud Abdulrachman Saleh, Malang
pada 17 Juli 1962 dibawah Wing Operasional 002 Taktis.
P-51
Mustang adalah pesawat buru sergap jarak jauh yang sangat handal pada
era perang dunia ke dua. Mustang menjadi satu-satunya pesawat tempur
yang mampu melangsungkan serangan secara mandiri maupun melaksanakan
tugas pengawalan terhadap pesawat pengebom. Karena kehandalannya,
Mustang diproduksi ribuan dan digunakan oleh banyak angkatan udara,
termasuk Indonesia. Meskipun saat itu Indonesia menerima Mustang sebagai
hibah dari Belanda, namun Mustang telah menjadi tulang punggung AURI
dalam menjalankan berbagai operasi militer diwilayah NKRI, bahkan
mustang digunakan Indonesia untuk melawan Belanda dan sekutunya
dikemudian hari.
Untuk mengawaki pesawat P-51D Mustang yang
diserahkan tersebut, AURI mendatangkan para instruktur dari negara asal
pesawat maupun instruktur-instruktur yang sebelumnya merupakan personel
Militaire Luchtvaart. Latihan yang dilaksanakan berupa penembakan udara
ke darat dan dari udara ke udara, dengan menggunakan peralatan seadanya.
Melalui latihan yang terus dilakukan, maka kemampuan dan keterampilan
para penerbang tempur AURI semakin meningkat, sehingga mampu membentuk
satu tim aerobatik dengan menggunakan pesawat tempur P-51D Mustang.
Pembentukan tim aerobatik TNI Angkatan Udara yang pertama ini berawal
dari latihan formasi pesawat yang dibimbing oleh salah satu instruktur
penerbang dari Amerika Serikat bernama Leo Nooms. Latihan yang diberikan
adalah Red Race, kemudian formasi String, yaitu terbang berurutan lurus
ke belakang, dengan instruktur di depan dan diikuti oleh penerbang di
belakangnya. Latihan ini dilakukan secara berulang-ulang sampai tingkat
mahir.
Kemudian dilanjutkan latihan terbang formasi dengan dua
pesawat, tiga sampai empat pesawat, dengan masing-masing pesawat saling
berdekatan untuk melakukan gerakan bersama. Semua latihan yang
dilaksanakan dapat berjalan dengan sempurna, sehingga mendorong Leo
Wattimena, Roesmin Noerjadin, Ignatius Dewanto, R.Moeljono, Hadi Sapandi
dan Pracoyo, untuk membentuk tim aerobatik kebanggaan AURI pada waktu
itu.
Tim aerobatik P-51D Mustang berlatih disela-sela kegiatan
operasi, sehingga tim ini tidak pernah muncul di depan publik, dan
sangat disayangkan salah satu penerbangnya yaitu R.Moeljono, gugur dalam
kecelakaan aerobatik di Surabaya dalam rangka atraksi di Kota Surabaya
pada 12 April 1951 selanjutnya jasadnya dikebumikan di Surabaya.
Meskipun tim aerobatik P-51D Mustang tidak pernah tampil di depan umum
dan tidak memiliki nama khusus seperti tim-tim aerobatik TNI Angkatan
Udara lainnya, namun tim ini telah menjadi inspirasi bagi
penerbang-penerbang AURI berikutnya untuk membentuk tim aerobatik
sejenis, sehingga tim aerobatik P-51D Mustang dapat dikatakan sebagai
perintis atau the pioneer dari tim-tim aerobatik kebanggaan bangsa
Indonesia, khususnya TNI Angkatan Udara.
Kapten Udara Mulyono
adalah putra Indonesia kelahiran Pare, Kediri pada tanggal 13 Maret
1923, semasa hidupnya ia pernah bekerja pada jawatan kereta api Madiun
sebagai Hoofdmachinist di zaman Belanda sampai Zaman Jepang ( tahun
1942-1945).
Setelah menyelesaikan pendidikan H.I.S pada tahun
1936, kemudian melanjutkan pada K.E.S sebuah Sekolah Tehnik Belanda di
Surabaya selesai tahun 1941. Setelah tamat K.E.S Muljono masuk M.L.D. (
Dinas Militer Belanda) di Surabaya dengan pangkat Letnan I Vliegtuig
maker.
Pengabdian Muljono di AURI diawali di Sekolah Penerbang
Yogjakarta yang di buka tanggal 15 November 1945. Ketika masuk sekolah
penerbang ia sebagai Kadet, ia diberi pangkat Kadet Udara II. Setelah
menyelesaikan pendidikan penerbang tahun 1947 ia ditempatkan di
Pangkalan Udara Maospati Madiun dengan pangkat Opsir Udara III (
setingkat Kapten sekarang).
Kapten Udara Muljono gugur dalam
suatu kecelakaan pesawat yang dipilotinya yakni pesawat Mustang F-340,
hari itu Kamis tanggal 12 April 1951 menjelang senja kira-kira pukul
17.30. Kecelakaan terjadi di Surabaya tepatnya di desa Kedung Klinter,
ketika AURI sedang mengadakan penerbangan serta demontrasi keliling jawa
tepat pada ulang tahunnya ke lima. Jenazah Muljono dimakamkan di Taman
Bahagia Surabaya.
Guna mengabadikan nama almarhum maka pada
tanggal 16 Agustus 1952 di PAU Medan diresmikan Lapangan Olah Raga
dengan nama Muljono. Begitu pula untuk mengabadikan pengabdiannya
almarhum di AURI pada tanggal 7 Agustus 1982 di Lanud Iswahjudi telah
diresmikan sebuah mess dengan nama Muljono yang diresmikan oleh
Menhankam Pangab M. Yusuf.

Nama almarhum Kapten Udara Muljono juga diabadikan sebagai nama Lanud
TNI AU di Surabaya. Mabes TNI AU melalui Surat Keputusan KSAU Nomor
KEP/708/VII/2018 yang
ditandatangani pada 11 Juli 2018, menginstruksikan perubahan 8
(delapan)
Pangakalan TNI Angkatan Udara/Lanud. Delapan lanud yang berubah nama itu
terdiri dari satu Lanud Tipe A, enam Lanud Tipe B, dan satu Lanud Tipe
C. Satu diantaranya Lanud Tipe B adalah Lanud Surabaya (SBY) dirubah
namanya menjadi Lanud Muljono (MUL). Penggantian nama Lanud merupakan
komitmen TNI AU dalam
menghargai jasa-jasa pahlawan kita, sehingga dapat memberikan kebanggaan
bagi keluarga pahlawan dan memotivasi semangat juang prajurit TNI AU
dalam melaksanakan tugas seperti yang disampaikan oleh Kepala Staf
Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E., M.M. pada saat
memimpin upacara serah terima jabatan dan pelantikan Komandan Lanud yang
naik tipe serta peresmian penggantian nama Lanud di Biak, Papua, Kamis,
26 Juli 2018.