Minggu, 14 Agustus 2022

Dr. dr. H. R. Soeharto Sastrosoeyoso (Dokter Pribadi Sang Proklamator Kemerdekaan RI)


Dr. dr. R.H. Soeharto Sastrosoeyoso (lahir di Tegalgondo, Klaten, Jawa Tengah, 24 Desember 1908 - meninggal di Jakarta, 30 November 2000 pada umur 91 tahun) adalah mantan menteri yang menjabat selama Demokrasi Terpimpin sejak 1959-1966, beliau adalah putra dari R. Sastro Soejoso, atau cucu dari R. Prawiro Soeparto, atau Cicit dari R Kyai Sosroredjo (Palang Dolopo & Mantri Bupati Madiun) bin R. Kyai Ageng Gajah Surengpati (Wedono Prajurit ing Madiun) bin R. Tirtosentiko I (Mantri Emban Kraton Jogyakarta) bin R. Tumenggung Kudonowarso (Patih & Penasihat Pangeran Sambernyowo / KGPAA Mangkunegoro I).


Pendidikan

· Europese Lagere School (ELS) Solo dan Madiun.

· Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Madiun, lulus 16 Mei 1925.

· Algemeene Middelbare School (AMS) B di Yogyakarta, lulus 16 Mei 1928.

· Fakultas Medica Bataviensis, Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta (STK); gelar Arts (dokter), tanggal 25 Mei 1935.

· Asisten STK sampai tanggal 1 Januari 1937; sore dan malamnya magang di polilinik umum dan klinik bersalin "Pasar Senen" di bawah pimpinan Dr. Tumbelaka, Insp. DVG dan para dokter senior yang menjalankan praktik kedokteran keluarga seperti dr. Latip, dr. Kayadu, dr. Tehupeiory dan dr. Sugiri.

· Meraih gelar ilmiah Medicinae Doctorem (Doctor) dari Fakultas Medica Bataviensis; gelar itu untuk pertama kalinya diberikan kepada alumnusnya (14 April 1937).


Pekerjaan

Sebelum Kemerdekaan s.d. Masa Demokrasi Liberal

· 1937-1942: menjalankan praktik kedokteran keluarga (huisarts), serta mendirikan dan mengelola klinik bersalin kecil di Kramat 128 pavilyun.

·  1942-1945: tetap menjalankan praktik; menjadi dokter pribadi Bung Karno dan Bung Hatta.

· Oleh Bung Karno diberi tugas memimpin bagian Kesehatan Poesat Tenaga Rakyat (POETERA), di bawah pimpinan Empat Serangkai, yaitu Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mansyur.

·  Oleh Bung Hatta, selaku Kepala Kantor Penasehat Gunseikanbu, ditugaskan memberikan pelayanan kesehatan kepada para calon pegawai dan pegawai Pangreh Praja se-Jawa yang sedang dilatih di Jakarta, serta memberikan pelayanan kesehatan kepada para abang beca, yang pada waktu itu di Jakarta berjumlah 6.000-7.000 orang.

· Dalam pengurus Fonds Kemerdekaan Indonesia (FKI) Pusat, yang dipimpin oleh Bung Hatta, didudukkan sebagai Bendahara kemudian Wakil Ketua.

· Sebagai dokter pribadi dan pembantu Dwi Tunggal mengikuti berbagai perjalanan, antaranya ke Bali untuk mengadakan pembicaraan dengan Laksamana Shibata di Singaraja; ke Dalat (Indo China) tatkala Bung Karno dan Bung Hatta dilantik oleh Marsekal Terauchi menjadi Ketua dan Wakil Ketua Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Menyaksikan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia; dan akhir Agustus 1945 dilantik sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat.

· Sebagai anggota Pengurus FKI Pusat diangkat menjadi anggota Pusat Bank Indonesia (Maklumat Pemerintah, 9 Oktober 1945).

· 1946-1948 (hijrah ke Yogyakarta).

· Diangkat menjadi Kepala Administrasi Pusat (AMP) Kementerian Pertahanan RI di Yogyakarta, dengan pangkat Mayor Jenderal merangkap dokter pribadi Presiden (sebelumnya adalah dokter pribadi Bung Karno dan Bung Hatta).

· Sejak pertengahan 1948 sampai akhir 1949 nonaktif karena lumpuh badan sebelah kiri dan dirawat oleh Prof. dr. Slamet Iman Santoso di RSCM.

· 1950: kembali bertugas sebagai dokter pribadi Presiden, sampai akhir 1966.

· 1950-1959

· Dengan SK Menteri Petahanan Ir. Djuanda diangkat menjadi anggota Staf Front Pembebasan Irian Barat, dengan pangkat Kolonel kehormatan (16 Agustus 1958).

· Pangkat ini kemudian dtingkatkan menjadi Brigjen TNI-AD, dengan SK Presiden No.137/M/1961, tanggal 14 Maret 1961, dan Mayjen Kehormatan TNI-AD, dengan SK Presiden No.144/AB-AD tahun 1964, tanggal 7 Agustus 1964, dan dilantik oleh Jenderal A. Yani pada tangga; 18 Agustus 1964.

· Sebagai dokter pribadi Presiden mengikuti beliau dalam kunjungan kenegaraan ke berbagai negara, dan dalam tahun 1955 menyertai beliau menunaikan ibadah haji.

· Sebagai dokter pribadi Presiden mengikuti ia dalam kunjungan kenegaraan ke berbagai negara, dan dalam tahun 1955 menyertai ia menunaikan ibadah haji.

 


Demokrasi Terpimpin

· Juli 1959 - Oktober 1966

·  Menteri Muda/Menteri/Menko dalam Kabinet Kerja dan Kabinet Dwikora resp.

·  Menteri Muda/Menteri Perindustrian Rakyat, 13 Juli 1959-5 Maret 1962.

·  Menteri Perdagangan, 6 Maret 1962-13 November 1963.

·  Menteri Urusan Perencanaan Pembangunan Nasional merangkap Urusan Penerbitan Bank dan Modal Swasta, 13 November 1963-1 Agustus 1964.

·  Menteri Koordinator Urusan Perencanaan Pembangunan Nasional, 27 Agustus 1964-25 Juli 1966, dengan catatan: antara 24 Februari-27 Maret 1966 ditugaskan sebagai Menko Keuangan.

· Pensiun sebagai Menteri dengan SK Presiden RI tanggal 3 Oktober 1966 No.56/Pens/Th.1966.

·  Mengikuti perjalanan Presiden ke seluruh pelosok tanah air dan ke berbagai negara di dunia, dan senantiasa diikutsertakan sebagai anggota delegasi yang langsung dipimpin oleh Presiden.

·  Dengan SK Presiden tanggal 23 Agustus 1967 No.127 Tahun 1967, diberhentikan dengan hormat sebagai anggota tim dokter-dokter pribadi Presiden.

·  Anggota MPRS, 1962-1967, dengan No. 209 C.

· Direktur Utama PT Department Store Sarinah, 1962-1967. Wakil bendahara Panitia Monumen Nasional dan Masjid Istiqlal. Ketua Panitia Penyusun naskah buku "20 Tahun Indonesia Merdeka" (ke-9 jilid buku ini sudah dapat diselesaikan).

· Memberi pengarahan pembuatan film "Indonesia Builds" (sudah selesai dibuat oleh Perusahaan Film Belanda Carillon Films).

 

Setelah Pensiun

Kembali menjalankan praktek dokter sampai tahun 1978 dan sejak pensiun dari kedokteran aktif dalam perkumpulan profesi dan organisasi sosial.

· Anggota Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 1980-1982.

· Salah seorang pembina Kelompok Studi Dokter Keluarga.

· Anggota Lions Club, antara lain dipilih sebagai District Governor 307 Lions Club International periode 1978-1979.

· Penasihat OISCA (Organization of Industrial, Social, Cultural Advancement) chapter Indonesia, yang berpusat di Jepang.

 

Penghargaan

Penghargaan yang diterima dari berbagai instansi, di antaranya:

1.   Pengangkatan oleh Panglima Divisi Siliwangi, pangkat Kapten Kehormatan dan cincin Siliwangi.

2.   Pernyataan terima kasih dari Inspektur Keuangan Angkatan Darat dalam memelopori pembentukan dan pembinaan Djawatan KUAD sejak 1945.

3.   Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I.

4.   Pengangkatan sebagai anggota Dewan Pleno Pusat Legiun Veteran RI pada tanggal 24 Januari 1967 (pada waktu itu belum mendaftarkan diri sebagai veteran).

5.   Surat penghargaan dari Direksi BNI 46, tanggal 5 Juli 1976.

6.   Surat pribadi dari Pak Dirman, tanggal 1 Desember 1949, yang sungguh-sungguh mengharukan hati.

7.   Berbagai bintang dari negara-negara lain, waktu menyertai Presiden dalam kunjungan kenegaraannya, di antaranya yang disenangi adalah bintang AQUILA AZTECA dari Presiden Mexico, dan diangkat menjadi warga kehormatan Aqapulco.

Dengan SK BAKN tanggal 25 Agustus 1982 No.115/BPN/KNIP/5/1982 diberi tunjangan kehormatan sebagai anggota KNIP.

 

Kegiatan dalam organisasi

Anggota Jong Java mulai murid MULO, AMS B, dan duduk dalam PB Jong Java yang terakhir. (1928).

·  Anggota Jong Islamieten Bond (1926-1928).

· Anggota Indonesia Muda (1929-1931).

· Anggota Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (1931-1936).

· Setelah menjadi dokter menggabungkan diri pada Parindra dan setelah 1945 anggota PNI.

· Waktu di Yogyakarta (1946-1948) duduk dalam Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada dengan susunan pengurusnya;

  • Ketua: Mr. Budiarto, Wakil Ketua: dr. Sukiman, Sekretaris: dr. Buntaran, Bendahara: dr. Soeharto, dengan anggota-anggotanya, antara lain: BPH Bintoro, H. Farid Ma'ruf, Mr. Mangunjudo, KRT Notojudo, KHP Nototaruno, Prof. Rooseno, Mr. Sunaryo, Dr. Priyono dan lain-lain.
  • Ketua Dewan Kurator adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Wakil Ketuanya adalah Ki Hadjar Dewantara.

 

· 1950 memprakarsai berdirinya Ikatan Dokter Indonesia sebagai fusi dari Perkumpulan Thabib Indonesia (ketua Dr. Rasyid) dan Perkumpulan Dokter Indonesia (dbp. dr. Darmasetiawan), dalam IDI, semula duduk dalam PB sebagai sekretaris dan kemudian beberapa kali sebagai ketua umum.

·  Anggota Dewan Ekonomi Indonesia Pusat (DEIP).

· Akhir 1957 memprakarsai berdirinya Perkumpulan Keluarga Berencana menjadi Ketua Pengurus pertama sampai akhirnya masuk dalam kabinet.

· Selaku Ketua Umum PB IDI hadir pada First World Conference on Medical Education (London 1953), memasukkan IDI dalam World Medical Association, waktu menghadiri General Assembly di Den Haag tahun 1953, mengetuai tim dokter ke RRC, tahun 1956, dan berpartisipasi dalam pendirian CMAAO (Confederation of Medical Associations in Asia and Oceania) di Manila; CMAAO ini, tahun 1981 mengadakan kongresnya yang ke XII di Seoul, Korea Selatan.

· Anggota Lions Club Jakarta Kebayoran sejak tahun 1971 sehingga sekarang, dan pernah memimpin organisasi Lions Indonesia sebagai District Governor 307 Lions Club International tahun 1978-1979. Pelantikannya berlangsung di Tokyo, Juni 1978.

· Dalam Muktamar IDI ke-XVIII, 19-21 Desember 1982 dipilih sebagai Ketua Dewan Penyantun, masa bhakti 1982-1985 dan sejak awal tahun 1984 oleh DPP PDI diangkat menjadi anggota Badan Penelitian dan Pengembangan Partai Demokrasi Indonesia.

 

Gelar Pahlawan Nasional dan Nama Jalan

Awal tahun 2022 Bupati Klaten Sri Mulyani menyatakan Pemkab Klaten mengusulkan nama R Soeharto untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional dari pemerintah pusat. R Soeharto merupakan tokoh kelahiran Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Klaten.

"Beliau ini (R Soeharto) menjadi dokter pribadinya Presiden RI pertama, Ir Soekarno. Jasa beliau sangat luar biasa," ungkap Bupati Klaten, Sri Mulyani kepada detikJateng.

Dijelaskan Sri Mulyani selain menjadi dokter pribadi Bung Karno, R Soeharto juga memiliki banyak ide pembangunan yang dipakai Bung Karno. Bahkan juga pernah mengemban beberapa jabatan penting.

"Gagasan beliau, ide beliau didengar Ir Soekarno. Pernah menjabat beberapa menteri, kapasitas sangat mumpuni, serta layak dan tokoh ini kelahiran Klaten sehingga kita ingin ada tokoh Klaten yang jadi pahlawan Nasional," imbuh Sri Mulyani.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten resmi menetapkan ruas jalan Gebyok-Jimbung dengan nama Jalan Dr. R. Soeharto. Penamaan tersebut merupakan bentuk apresiasi dan penghormatan kepada Dr. R. Soeharto.

Bupati Klaten, Sri Mulyani hadir secara langsung untuk meresmikan Jalan Dr. R. Soeharto di Aula Kantor Desa Jimbung, Kalikotes, Jumat (27/5/2022). Penamaan Jalan Dr. R. Soeharto termaktub dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Klaten Nomor 662/157 Tahun 2022 dan memiliki panjang 2,71 kilometer dari simpang empat Gebyok sampai dengan simpang tiga Rawa Jombor.

Peresmian Jalan Dr. R. Soeharto ditandai dengan pembukaan selubung papan nama jalan oleh Bupati Klaten. Acara tersebut turut dihadiri pihak keluarga almarhum Dr. R. Soeharto dan sekaligus menerima SK penamaan ruas jalan tersebut.

Dr. R. Soeharto adalah putra asli Klaten kelahiran Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari dan dikenal sebagai dokter pribadi Bung Karno dan Bung Hatta. Oleh Pemkab Klaten dan Pemprov Jawa Tengah, nama Dr. R. Soeharto diusulkan sebagai pahlawan nasional atas peran dan perjuangannya sejak berkiprah di Jong Islamieten Bond, menjadi pengurus besar Jong Java mengikuti Kongres Pemuda II (yang melahirkan Sumpah Pemuda). Perannya juga tercatat di Pusat Tenaga Rakyat dan peristiwa-peristiwa penting dan krusial sebelum dan pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, serta perannya dalam pendirian berbagai institusi penting negara.

Bupati Klaten Sri Mulyani mengatakan selain apresiasi, penamaan jalan ini juga sebagai bentuk upaya Pemkab Klaten untuk mendukung pengusulan gelar pahlawan nasional. Sehingga Dr. R. Soeharto dikenal luas oleh masyarakat, khususnya warga Klaten.

“Salah satu persyaratan pengusulan pahlawan nasional adalah namanya telah diabadikan melalui sarana monumental di daerah asal sehingga dapat dikenal oleh masyarakat luas dan Almarhum Bapak DR R Soeharto ini putra asli Klaten yang lahir di Desa Tegalgondo, calon pahlawan nasional pertama dari Klaten,” ungkapnya.

Adapun pemilihan ruas jalan tersebut dengan nama Dr. R. Soeharto yakni karena ruas jalan tersebut merupakan sambungan dari Jalan Ir. Soekarno yang telah diresmikan Pemkab Klaten sebelumnya. Perwakilan pihak keluarga, Dewi Kamaratih Soeharto menyampaikan letak ruas jalan tersebut menggambarkan kedekatan ayahanda dengan pemimpin bangsa sekaligus sahabat seperjuangan, Bung Karno.

“Melalui acara ini, kami berharap bisa menjadi bagian dari pembangunan Kabupaten Klaten, seperti nasehat Romo Dr. R. Soeharto kepada anak-anaknya agar menjadi manusia berguna, yang senang berbuat kebaikan, saling menasehati dengan kebenaran, serta bermanfaat bagi banyak orang,” paparnya.


Referensi

· Tautan Rahadian, Arief. "Mengenal Dr. R Soeharto, Sang "Bapak" PKBI". Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia. Diakses tanggal 16 November 2019.

·  Tautan Wikipedia Bahasa Indonesia, Soeharto Sastrosoeyoso.

· Artikel detik Jateng, Mengenal R Soeharto, Dokter Pribadi Bung Karno Asal Tegalgondo Klaten. Buku Saksi Sejarah, DR. R. Soeharto (1984). Jakarta, PT Gunung Agung.

·  Artikel Website Pemkab Klaten, Ruas Jalan Gebyok-Jimbung Resmi Dinamai Jalan Dr.R.Soeharto

·  Buku Saksi Sejarah, DR. R. Soeharto (1984). Jakarta, PT Gunung Agung.




 


Senin, 31 Januari 2022

CERITA SEDIKIT DIBALIK EDARNYA BUKU KISAH BRANG WETAN









Cover Buku Kisah Brang Wetan


Buku Kisah Brang Wetan yang telah diterjemahkan oleh Karsono Hardjoseputro adalah buku yang berdasarkan Babad Alit karya (NN) dan Babadé Nagara Patjitan adalah karya Eyang Gandaatmadja (membacanya: Gondoatmodjo), beliau Eyang Gondoatmodjo bukan hanya menyajikan sejarah Ponorogo dan Pacitan, melainkan juga seluruh sejarah Madiun Raya bahkan sampai ke Surakarta, Trenggalek, Kediri, hingga Pajajaran di Jawa bagian barat. Kedua babad, Babad Alit (NN, 1911) dan Babadé Nagara Patjitan (Gandaatmadja, 1924), belum banyak dikenal. Dalam berbagai tulisan yang mengulas sejarah wilayah Brang Wétan (kini Jawa Timur), kedua babad ini belum dijadikan sumber rujukan. Tampaknya, sebelum sempat dibaca banyak orang, kedua babad telah berpindah ke luar negeri dan menjadi bagian dari Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda. Kini, keduanya telah “pulang kampung”, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan menjadi satu buku.

Terjemahan tersebut juga disertai lampiran berupa catatan harian kapal Belanda, Pollux, yang sempat membuang sauh di Pacitan pada masa Perang Jawa. Dengan demikian, pembaca dapat dengan mudah menguji keandalan teks-teks babad tradisional dengan sumber Eropa seperti ini. Perkembangan penelitian sejarah kiwari (majalah kebudayaan berbahasa sunda) telah menunjukkan bahwa historiografi tradisional seperti babad juga mengandung informasi penting, sehingga sejarah setempat dapat ditulis dengan lengkap. Karena itu, kehadiran buku ini diharapkan membuka kesempatan bagi sejarawan dan masyarakat luas untuk merangkai kembali sejarah Madiun Raya yang lebih lengkap.

Kegemaran Eyang Gondoatmodjo dalam menulis buku tidaklah diragukan, selain informasi yang berharga dari Dik Akhlis Syamsal Qomar saat kami bertemu di Dolopo, waktu itu saat sowan ke nDalem Eyang Gondoatmodjo kami mendapatkan informasi bahwa di nDalem (Rumah) beliau terdapat tempat berupa bak berdinding untuk mencuci kulit lembu yang disinyalir sebagai bahan untuk membuat sampul buku, juga terdapat peninggalan Eyang Gondoatmodjo berupa dua poster lukisan cetakan terbitan Bale Pustaka, atau lebih tepatnya Lampiran dari Majalah KADJAWAN Wedalan Bale Poestaka, dan lalu terdapat sebuah kamar yang diatas pintunya bertuliskan huruf aksara Jawa "Panti Panurat 1934" (artinya : Tempat Menulis 1934) yang kemungkinan tempat itu selesai dibangun tahun 1934, dan selain bukti-bukti tadi ialah Ayahanda beliau sendiri, ibarat peribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, yang mana Ayahanda beliau yaitu Eyang R.Gondowerdoyo juga seorang penulis babad, selain menulis babad Gajah Surengpaten dan babad Sewulan yang kini belum diketemukan keberadaannya, beliau menulis Babad Madja dan Babad Nglorog yang pernah dicetak oleh Bale Pustaka Batavia Centrum tahun 1935, konon buku babad tersebut ternyata sampai detik ini masih ada yang tersisa dan menjadi buku terlangka koleksi Perpustakan Universitas Gajah Mada (UGM), dengan No. Inventaris 17/3115 Pus/T/H/0.1 Klas 959.828 yang dihibahkan oleh Ir. Koko Widayatmoko pada tahun 2016.

Bagi saya pribadi sangatlah mengharukan yang mana foto sebuah lukisan diri Eyang Gandaatmadja (Gondoatmodjo) sang penulis naskah Babade Nagara Patjitan disertakan didalam halaman buku Kisah Brang Wétan, lukisan diri beliau tersebut saya potret ulang dengan sebuah Digital Camera di dalam nDalem Eyang Gondoatmodjo, dan tentunya atas seijin Mbak Atik kerabat saya Trah Sosroredjan, Sewulan, & Prawirodirdjan yang kini mendiami nDalem Eyang Gondoatmodjo. Dan hal ini tentunya adalah peran Dik Akhlis Syamsal Qomar yang juga selaku asisten Prof. Peter Carey. Sekiranya kini suwargi Eyangpuh (Eyang Sepuh) Buyut Gondoatmojo juga turut bergembira atas usaha-usaha para akademis sejarawan yang bergerak dibidangnya untuk mengangkat karya tulisan beliau, demi pengetahuan sejarah Indonesia. Al-Fatihah.


             Lukisan wajah diri Eyang R. Gondoatmodjo terdapat diatas Pintu di dalam nDalem beliau          

  
                    

   

 Bak berdinding tempat untuk mencuci Kulit

   

 Panti Panurat 1934 (Tempat menulis)

 

 

 

 

 

 

 

 


Kamis, 29 Oktober 2020

R. NYAI SOSROREDJO (R. NYAI MUDJILAH)

R.Nyai Sosroredjo (R. Nyai Mudjilah)

Eyang putri R.Nyai Sosroredjo memiliki nama asli R.Nyai Mudjilah, beliau adalah garwo (istri) dari R.Kyai Sosroredjo, Eyang putri R.Nyai Sosroredjo sendiri berasal dari Sewulan-Kabupaten Madiun dan setelah menikah mengikuti sang suami yang telah babad alas di Dolopo untuk membuka beberapa lahan pertanian, perkebunan, dan pemukiman masyarakat Dolopo. Keseharian Eyang Putri yaitu mendampingi Eyang R.Kyai Sosroredjo sebagai seorang Palang Dolopo (waktu itu belum ada istilah Camat) dimana seorang Palang membawahi beberapa Demang di seluruh wilayah Dolopo dan lalu sebagai Mantri Bupati Madiun 3 (tiga) tahun lamanya pada jaman Bupati Madiun dipegang oleh R.Mas Tumenggung Adipati Sosronagoro, dan selepas itu menjalani kesehariannya sebagai seorang Petani dengan dibantu dua orang abdinya.

Berdasarkan solosilah keluarga kami, beliau adalah putri bungsu dari Patih Madiun yaitu R.Sosrodirdjo pada masa Bupati Kanjeng Pangeran Adipati Ronggo Ario Prawirodiningrat. R. Sosrodirdjo adalah putra R. Kyai Muhammad Santri yang menikah dengan putri dari Kyai Ageng Basyariyah alias R.Mas Bagus Harun (babad desa dan pemimpin Desa Perdikan Sewulan) yang masih keturunan R. Ayu Retno Dumilah (garwo Panembahan Senopati Mataram) putri Bupati Madiun ke-1 yaitu Pangeran Timoer. Sang Ayah menjadi Patih Madiun pada 
masa Bupati R. Ronggo Ario Prawirodiningrat putra dari R. Ronggo Prawirodirdjo III.


Dan berdasarkan solosilah keluarga besar Prawirodirdjan Madiun, dari jalur Ibunda beliau Eyang putri R.Nyai Sosroredjo sebetulnya masih berpangkal dari keturunan Bupati Madiun ke-15 & Wedana Bupati Mancanegara Timur wilayah Madiun bawah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yaitu R. Ronggo Mangundirdjo (R. Ronggo Prawirodirdjo II) dan Bupati Rajegwesi/ Bupati Bojonegoro Kanjeng R. Tumenggung Sosrodiningrat. Jadi sudah jelas beliau ini terhitung sebagai salah satu Cucu Canggah (Canggah Dalem atau Canggah Sultan) dari dua jalur yang sama-sama berhulu sampai dengan Kanjeng Sultan Hamengku Buwono I (HB I) Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Yang mana garwo Bupati Madiun R. Ronggo Mangundirdjo yang bernama BRAy. Ronggo Mangundirdjo HB I dan garwo Bupati Rajegwesi Kanjeng R. Tumenggung Sosrodiningrat bernama BRAy. Sosrodiningrat HB I. Berdasarkan Serat Raja Putra Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang mana Kanjeng Sultan HB I memiliki kedua putri tersebut dari garwo Klangenan (garwo selir) yaitu  BRAy. Srenggoro dan BMAy. Mindoko, yang mana BRAy. Srenggoro yaitu Ibunda dari
BRAy. Ronggo Mangundirdjo HB I, dan BMAy. Mindoko adalah Ibunda dari BRAy. Sosrodiningrat HB I.

Jadi tidak mengherankan apabila keturunan beliau dimasa Indonesia telah Merdeka ada yang sebagai pejuang pahlawan Kemerdekaan Indonesia, ada yang menjabat sebagai Bupati Nganjuk, menjadi Bupati Bekasi, menjadi Wedana dan rata-rata sebagai insan Manusia yang bermanfaat berguna bagi alam dan sekitarnya. Tekad dan perjuangan para leluhur sebagai suri tauladan untuk melangkah kedepan agar segala perilaku para keturunan selalu bisa mawas diri sesuai kapasitasnya masing-masing yang sudah digariskan oleh Allah SWT.

Disebutkan dalam Warta Sosroredjan bahwa Eyang Putri R.Nyai Sosroredjo sangat tekun beribadah dan bekerja keras mendampingi sang suami dalam menghidupi putra-putrinya sebanyak 9 (sembilan) orang, kesemuanya telah berhasil yang putra-putra ada yang sebagai Asisten Wedana,
Onder Collectour, Guru, Mantri Guru, dan yang putri-putri sebagai istri dari Mantri Gudang Kopi, Sipir, dan Guru. Eyang Putri R.Nyai Sosroredjo sangat gemar menolong orang, bahkan seorang wanita yang buta sekalipun beliau tolong diberikan pekerjaan dan diberi upah.

Setelah beliau wafat beliau dimakamkan berdampingan disebelah makam Eyang R. Kyai Sosroredjo di Dolopo.

Minggu, 27 September 2020

PENULIS BABAD PACITAN TERNYATA ADALAH ORANG DOLOPO YAITU R.Ng.GONDOWARDOYO, PUTRA no. 4 R.Kyai SOSROREDJO






Beberapa bulan yang lalu saya bersama seorang Sejarawan Muda yang masih saudara kita sesama Trah Eyang R.Ronggo Prawirodirdjo II yaitu Akhlis Syamsal Qomar, kami melakukan riset penelitian sejarah di Dolopo, tepatnya di Sosroredjan JL. Asem Payung, Desa Dolopo, Kec. Dolopo ranah Eyang R.Kyai Sosroredjo, beberapa lokasi situs bersejarah kami kunjungi yaitu pesarean keluarga besar Sosroredjan, di situs tersebut terdapat pesarean Eyang Canggah R. Ngabei Gondowardoyo, nama sosok tersebut ternyata mengingatkan saudara kita Sejarawan tadi yaitu Akhlis Syamsal Qomar akan sesuatu nama yaitu Gondoatmodjo dan Gandawardaja penulis Babad Pacitan. Beliau bertanya kepada saya Mas Brahm, Eyang Gondowardoyo apa penulis babad?

Pertanyaan Dik Akhlis Syamsal Qomar membuat saya bertanya dalam hati pada saat kami berdua menuju Pesarean Ageng, namun pertanyaan itu sebisa mungkin saya bantu untuk menguraikan, seketika wajah Eyang Gondowardoyo hadir dalam benakku, setahuku Eyang Gondowardoyo dulu memiliki seorang garwo selir yang berasal dari Pacitan, dan Eyang Gondowardoyo setahuku beliau juga penulis babad Gajah Surengpaten dan babad Sewulan, namun sayangnya manuskrib bersejarah itu tidak sisa sama sekali atau mungkin masih disimpan oleh sederek lain, beberapa kutipan mengenai babad Gajah Surengpaten hanya saya temui didalam buku Saksi Sejarah tulisan dr. R Soeharto. 

Setelah kami sowan ke Pesarean Ageng Eyang R. Kyai Sosroredjo dan Pesarean Gajahan yaitu Pesarean Eyang Putri R.Nyai Gajah Surengpati, kami kembali menuju ke ndalem Pak Puh Mul seorang keturunan Sosroredjan, kami berbincang cukup lama, dan kami banyak mendapatkan cerita-cerita dari beliau, lajeng Dik Akhlis Syamsal Qomar melontarkan sebuah pertanyaan kepada Pak Puh Mul, “Gondowardoyo punika menopo penulis Babad Pacitan? lajeng apa kaitannya dengan Gondoatmojo?” Lalu Pak Puh menjawab Eyang Gondowardoyo dulu seorang Guru di Pacitan dan pernah menjadi Collecteur di Ponorogo, Gondoatmojo menika putra mbajengipun Eyang Gondowardoyo...” Subhanallah...kami terkejut dan kami merasa mendapat energi, beberapa pertanyaan tentang leluhur seakan-akan terbuka satu persatu, ternyata Eyang Gondowardoyo adalah seorang pengarang atau penulis Buku Babad Pacitan.

Beberapa hari kemudian Dik Akhlis mengusahakan untuk memesan buku Babad Pacitan cetakan penerbit Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB), Dalam buku babad Pacitan tersebut ternyata juga terdapat Babad Madja dan Babad Nglorog yang mana Eyang Gondoatmojo putra Eyang Gondowardoyo juga menyalin ulang karya Ramandanya tersebut, dan yang lebih membuat kami terkejut pada saat membaca buku tersebut adalah cerita menyingkirnya Kyai Kaliyah (Guru Spiritual Eyang R. Ronggo Prawirodirdjo III) dari Mas Tumenggung Jimat (Kanjeng Jimat di Pacitan). Buku Babad Madja dan Babad Nglorog bagian dari Babad Pacitan ternyata dikarang dan ditulis oleh R. Gandawardaja yang tak lain adalah Eyang R. Ngabei Gondowardoyo atau Gondowerdoyo, dahulu pertama kali dicetak oleh Bale Pustaka Batavia Centrum dan diterbitkan tahun 1935 serie No. 1210, buku Babad ini berisi keberadaan sejarah lokal dari daerah-daerah wilayah Kabupaten Pacitan Jawa Timur sekarang atau Sejarah lokal Babad Tanah Wengker Kidul yaitu Pacitan itu sendiri.

Buku Babad Madja dan Babad Nglorog cetakan Bale Pustaka Batavia Centrum tahun 1935 ternyata sampai detik ini masih ada yang tersisa dan menjadi buku terlangka koleksi Perpustakan Universitas Gajah Mada (UGM), dengan No. Inventaris 17/3115 Pus/T/H/0.1 Klas 959.828 yang dihibahkan oleh Ir. Koko Widayatmoko pada tahun 2016. Dan kemungkinan Buku babad tersebut juga menjadi bahan sumber penulisan ulang menjadi sebuah buku Babad Kalak (Babad Madja dan Babad Nglorog) yang dimiliki sesepuh di Kalak-Pacitan, dan ada juga yang menulis ulang seperti yang dilakukan Muakibatul Hasanah dan Aik Fela,S.Pd untuk dikaji dan diteliti kebenarannya, dan ada juga seorang akademis yang mengkaji sebagai bahan penelitian dari segi kesenian dan budayanya.

Seperti yang disampaikan Dik Akhlis Syamsal Qomar bahwa Prof. Peter Carey bilang bahwa Buku Babad Pacitan sendiri juga sebagai acuan Sejarawan dan Kolumnis Ong Hok Ham untuk menulis disertasi pada saat di Universitas Yale th. 1975, buku Babad Pacitan tersebut sebagai data lokal yang dimanfaatkan Ong Hok Ham untuk menerangkan peristiwa yang terjadi di Madiun pada masa lampau, hingga desertasi itu akhirnya menjadi sebuah buku “Madiun Dalam Kemelut Sejarah” yang dicetak oleh KPG th. 2019, dan yang mana Prof. Peter Carey juga menyampaikan Prolog dalam buku “Madiun Dalam Kemelut Sejarah” tersebut, “Bahwa disertasi Ong diharapkan mampu membebaskan orang Madiun dari -trauma- yang mereka alami gara-gara pemberontakan PKI pada September 1948 yang dipimpin Musso”.

Apa yang disampaikan Prof. Peter Carey sangat betul sekali, saya sendiri sebagai orang Madiun merasa tergerak untuk menambahkan cerita-cerita sejarah Madiun yang indah dan tidak ingin terjebak pada cerita-cerita sejarah pada masa kelam Peristiwa Madiun 1948, namun andaikan terpaksa menulis alangkah baiknya menceritakan para pahlawan-pahlawan atau para penyelamat yang berhasil memusnahkan Musso dan pengikutnya dari bumi Madiun, dan saya berharap Septian Kharisma salah satu saudara dari Trah Eyang Ronggo Prawirodirdjo I bisa membantunya. Ingin sekali rasanya melanjutkan cita-cita Eyang R.Ngabei Gondowardoyo kakak kandung dari Eyang Canggah saya yaitu Eyang Mantri Guru di Panggung R. Suparman Hardjokusumo.

Sosok R. Ngabei Gondowardoyo sendiri dimata Prof.Peter Carey disampaikan kesaya secara langsung via chat Whatsapp sebagaimana berikut: “Interesting and important family history and wonderful that a historian of Madiun Raya emerges from your family in this way” (Sejarah keluarga yang menarik dan penting dan indah bahwa sejarawan Madiun Raya muncul dari keluarga Anda dengan cara ini), seketika saya jadi teringat Prof.Peter Carey pada saat kami sama-sama di Palur-Kebonsari kediaman mantan Direktorat Jendral Kebudayaan Drs. Nunus Supardi pada akhir bulan th, 2019, waktu itu pada saat hendak naik mobil tiba-tiba Prof. Peter Carey menyebut saya dengan candaan “Kanjeng Jimat !..”

R. Ngabei Gandawardaja (Gondowardoyo)

Sabtu, 07 Maret 2020

WARTA SOSROREDJAN


Warta Sosroredjan, Warta (Kabar) yang berisi informasi khusus untuk Trah Kerabat Sosroredjan atau keturunan Eyang R. Kyai Sosroredjo yang diterbitkan setahun sekali, warta tersebut dikelola oleh R.Soejoed (alm) dan R. Soediro (alm).

Warta tersebut berisi informasi up date terbaru silsilah para kerabat Trah Sosroredjan yang keberadaannya telah tersebar di dalam negeri dan di luar negeri, selain mengupas silsilah juga terdapat sekilas sejarah Eyang R. Kyai Sosroredjo, sejarah-sejarah para leluhurnya, dan sejarah mengenai Madiun dan sekitarnya.

Warta Sosroredjan yang masih saya ingat adalah dikirim oleh kurir Pos Indonesia karena menggunakan prangko berlangganan dan diikat dengan kertas putih.

Sayang Warta Sosroredjan saat ini sudah tidak terbit lagi karena pihak redaksi/administrasi sudah meninggal dunia semua. Alangkah bahagia para sesepuh apabila warta Sosroredjan bisa diterbitkan lagi untuk para kerabat-kerabat Trah Sosroredjan sebagai media penyambung silaturahmi dan pengingat bahwasanya kita semua masih selalu terhubung dengan para leluhur.

Kamis, 27 Februari 2020

Sujarah Silsilah Kyai Ageng Gajah Surengpati & R. Nyai Gajah Surengpati, sumber dari Silsilah Keluarga R. Ronggo Prawirodirdjo I di Madiun






SILSILAH R. NYAI SOSROREDJO ING DOLOPO DARI JALUR IBUNDA BELIAU (PANCER R.Tng. SOSRODININGRAT)

POHON SILSILAH R. NYAI SOSROREDJO ING DOLOPO
JALUR SAKING IBUNDANYA (PANCER R. Tng. SOSRODININGRAT )



R. TUMENGGUNG SOSRODININGRAT
BUPATI RAJEGWESI
(Putro mantu Sinuhun K. Sultan HB I ing Kasultanan Yogyakarta) 

Peputro :
|

R. TJITRODIWIRDJO / TJITROKUSUMO (CITROKUSUMO) 
(Garwo R. Ayu TJITROKUSUMO / TJITRODIWIRYO Putri BUPATI MADIUN
sumare ing Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun
Peputri :
|

R. AYU SOSRODIRDJO
(Garwo R. NGABEI SOSRODIRDJO PATIH MADIUN )
sumare ing Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun
Peputri :
|

R. NYAI SOSROREDJO / R. NGANTEN MUDJILAH
(Garwo R. KYAI SOSROREDJO, PALANG ing DOLOPO, ugi MANTRI BUPATI MADIUN) 
sumare ing Dolopo Madiun)



Silsilah punika kaserat saking :
- Sujarah Silsilah Kyai Sosroredjo ing Dolopo
- Sujarah Silsilah Kyai Sosrodirdjo ing Sewulan
- Sujarah Silsilah R. Ronggo Prawirodirdjo ing Madiun

DUKUH SANGGRAHAN TEMPAT ASAL IBUNDA PAHLAWAN NASIONAL H. Dr. R. SOEHARTO SASTROSOEYOSO

Ibundanya memiliki bakat dalam mengobati dan menyembuhkan orang sakit, ternyata pekerjaan mulia tersebut menurun kepada putranya H. Dr. R. S...