Jumat, 27 Oktober 2017

KYAI SOSROREDJO


KYAI SOSROREDJO

Dalam sumber naskah sejarah Kyai Ageng Gajah Surengpaten, seratan R. Ng. Gondowerdoyo bin R. Sosroredjo (1850 – 1941) yang diterjemahkan dari tulisan asli aksara Jawa oleh R. Soediro yang juga masih keturunan R. Sosroredjo.

R. Sosroredjo (nama masa kanak-kanaknya tidak disebut). Lahir tahun 1815. Konon selagi masih sangat muda, setelah dikhitankan, meninggalkan rumah untuk belajar mengaji, antara lain di pondok pesantren yang terkenal diwaktu itu, yaitu pesantren Sepanjang, Sidosremo, Surabaya, dan di Pesantren Sembilangan Madura. Seperti lazimnya pada waktu itu, santri Sosroredjo tidak memperoleh bekal dari orang tuanya, karena itu beliau harus bekerja agar dapat menyediakan makanan bagi dirinya selagi menimba ilmu di Pesantren. Selain menerima pendidikan agama, beliau dan para santri lainnya juga diberi pelajaran seni bela diri serta ketrampilan menggunakan senjata.

Sekembalinya dari Pesantren, ketika usianya baru 20 tahun, pemuda Sosroredjo diangkat menjadi Palang Dolopo. Pangkat Palang boleh disamakan dengan Lurah pada masa sekarang, namun memiliki wilayah yang luas. Adapun hirarki pangkat pejabat pangreh praja waktu itu ialah: Bupati-Wedono-Palang. Jadi kedudukan Palang berada di bawah Wedono (Wedana). Meskipun masih sangat muda, tapi karena pendidikan, latihan dan pengalamannya, Palang Sosrorejo mampu bekerja keras, berpendirian teguh, dan bertindak keras.

Desa Dolopo dapat dikatakan sudah ramai terutama pasarnya. Tetapi terdapat pula hal-hal yang kurang baik. Pada hari-hari tertentu umpamanya, berdatangan banyak orang dari daerah sekitarnya, karena di Dolopo berlangsung adu ayam jago, dan tak ketinggalan pula penjualan madat. Dapat diperkirakan, diantara para pengunjung itu terdapat para penjudi dan penjahat.

Pada masa itu antara dukuh yang satu dengan dukuh yang lain terpisahkan hutan yang lebat. Usaha merambah hutan, membuka jalan, memperluas daerah pemukiman, mencetak persawahan dan tegalan, ternyata kurang lancar karena masih terhambat oleh pengaruh takhyul. Tempat-tempat tertentu, bahkan pepohonan, dianggap angker sehingga tidak boleh dirambah. Ular pun tidak boleh dibunuh karena disangka akan mendatangkan musibah. Mengusir kalong dari daerah pertanian juga dilarang, karena kalong disangka binatang piaraan makhluk halus. Tetapi bagi Palang Sosrorejo berani mengikis anggapan tersebut dengan meyakinkan penduduk bahwa anggapan semacam itu keliru belaka. Diceritakan dalam kitab sejarah itu, dengan senjata tombak dan bedil beliau berhasil membunuh ular-ular besar yang bersarang dalam gua, dan membinasakan macan sampai 30 (tiga puluh) ekor. Beliaupun berhasil meringkus penjahat-penjahat terkenal yang menggangu di wilayah Dolopo.

36 (Tiga puluh enam) tahun lamanya Kyai Sosroredjo menjabat sebagai Palang di Dolopo. Ketika usia beliau 56 (lima puluh enam) tahun, beliau diangkat pangkatnya untuk menjabat sebagai Mantri Kabupaten di Madiun. Tetapi hanya tiga tahun bertugas di Madiun, atas permintaan beliau sendiri karena pertimbangan usia. Selanjutnya kembali berdiam di Dolopo, untuk berkosentrasi mengerjakan sawah dan menjala ikan, dibantu dengan kedua abdi yang menyertainya.

Dalam usia yang telah lanjut, beliau membuat kolam. Alat yang digunakan untuk menggali kolam itu hanya palu besi kecil yang dipertajam. Tiga bulan lamanya – siang malam – beliau membuat kolam itu. Tampaknya beliau berniat menjauhkan diri dari keduniawian, beliau hanya makan bila ada tamu, dan istirahatnya hanya di kala bersujud.

Setelah kolam itu siap. Maka terbentuklah sebuah “Sendang”. Diatas permukaan air dibuatlah amben (semacam dipan, tempat pembaringan) dari Bambu. Disanalah beliau bertafakur sampai 3 (tiga) bulan 10 (sepuluh) hari. Kadangkala saja beliau makan, dan yang dimakan hanyalah buah pace yang jatuh dari pohon-pohon pace di sekitar Sendang itu, semenjak laku tirakat dan tapa brata itulah beliau banyak disebut orang sebagai Kyai "Kyai Sosroredjo".

Hanya selama 10 (sepuluh) hari beliau tinggal di Rumah, selanjutnya kembali bertafakur selama 15 (lima belas) hari di atas Sendang. Di Rumah beliau menderita sakit. Tetapi setelah sembuh, kembali pula ke atas sendang untuk menepi melanjutkan tafakurnya.

Akhirnya beliau menderita sakit lagi sampai 20 (dua puluh) hari lamanya. Para putera dipanggil semuanya. Tetapi karena tampak sembuh, para putera diperkenankan pulang. Sebulan kemudian beliau menderita sakit lagi, dan beberapa hari kemudian wafat. Ketika itu usianya mencapai 72 (tujuh puluh dua) tahun, dan bertepatan pada tahun 1887.

Salah satu wejangannya yang selalu diingat oleh keturunannya ialah: “Janganlah sampai menjadi beban orang lain". "Janganlah pula menghisap keringat orang lain, sebak anak cucunyalah yang akan menderita pembalasan".

Sumber: Disarikan dari Buku Saksi Sejarah-Dr.R.Soeharto dan cerita tutur dari Sesepuh Sosroredjan-Pak Puh Moeljono.

Jumat, 02 Juni 2017

SILSILAH KYAI SOSROREDJO ing DOLOPO DARI GARIS IBU BELIAU


POHON SILSILAH KYAI SOSROREDJO ING DOLOPO
GARIS PANCER SAKING IBUNDANYA



SUNAN AMPEL / SAYYID AMPEL DENTA / SAYYID MAULANA RAHMATULLAH
sumare ing AMPEL DENTA SURABAYA
Peputro :
|
PANGERAN TUMAPEL / PANGERAN LAMONGAN / SYAIKH KAMBYAH
Peputro :
|
PANGERAN PANDAN ARANG II / SUNAN PANDAN ARANG / 
SUNAN PANDANARAN II / SUNAN TEMBAYAT
(MANTUNIPUN PANGERAN PANDAN ARANG I / PANGERAN MADE PANDEK)
sumare ing GUNUNG JABALKAT, Ds. PASEBAN, BAYAT, KLATEN
Peputro :
|
R. ISKAK / PANEMBAHAN DJIWO
sumare ing GUNUNG JABALKAT, Ds. PASEBAN, BAYAT, KLATEN
Peputro :
|
PANEMBAHAN DEMANG KABUL / PANEMBAHAN MINANG KABUL / 
PANEMBAHAN KABO
sumare ing GUNUNG JABALKAT, Ds. PASEBAN, BAYAT, KLATEN
Peputro :
|
PANGERAN MASJID WETAN I
sumare ing GUNUNG JABALKAT, Ds. PASEBAN, BAYAT, KLATEN
Peputro :
|
PANGERAN SUMENDI I / PANGERAN SEMENDI
sumare ing GUNUNG JABALKAT, Ds. PASEBAN, BAYAT, KLATEN
Peputro :
|
PANGERAN NERANGKUSUMO / PATIH NERANGKUSUMOPatih Kraton Mataram Kartosuro, babad alas Wonokerto kagem Kraton Kartosuro Rabu Pon, 27 Ruwah, Tahun Alip, 1603 
Peputro :
|
R. JOYOLEYANGAN / KI AGENG R.M. NGABEI JOYOLEYANGAN
(MANTRI LEBET al. PUNGGAWA BAKU-nipun PANGERAN SAMBERNYOWO 
KGPAA MANGKUNEGORO I ing SUROKARTO) sumare ing SASONO LOYO 
SENTONO GEDHE, MATESIH, KARANG ANYAR
Peputro :
|
R.TIRTOLESONO
sumare ing TAMAN MADIUN
Peputro :
|
R. NYAI GAJAH SURENGPATI II / NYAI AGENG GAJAH SURENGPATI
(GARWO KYAI AGENG GAJAH SURENGPATI WEDONO PRAJURIT ing MADIUN)
sumare ing GAJAHAN, ASEM PAYUNG, DOLOPO MADIUN
Peputro :
|
KYAI SOSROREJO / R. SOSROREJO 
(PALANG DOLOPO, MANTRI BUPATI MADIUN sumare ing DOLOPO MADIUN)



Silsilah punika kaserat saking :
- Silsilah Kyai Sosroredjo ing Dolopo
- Silsilah Keluarga R.Ronggo Prawirodirdjo yang disusun oleh alm. R.M. Prawirohadiwinoto

Kamis, 25 Mei 2017

SILSILAH KYAI SOSROREDJO ing DOLOPO DARI GARIS BAPAK BELIAU

POHON SILSILAH KYAI SOSROREDJO ING DOLOPO
GARIS PANCER SAKING RAMANDANYA

R. SUTOWIJOYO
SULTAN MATARAM 1 (1588-1601)
KOTA GEDE, KRATON MATARAM DIBANGUN 1578
  Peputro :

|

SUNAN SEDO KRAPYAK 
SULTAN MATARAM 2 (1601-1613)
KOTA GEDE 
  Peputro :

|

  SULTAN AGUNG HANYOKROKUSUMO 
SULTAN MATARAM 3 (1613-1646)
KOTA GEDE PINDAH KE KERTO 1621
  Peputro :

|

PANGERAN DEMANG TANPO NANGKIL I
ing SUKOWATI
  Peputro :

|
 
PANGERAN DEMANG / PANGERAN DEMANG TANPO NANGKIL II
 ing SUKOWATI
  Peputro :

|

R.DEMANG HADIREJO I
  Peputro :

|

R.DEMANG HADIREJO II
  Peputro :

|

R. Kyai WIRODIWINGSO / R.Tng. KUDONOWARSO
(PATIH MANGKUNEGORO I ing SUROKARTO sumare ing WONOGIRI)
Peputro :

|

R.TIRTOWIRONO / R. TIRTOWIROMO / R. TIRTOSENTIKO I / R. GAJAH SURENGPATI I
(MANTRI EMBAN KRATON NGAYOGYOKARTO, 
ABDI DALEM  sumare ing Gn. BANCAK MAGETAN)
Peputro :

|

R. TIRTOSENTIKO II / R. GAJAH SURENGPATI II / KYAI AGENG GAJAH SURENGPATI
(WEDONO PRAJURIT ing MADIUN sumare ing TAMAN MADIUN), Peputro :

|

KYAI SOSROREDJO / R. SOSROREDJO
(PALANG DOLOPO, MANTRI BUPATI MADIUN sumare ing DOLOPO MADIUN)

Jumat, 21 April 2017

ISLAM SEBAGAI FONDASI PERJUANGAN R.M.SAID/PANGERAN SAMBERNYAWA DAN ETIKA SELALU DIJUNJUNGNYA KETIKA LAWAN ADALAH RAMANDA/PAMANNYA SENDIRI YAITU PANGERAN MANGKUBUMI/SUNAN KABANARAN/SULTAN HAMENGKUBUWANA I



Filosofi utama dasar perjuangan R.M.Said adalah konsepsi ajaran Islam, bagi beliau tidak hanya syariah saja namun dilakukan dalam rangka perjuangan secara keseluruhan.
"Tahun Je dan sengkalan, Ponang Liman (8) lan Turangga (7), Angrasa (6) Wani (1).



"Kangjeng Pangeran Adipatya Arya Amengkunagoro, sampun nekad kersanipun, pisah lan rama sang nata Th.1678 J/1752 M"(Babad Lelampahan. Asmarandana,50:248).


(Kangjeng Pangeran Arya Amengkunagoro sudah bertekad bulat untuk berpisah Ramandanya sang Raja Mataram').




Pemisahan itu diambil oleh R.M.Said, karena tidak saja Pangeran Mangkubumi/Sunan Kabanaran/Sultan Hamengkubuwana I yang telah mengingkari janjinya sendiri yaitu berbalik mau bekerja sama dengan pihak Belanda, perilaku tersebut tidak sesuai dengan karakter seorang ksatria, terlebih dilihat dari prinsip perjuangan dan filosofi Islam yang selama itu diyakini kebenarannya oleh R.M.Said, baginya sebagai muslim setiap sumpah yang pernah diucapkan wajib ditepati.



" Sawab aku wus anekad tur aderah, batur kabeh suntari yen tresna maring wang, ingsun tedha mring Allah, barenga mati lan mami, saure kikila, sadaya kang prajurit',(Babad Lelampahan.Durma,14:27).


(Aku telah bertekad bulat, tidak ada pilihan lain mati atau mukti, kalian prajuritku semua, jika kalian semua cinta kepadaku, marilah kita bersama bertempur mati-matian sampai titik darah penghabisan, andai kata aku gugur bersama, gugur di haribaan ALLAH, segenap prajurit menyatakan kesanggupannya).



"Dyan Pangeran Adipati Mangkunagara, ikhlas manah kang wening, tan ana ketingal, nanging ALLAH kang mulya, ngandika Pangeran Dipati, prajuritira,wong-jero para mantri".(Babad Lelampahan,Durma,45:260).


(Kata Pangeran Adipati kepada para prajurit Mantri-Lebet, bahwa kalah menang dalam perjuangannya harus didasari hati yang ikhlas, dan kepercayaan penuh, semuanya diserahkan kepada kehendak ALLAH, hanya kepada ALLAH-lah kita menyerahkan diri dan berlindung).



Filosofi seperti itulah yang setiap saat ditanamkan R.M.Said kepada setiap prajuritnya manakala akan menghadapi pertempuran, baik dalam kondisi terdesak maupun ketika setelah meraih kemenangan, mati dijalan ALLAH, adalah mati dalam perang sabil, yang artinya mati syahid.



"Angandika mring kang abdi Kawandasa, sira kabeh suntari, payo bareng pejah, sarta bocah kapendhak, asrah ALLAH derah pati, ngamuk Walanda, pada sunajak mati".


(Berkata Pangeran Adipati Mangkunagara kepada para prajuritnya, kalian semua kuajak mati bersama dalam peperangan ini, kita akan bertempur sampai darah penghabisan, berperang melawan Belanda).

"Payo bocah padha apasrah ing ALLAH, ature sauri peksi, sandika sedaya, ing pundi gen palastra, yen dede ngarsaning Gusti, panedha kula, pejaha aprang sabil", (Babad Lelampahan,Durma,66-77:321).


(Marilah kita serahkan jiwa dan raga kepada ALLAH, para prajurit menjawab, kita siap melaksanakan perintah Gusti, dimanakah gerangan tempat yang paling utama untuk mati, jika tidak dihadapan ALLAH yang Maha Kuasa, kami semua memohon jika kita mati di medan laga adalah termasuk mati perang sabil atau menjadi syuhada).



Implikasi dari konsepsi Islam yang dijadikan filosofi perjuangan R.M.Said menyebabkan ia selalu mampu berfikir jernih, tidak larut dalam emosi yang berlebihan, sebagaimana ketika pasukannya dapat memenangkan pertempuran yang dahsyat melawan Paman atau Mertuanya sendiri yaitu Pangeran Mangkubumi atau Sunan Kabanaran atau Sultan Hamengkubuwana I, kebesaran hati R.M.Said secara nyata dapat dilihat dari kejernihan berfikirnya untuk tidak melukai atau membunuh Pangeran Mangkubumi.



Kesempatan untuk menghabisi Pangeran Mangkubumi dalam perang tersebut sangatlah besar, namun dalam saat-saat yang menentukan R.M.Said justru mampu mengendalikan emosinya dan etika selalu dijunjungnya.



Bagi R.M.Said pertempuran melawan Ayah mertuanya, tidaklah didasari pada satu kebencian yang bersifat pribadi, melainkan kepada sikap Pangeran Mangkubumi yang mau bekerja sama dengan Belanda untuk melawan dirinya, sebagaimana yang dinyatakan sendiri oleh R.M.Said dalam catatannya atau Babad Lelampahan :


"Tan angimpi sedya mungsuha kang rama, yen den kajenga ugi, ing pambujengira, kadi Sunan kecandhak, Kangjeng Pangeran Dipati, engat in.g driya, lahir tumekeng batin", (Babad Lelampahan,Durma,72:262).


(R.M.Said tak pernah bermimpi untuk melawan Ramandanya sendiri, seandainya peperangan diteruskan, pastilah Kangjeng Sunan Kabanaran atau Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwana I akan tertangkap, dalam hati ia selalu ingat, untuk menjunjung tinggi, secara lahir batin kepada Raja yang juga mertuanya sendiri).



Kenyataan yang terjadi dalam 'Perang Kasatriyan' di Ponorogo misalnya, bukanlah disebabkan oleh R.M.Said yang menyerang pasukan Pangeran Mangkubumi, melainkan Pangeran Mangkubumi-lah yang selalu mengejar-ngejar pasukan R.M.Said, peperangan tersebut sebenarnya tak lebih dari upaya R.M.Said mempertahan diri, itulah sebabnya ketika pasukannya (Kawandasa, Prajurit Estri, & wadyabalanya) menghancurkan Prajurit Pangeran Mangkubumi, R.M.Said tidak mempunyai niat sedikitpun untuk membunuh Pangeran Mangkubumi, kendati kesempatan itu ada padanya, hal tersebut yang berbeda ketika R.M.Said menyerang pasukan Belanda, jika ada kesempatan tidak hanya pasukannya yang dihancurkan, tetapi juga para komandannya sekalipun.



Filosofi Islam yang direfleksikan dalam setiap tindakan akhirnya memang menempatkan R.M.Said sebagai pemimpin pasukan yang dihormati oleh setiap wadyabalanya, setiap strategi atau keputusan selalu dibicarakan sesuai dengan ajaran Islam yang meletakkan konsep kebersamaan dan musyawarah sebagai model kepemimpinan dan perjuangannya.




Sumber : (Restrukturisasi Budaya Jawa - Perspektif Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I)


Disalin oleh : R. Brahmantia Gentur Pamuji

DUKUH SANGGRAHAN TEMPAT ASAL IBUNDA PAHLAWAN NASIONAL H. Dr. R. SOEHARTO SASTROSOEYOSO

Ibundanya memiliki bakat dalam mengobati dan menyembuhkan orang sakit, ternyata pekerjaan mulia tersebut menurun kepada putranya H. Dr. R. S...