Rabu, 26 Juni 2019

R. Ngabei Gondowerdoyo

R. Ngabei Gondowerdoyo, lahir th. 1850 - sedo taun 1940, beliau adalah putra ke-4 Eyang R. Kyai Sosroredjo ing Dolopo, banyak yang berpendapat bahwa bakat dan karir Eyang R. Kyai Sosroredjo diturunkan (nunggak semi) kepada Eyang R. Ngabei Gondowerdoyo. Semasa masih sugeng (hidup) beliau pernah menjadi Guru di Pacitan namun dalam Regerrings Almanaak (Almanak Pemerintahan) Nederlandch-Indie (Hindia Belanda) tahun 1902 beliau menjawat sebagai Secretaris-Thesaurier (Sekretaris & Bendahara) pada sebuah Bank Pembantu Simpan Pinjam untuk para Pribumi (Inlandsch Spaar-tevens Hulp Bank) yang bernama "Reksowibowo", dan lalu pernah menjawat sebagai Onder Collecteur di Kabupaten Ponorogo. Namun sayangnya tidak banyak keterangan yang saya dapatkan mengenai beliau, hingga sampai sekarang masih terus digali sejarah mengenai beliau berdasarkan data-data digitalisasi dan almanak prijaji yang diolah di negeri Belanda.
Foto beliau saya potret ulang dari dalam cungkup makam beliau yang berbingkai dan tertempel di dinding, sebelumnya saya potret hingga 3 kali meski hasilnya sedikit ngeblur, kondisi foto tersebut sangat mengkhawatirkan hingga akhirnya saya proses editing hingga demikian adanya.




Senin, 25 Februari 2019

KISAH KAPTEN UDARA R. MOELJONO (MULJONO)


                                      

R.Moeljono (Muljono) adalah putra pasangan Mas Sajid Sastrodihardjo dan Rr. Moedilah, Rr. Moedilah adalah putri dari R.Soeparman Hardjo Koesoemo bin R. Kyai Sosroredjo ing Dolopo bin Kyai Ageng Gadjah Surengpati Wedono Prajurit ing Madiun.

MISI SERANGAN UDARA PERTAMA YANG DILAKUKAN BERSAMA AURI UNTUK MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA 

Dalam melaksanakan agresinya, Belanda berusaha mengintimidasi dan memaksa kedudukan Indonesia makin mundur ke pedalaman, serta menghancurkan potensi-potensi kekuatan udara Republik Indonesia diberbagai daerah. Seluruh pangkalan udara Republik Indonesia diserang secara serempak, mereka bergerak dengan mengandalkan pesawat-pesawat tempur P-5 Mustang dan P-40 Kitty Hawk serta pesawat pembom B-25/B-26.
Penyerangan terhadap pangkalan-pangkalan udara Republik Indonesia, yang saat itu masih dalam proses perintisan, tentunya dimaksudkan untuk menghilangkan atau mengurangi kemampuan Angkatan Udara Republik Indonesia, sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk mengadakan serangan udara terhadap Belanda. Demikian pula halnya dengan Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta, tidak luput dari sasaran serangan Belanda.
Serangan Belanda di Pangkalan Udara Maguwo, dilaksanakan secara bergelombang. Serangan awal dilancarkan pada pagi hari tanggal 21 Juli 1947, tetapi serangan awal ini mengalami kegagalan, karena secara kebetulan cuaca di atas kota Yogyakarta berkabut tebal sehingga Belanda tidak mampu melaksanakan serangan. Kegagalan tersebut tidak mengurangi usaha Belanda untuk menghancurkan Maguwo, karena pada siang harinya Belanda menyerang kembali. Selama 40 menit, empat buah pesawat pemburu Belanda menyerang dengan menjatuhkan beberapa bom di atas lapangan terbang Maguwo dan Wonocatur, yang menyebabkan timbulnya kebakaran di beberapa tempat, namun pesawat yang telah disembunyikan sebelumnya luput dari serangan Belanda.

Pukul 14.10 WIB tanggal 23 Juli 1947, Belanda kembali menyerang lapangan terbang Maguwo. Pesawat-pesawat pemburu Belanda melepaskan tembakan mitraliur dan menjatuhkan granat tangan. Serangan Belanda ini mendapat perlawanan dari anggota AURI, satu pesawat Belanda kena tembak dan melarikan diri. Dua hari berikutnya, yakni pada 25 Juli 1947 pukul 14.30 WIB, kembali Maguwo diserang oleh dua pesawat P-40 Kitty Hawk Belanda. Meskipun demikian perlawanan kita dari bawah tidak kendor sedikitpun. Dalam pertempuran ini satu pesawat Belanda terkena tembakan pasukan penangkis serangan udara dan melarikan diri kearah Solo.
Menjelang Magrib tanggal 25 Juli 1947, Belanda kembali melancarkan serangan berikutnya. Kali ini AURI mengalami kerugian yang sangat besar, karena pesawat-pesawat tempur Belanda menemukan pesawat-pesawat AURI yang sedang di run up. Pada serangan yang kelima kalinya ini, beberapa pesawat Cukiu dan Cureng AURI hancur, bahkan satu-satunya pesawat pembom AURI yang tersisa, yaitu Pangeran Diponegoro I ikut hancur.
Serangan-serangan Belanda yang tidak beraturan tersebut, menunjukan bahwa Belanda berusaha keras untuk melumpuhkan dan menghancurkan kekuatan udara Republik Indonesia. Penghancuran sasaran yang diperkirakan menjadi tulang punggung kekuatan udara Republik Indonesia, dianggap Belanda sebaga salah satu cara terbaik dalam mencegah Pangkalan Udara Republik Indonesia untuk melakukan serangan, yang akan mengancam kedudukan maupun menyerang daerah yang baru saja diduduki Belanda.
Serangan udara Belanda atas kekuatan udara Republik Indonesia dapat dikatakan berhasil, sebagian besar hasil pembinaan kekuatan udara Republik Indonesia yang telah dibangun selama kurang lebih dua tahun setelah kemerdekaan hampir dapat dilumpuhkan. Beberapa pangkalan udara di Pulau Jawa dapat diduduki, Pangkalan Udara Bugis (Malang) dan Kalijati dapat dikuasai Belanda, selain itu pesawat terbang yang ada di Pangkalan Udara Maospati, Panasan, dan Cibeureum banyak yang dihancurkan Belanda, sedangkan di Pangkalan Udara Maguwo hanya tersisa dua Cureng, satu Guntei dan satu Hayabusa.

Setelah Belanda melancarkan agresinya, fasilitas penerbangan dan pesawat-pesawat yang telah diperbaiki oleh para tehnisi Angkatan Udara Republik Indonesia berhasil dihancurkan Belanda, bahkan beberapa pangkalan udara berhasil dikuasai oleh Belanda. Meskipun demikian, kenyataan tersebut tidak mengendorkan semangat para pendahulu TNI Angkatan Udara, justru menjadi motivasi untuk terus berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan.
Dengan berbekal empat pesawat yang tersisa di pangkalan udara Maguwo, para pendahulu TNI Angkatan Udara melakukan perlawanan dan melancarkan serangan balik terhadap daerah-daerah yang berhasil diduduki Belanda.

Gagasan untuk melakukan pembalasan lewat udara terhadap kedudukan Belanda, menjadi pemikiran utama para pemimpin Angkatan Udara, terutama bentuk tindakan balasan yang akan dilaksanakan, karena kesiapan pesawat yang ada tidak memadai, dan kemampuan terbang operasional para kadet penerbang saat itu terbatas pada penerbangan pengintaian. Atas dasar itu, maka Komandan Sekolah Penerbang Komodor Muda Udara A. Adisutjitpo, merasa sayang kalau para penerbang muda ini “gugur”, beliau menginginkan agar mereka lebih dulu ditingkatkan kecakapan terbangnya untuk mampu menerbangkan pesawat tempur, bahkan tercetus kata-kata beliau bahwa andai kata harus mengadakan serangan balas akan dilakukan oleh beliau sendiri. Gagasan beliau tersebut disampaikan sebelum berangkat ke luar negeri.
Tetapi situasi waktu yang sangat mendesak untuk melakukan serangan balasan, maka setelah Komodor Muda Udara Adisutjipto dan rombongannya berangkat melaksanakan missinya ke luar negeri, para teknisi di Maguwo secara diam-diam sibuk dengan melaksanakan modifikasi dan mengadakan pemeriksaan beberapa pesawat terbang seperti Hayabusha, Cureng dan Guntai.

Pesawat-pesawat tersebut dipersiapkan untuk dijadikan pesawat pembom, kegiatan tersebut memang sangat dirahasiakan. Dibawah pimpinan Basir Surya, para teknisi memeriksa dan memperbaiki pesawat-pesawat yang dapat dipersiapkan untuk melaksanakan misi operasi. Sedangkan pada bidang teknik persenjataan dipimpin oleh Opsir Muda Udara I Eddie Sastrawidjaja. Sementara itu pimpinan Angkatan Udara Komodor Udara S. Suryadarma dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma mengadakan rapat-rapat tertutup.

Sejalan dengan proses penyiapan pesawat oleh para tehnisi AURI, pada tanggal 28 Juli 1947 lebih kurang pukul 19.00, seorang kurir ke Mess Perwira di Wonocatur yang membawa perintah KSAU yang ditujukan kepada empat orang kadet AURI, yaitu Kadet Penerbang R.Muljono, Sutardjo Sigit, Suharnoko Harbani, dan Bambang Saptoadji agar menghadap Komodor Udara S. Suryadarma dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma. Panggilan yang sangat dirahasikan itu menyangkut rencana operasi udara yang akan ditugaskan kepada keempat penerbang tersebut. Rencana operasi ini disampaikan sendiri oleh Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma selaku Perwira Operasi dengan penjelasan-penjelasan seperlunya. Operasi udara itu berupa pengeboman atas kota-kota yang menjadi kubu musuh di Jawa Tengah. Pelaksanaannya tidak bersifat perintah tetapi sukarela, namun demikian tidak ada seorang pun dari para penerbang itu yang menolak tawaran tersebut.

Pada kesempatan itu, ditunjuk pula para penembak udaranya (air gunner). Mereka adalah Kaput, Dulrachman dan Sutardjo. Ketiga air gunner tersebut merupakan teknisi berpangkat Bintara, yang belum pernah mendapat pendidikan “gunnery” dari AURI. Modal utama mereka adalah keberanian dan bersedia untuk berkorban dalam mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Pada pertemuan tersebut, KMU Halim Perdanakusuma menjelaskan secara rinci rencana penyerangan kedudukan Belanda di Semarang dan Salatiga, yaitu :
1. Kadet Udara I R.Moeljono ditugaskan menyerang Semarang yang disertai penembak udara Sersan Udara Dulrachman menggunakan pesawat pembom tukik Guntei.
2. Kadet Udara I Bambang Saptoadji ditugaskan mengawal pesawat pembom Guntei menggunakan pesawat Hayabusha.
3. Kadet Udara I Sutardjo Sigit didampingi penembak udara Sersan Udara Sutardjo dan Kadet Penerbang Suharnoko Harbani didampingi penembak udara Sersan Udara Kaput menyerang Salatiga menggunakan pesawat Cureng.

Sasaran pemboman dan tembakan ditentukan hanya pada kedudukan dan markas militer lawan, penerbangan yang dilaksanakan harus menghindari Boyolali, karena pasukan Belanda telah masuk ke daerah tersebut. Di samping itu, para penerbang tidak diperbolehkan untuk terbang langsung menuju sasaran, tetapi harus membuat dog-leg, yaitu terbang ke arah timur, baru kemudian belok ke kiri menuju sasaran, dengan tetap memperhatikan taktik pendadakan.

Penyerangan akan dilaksanakan sedini hari mungkin, selama kurang lebih satu jam, untuk menghindari penyergapan dan pengejaran lawan. Apabila serangan selesai, para penerbang diinstruksikan untuk segera kembali ke Maguwo, dengan tree top level (terbang serendah mungkin) dan hedge-hopping. Teknik ini dimaksudkan untuk mengurangi ruang gerak pesawat musuh yang jauh lebih tinggi kecepatanya, apa bila mereka mengejar dan mau menyergap.

Selesai briefing, mereka bergabung dengan para tehnisi pesawat yang sedang berusaha memperbaiki dan mempersenjatai pesawat yang akan digunakan. Untuk melengkapi persenjataan Guntei, para teknisi tidak mengalami kesulitan, karena pesawat jenis ini termasuk pesawat tempur.
Pesawat pembom Guntei yang berhasil diperbaiki mampu membawa bom seberat 400 kg. di samping itu, juga dipasang sebuah senapan mesin yang diletakan di belakang penerbang.

Sedangkan pada pesawat Cureng, para teknisi harus bekerja keras, karena pesawat ini digunakan sebagai pesawat latih. Berkat ketekunan para tehnisi, pesawat cureng berhasil dimodifikasi menjadi pesawat pembom, dengan menempatkan sebuah bom seberat 50 kg di bawah kedua sayapnya. Untuk melepaskan bom-bom tersebut, disebelah kiri tempat duduk penerbang dibasang tiga buah handle (pegangan) yang terbuat dari kayu dengan warna yang berbeda-beda. Yang kiri warna Merah untuk melepaskan bom di bawah sayap kiri, yang tengah warna Kuning untuk melepaskan kedua bom sekaligus, yang kanan berwarna Hijau untuk melepaskan di bawah sayap kanan.
Selain dilengkapi bom, pesawat Cureng dilengkapi pula dengan senapan mesin. Dari kedua pesawat Cureng yang disiapkan, hanya satu pesawat yang bisa dipasang senapan mesin, karena satu pesawat Cureng yang akan diawaki Sutardjo Sigit tidak ada tempat kedudukan (mounting)-nya untuk memasang senapan mesin, sehingga pesawat ini sama sekali tidak dapat membela diri apabila disergap musuh. Sebagai gantinya, pesawat Cureng tersebut diberi bom-bom bakar yang dibungkus dengan kain Blacu. Sedangkan pesawat Hayabusha tidak jadi digunakan, karena adanya kerusakan pada system persenjataanya. Meskipun para juru teknik telah berusaha dengan bekerja keras sampai pukul 01.00 dini hari tanggal 29 Juli 1947, kerusakan pada sistim persenjataan pesawat Hayabusha belum juga dapat diatasi. Dengan demikian Kadet Penerbang Bambang Saptoadji merasa sangat kecewa. Setibanya di Mess Wonocatur tempat mereka disiagakan penuh, Ia mendatangi ketiga kadet penerbang lainnya untuk dibujuk agar salah seorang bersedia diganti. Mereka tidak mau melepaskan tugas yang telah dipercayakan pada pundak masing-masing.

Sebelum melaksanakan misi operasi penyerangan, ketiga kadet penerbang hanya diberi kesempatan untuk beristirahat sekitar 2 jam.
Pada pukul 03.00 dini hari, mereka dibangunkan dan pukul 04.00 sudah harus siap di lapangan terbang Maguwo untuk menerima briefing dari kepala teknisi Bapak Sudjono, yang sebelumnya tidak mengetahui akan adanya serangan balas AURI terhadap Belanda. Bapak Sudjono menjelaskan tentang tugas yang akan dilakukan para teknisi setelah pesawat kembali dari melakukan penyerangan. Briefing berikutnya adalah dari Meteo yang dilakukan oleh Bapak Patah dengan menggunakan peta yang dipakai di sekolah dasar yang memberikan gambaran mengenai kabut rendah, angin tenang dan lainya. Sedangkan mengenai kesiapan pemadam kebakaran diberikan oleh Bapak Djunaedi.

Pada pukul 05.00, ketiga pesawat mulai taxi-out ke posisi take-off, yang sebelumnya dilepas oleh KSAU Komodor Udara S. Suryadarma dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma. Ketiga pesawat take off secara bergantian, Pesawat Guntei yang diterbangkan oleh R.Moeljono dan Dulrachman sebagai "air-gunner" terbang terlebih dahulu. Kemudian disusul pesawat Chureng yang dikemudikan oleh Sutardjo Sigit yang dibantu Sutardjo sebagai "air-gunner". Selanjutnya Suharnoko Harbani dengan Kaput juga menggunakan pesawat Chureng merupakan pesawat yang terakhir mengangkasa.

Untuk membantu tinggal landas, dipasang sebuah lampu sorot pada ujung landasan di belakang pesawat, maksudnya agar mendapat cukup penerangan. Dengan demikian landasan bisa nampak terang oleh sorot lampu tersebut dan memberi sedikit keuntungan bagi pilot untuk menentukan batas pesawat baru mulai mengudara. Mereka tidak diperkenankan menggunakan lampu dan peralatan lain dalam pesawat untuk menjaga kerahasiaan operasi yang sedang dilaksanakan. Ketiga pesawat tidak dibekali peralatan navigasi dan komunikasi, masing-masing kru pesawat hanya dibekali senter yang berfungsi sebagai alat komunikasi apa bila diperlukan. Walaupun para penerbang ini belum berpenglaman terbang malam, dengan penuh ketekunan dan kewaspadaan mereka bergiliran meninggalkan landasan terbang Maguwo secara lancar.

Pemboman Kota Semarang
Dengan menggunakan pesawat terbang pembom jenis Guntai, Kadet Penerbang I R.Moeljono memulai pelaksanaan operasi udara atas kota Semarang sebagai sasaran urutan pertama. Rute penerbangan yang dipakai dalam operasi udara ini memakai cara yang paling mendasar dan sederhana dalam ilmu navigasi yaitu dengan cara dead reckonning yang memperhitungkan arah dan kecepatan angin, keadaan cuaca dan lain sebagainya, karena penerbangan tersebut dilakukan pada malam hari yang tidak memungkinkan para penerbang mengamati tanda-tanda di daratan (land-marks) untuk dipakai sebagai pedoman. Para awak pesawat hanya dibekali lampu senter (battery) sebagai pertolongan dan bantuan sekedar apabila diperlukan penggunaannya. Komunikasi antar awak ataupun antara pesawat satu dan lainnya hanya dilakukan dengan isyarat sandi yang dilakukan lewat sinar lampu senter tersebut, itupun kalau terpaksa saja.
Untuk menuju kesasaran para penerbang diinstruksikan tidak langsung menuju sasaran, tetapi menempuh suatu rute dogleg, yang telah diplot oleh komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma. Untuk pesawat Guntai ke Semarang dan pesawat Cureng ke Salatiga. Dogleg tersebut berupa terbang kejurusan timur selama sekian puluh menit, kemudian belok sekian derajat untuk langsung menuju sasaran.

Setelah take off, Kadet Penerbang R.Moeljono menunggu sejenak, setelah terlihat pesawat Cureng dari kejauhan, maka Ia segera melesat langsung menuju sasaran di Semarang. Secara fisik serangan dalam rangka operasi udara terhadap kota Semarang dilakukan pada hari Selasa, 29 Juli 1947 pukul 06.10 pagi dan pesawat Guntai ini menyerang dari arah utara. Menghadapi arah posisi yang demikian, maka Kadet Penerbang R.Moeljono, menggunakan taktik pendadakan (surprise) dengan mengambil titik awal arah serangan yang dianggap paling aman. Setelah pesawat Guntai ini mendekati daerah sasaran, tidak langsung melakukan serangan udara dengan segera, tetapi terlebih dahulu membelok untuk mengitarinya. Kesempatan tersebut dipakai untuk memahami medan dan menjajaki kemungkinan sasaran pemboman dan tembakan yang akan dituju. Setelah memasuki kawasan di atas laut Jawa, berulah pesawat mi membelok kembali kearah selatan dan menyerang Semarang dari arah utara.

Siasat ini tidak diketahui sama sekali oleh Belanda. Selain itu Belanda memang tidak memperkirakan, bahwa pesawat RI akan mampu hadir di atas wilayah kekuasaannya, apalagi mewujudkan suatu bentuk serangan. Di luar dugaan dan perkiraan kemampuan tersebut, ternyata pagi itu salah satu pusat kekuatan Belanda di Jawa harus menghadapi serangan udara Republik Indonesia. Selain itu perkiraan tepat telah diambil oleh Kadet Penerbang R.Moeljono bahwa pertahanan udara musuh akan kebobolan dengan serangan yang datang dari arah laut.

Setelah selesai melakukan operasi pendadakan ini, pesawat segera diarahkan langsung kembali ke pangkalan semula. Kadet Penerbang R.Moeljono baru mendaratkan pesawat Guntai-nya pada urutan terakhir, setelah kedua pesawat Cureng Kadet Penerbang Suharnoko Harbani dan Kadet Penerbang Soetardjo Sigit memasuki landasan Pangkalan Udara Maguwo, karena misi Kadet Penerbang I R.Moeljono mengambil jarak yang terjauh dibandingkan dua misi operasi udara yang lain.

Pemboman Kota Salatiga
Setelah pesawat pembom Guntai yang diterbangkan oleh Kadet Penerbang R.Moeljono berhasil tinggal landas dan mengudara, maka segera Kadet Penerbang Soetardjo Sigit mengambil posisi untuk bersiap-siap berangkat. Sinar Lampu sorot yang sangat terang dan menyinari landasan dari ujung ke ujung, menjadi pedoman dan arah dalam melaksanakan tinggal landas di pagi hari yang gelap dan dingin itu. Pesawat terasa lebih berat, karena adanya muatan tambahan dua bom masing-masing seberat 50 kg yang digantungkan pada kedua sisi sayap dan beberapa buah bom bakar. Untuk itu diperlukan kecepatan lepas landas yang lebih tinggi supaya lebih aman, sehingga suatu sudut tanjakan tertentu dapat dipenuhi.

Disisi lain tanjakan pesawat harus diusahakan jangan sampai terlampau terjal agar kecepatan tidak berkurang dan mencapai stalling speed yang dapat mengakibatkan pesawat jatuh. Pesawat berhasil naik dengan sempurna dan dapat mengatur keseimbangan setelah pada ketinggian yang cukup. Kadet Penerbang Soetardjo Sigit selaku flight leader membuat satu lingkaran untuk memberi kesempatan waktu kepada wing man Kadet Penerbang Suharnoko Harbani agar bergabung dalam formasi menuju ke sasaran.
Selain itu, untuk menerbangkan pesawat jenis ini diperlukan suatu keuletan dan keterampilan para penerbangnya, karena pesawat ini tidak dibekali lampu penerangan dan radio sebagai sarana perhubungan. Mereka hanya dibekali lampu senter saja dengan isyarat-isyarat tertentu yang diperlukan untuk berhubungan. Sehingga usaha Kadet Penerbang Soetardjo Sigit untuk memberikan kesempatan kepada wing man Kadet Penerbang Suharnoko Harbani supaya mengikutinya tidak berhasil. Dalam kegelapan di pagi buta tersebut dengan menyalakan lampu senter yang dipegangnya, Kadet Penerbang Soetardjo Sigit mencoba mengarahkan sinarnya ke segala penjuru sekelilingnya dengan harapan dapat dilihat oleh rekannya. Ternyata Kadet Penerbang Suharnoko Harbani tidak mengikutinya. Setelah jelas tidak ada pesawat yang mengikutinya, maka Kadet Penerbang Soetardjo Sigit mengambil keputusan untuk melaksanakan misi operasi ini secara sendirian, meskipun hal tersebut berarti bertambahnya resiko, karena tidak adanya wing man menyebabkan pula tidak adanya senjata penangkis bila diserang pesawat musuh, sebab pesawat Kadet Penerbang Soetardjo Sigit tidak dilengkapi dengan senapan mesin penangkis serangan musuh.
Sama halnya dengan pesawat Guntei, setelah take off, pesawat Cureng juga membuat gerakan dogleging, yaitu mula-mula terbang lurus ke arah timur untuk beberapa menit, baru kemudian membelok ke kiri dalam jumlah derajat tertentu kemudian menuju ke arah sasaran, setelah dijalani beberapa menit akan sampai pada sasaran kota Salatiga, gerakan ini di maksudkan untuk menghindari kota Boyolali.

Siasat pendadakan di Salatiga cukup berhasil, karena setelah sampai diatas kota Salatiga, lampu-lampu listrik masih menyala, tetapi kelihatan sepi. Seperti juga operasi udara di kota Semarang, Belanda sama sekali tidak menyangka dan memperkirakan kemampuan RI untuk mengadakan serangan balas ke Salatiga. Sesuai petunjuk sebelumnya, sasaran yang dituju ialah daerah di sebelah utara kota Salatiga, yang diperkirakan sebagai pusat kekuatan militer Belanda. Untuk mengorientasi sasaran, Kadet Penerbang Soetardjo Sigit membuat satu kali putaran, setelah sasaran yang diinginkan sudah ampak, yang disebut dalam pengarahan dan dikatakan sebagai Markas Militer Belanda, ia segera membuat bombing run yang pertama.
Di dalam pesawat ada tiga tangkai pegangan (handle) kayu yang berturut-turut dari kiri ke kanan yaitu berwarna merah, kuning dan hijau. Ia menukikkan pesawatnya menuju sasaran kemudian menarik handle yang merah untuk melepaskan bom di bawah sayap sebelah kiri, pesawat oleng ke kanan, karena terganggu keseimbangannya. Sekejap api menyembur jauh di belakang bawah yang disusul dengan suara ledakan bom yang dijatuhkan.
Dengan menjaga keseimbangan pesawatnya, Kadet Penerbang Soetardjo Sigit bermaksud membuat bombing run yang kedua. Ia menarik handle yag berwarna Hijau untuk melepaskan bom sebelah kanan, namun gagal karena tangkai pegangan patah. Serangan berikutnya ditempuh dengan cara menukikkan kembali pesawatnya, akan tetapi gagal juga, karena handle yang di tengah berwarna kuning ketika ditarik juga patah. Handle yang berwarna kuning tersebut berfungsi untuk melepaskan kedua buah bom sebelah kiri dan kanan sekaligus. Usaha ketiga kalinya ini ternyata gagal lagi, sedangkan bom masih tetap tergantung dan tidak terlepas.

Kadet Penerbang Soetardjo Sigit tetap berusaha untuk melepaskan bom yang tersisa dan masih tergantung di bawah sayap sebelah kanan dengan cara menarik kabel yang terkait dengan bom agar dapat terlepas. Tetapi untuk ini diperlukan usaha khusus tanpa mengurangi kemampuan mengendalikan pesawat, apalagi saat itu berada di atas wilayah musuh, yang sewaktu-waktu dapat menembaknya. Untuk menarik kabel, Kadet Penerbang Soetardjo Sigit harus menundukkan kepala serendah-rendahnya, sehingga tidak dapat memandang ke luar cockpit. Ketiga kabel tersebut akhirnya berhasil diraih dengan tangan kirinya sambil tangan kanannya mengendalikan kemudi pesawat. Dengan menahan napas ditariknya kuat-kuat ketiga kabel tersebut dan akhimya berhasil juga.

Hari mulai terang matahari sudah mulai memancarkan cahayanya di cakrawala timur, tiba-tiba ia teringat bahwa juru tembaknya masih membawa bom bakar satu peti penuh. Dibuatnya satu puteran terbang lagi sambil memberi isyarat kepada juru tembak yang kini menjadi juru bom untuk siap-siap melemparkan bomnya. Ia memberi isyarat agar bomnya dilemparkan, supaya pasti dapat meledak kunci pengamannya harus dibuka satu persatu.

Pemboman Kota Ambarawa
Pada rencana operasi yang telah digariskan sebelumnya, bahwa untuk menyerang Salatiga disiapkan dua buah pesawat Cureng. Sebagai pimpinan misi ditunjuk Kadet Penerbang Soetardjo Sigit, sedangkan Kadet Penerbang Suharnoko Harbani bertindak sebagai wing man. Tetapi rencana ini harus juga mengalami perubahan karena beberapa faktor dan situasi yang terjadi di medan operasi.

Setelah Kadet Penerbang Suharnoko Harbani tinggal landas dengan mengikuti prosedur keberangkatan pesawat-pesawat sebelumnya, mulailah timbul masalah, Kadet Penerbang Suharnoko Harbani telah keliru membututi sinar api yang keluar dari mesin pesawat Guntai yang diterbangkan oleh Kadet Mulyono, karena mengira pesawat tersebut adalah Cureng yang diterbangkan oleh Kadet Penerbang Soetardjo Sigit. Tanpa ragu-ragu Kadet Penerbang Suharnoko Harbani mengejar tanda tersebut, tetapi ternyata makin lama makin jauh ketinggalan dan akhirnya tidak keihatan lagi. Hal ini memang sudah sewajarnya, karena kecepatan pesawat Guntai lebih tinggi dari pesawat Cureng, maka pesawat Guntai diberi tugas beroperasi di daerah sasaran yang lebih jauh, yaitu kota Semarang.

Setelah kehilangan sinar api pesawat Guntai, dan tidak berhasil menemukan pesawat Cureng Kadet Penerbang Soetardjo Sigit. Kadet Penerbang Suharnoko Harbani segera berusaha menentukan posisi pesawatnya, mengingat keterbatasan kemampuan dan waktu operasi yang akan dilaksanakan. Saat-saat kritis yang perlu segera diatasi tiba-tiba dia melihat sebuah danau dari kota di dekatnya. Dia segera menganalisanya dan menarik suatu kesimpulan bahwa kota tersebut adalah Ambarawa, yang berdekatan dengan Rawapening. Dengan cepat Ia memutuskan untuk memilih kota Ambarawa sebagai sasarannya, karena kota tersebut juga telah diduduki Belanda.
Kota Ambarawa tidak termasuk dalam rencana operasi, memang bukan sasaran yang direncanakan semula. Setelah yakin bahwa daerah yang dilaluinya merupakan daerah kekuasaan lawan, dia kemudian tidak ragu-ragu lagi memulai serangan udara. Ketinggian pesawat mencapai kurang lebih 3.000 kaki ke atas untuk sekedar mengadakan terbang keliling sambil mengamati sasaran yang akan dituju. Setelah mendekati sasaran, pesawat kemudian menukik ke bawah kemudian melepaskan bom secepatnya. Setelah itu harus terbang serendah-rendahnya untuk mengelakkan kemungkinan serangan lawan, yang bisa saja saat itu telah mengetahui keberadaanya.
Setelah selesai melaksanakan serangan udara di atas kota Ambarawa, segera diputuskan untuk kembali ke pangkalan semula. Sementara itu timbul keraguan sejenak, rute mana yang akan dipakai/diambil untuk perjalanan kembali tersebut. Meskipun dari Ambarawa dapat ditempuh langsung ke arah selatan sehingga dapat memperpendek jarak untuk tujuan Maguwo, Yogyakarta. Namun pertimbangan lain lebih memastikan, ialah bahwa Pimpinan Operasi telah menekankan agar rute penerbangan kembali sama dengan ketika pemberangkatannya. Tampak faktor keamanan menjadi bahan pertimbangan penting sehingga hal ini perlu ditegaskan lagi sebelum operasi dilaksanakan.

Dengan demikian maka pesawat kembali melalui rute semula, yaitu menuju arah antara Boyolali dengan danau di Panasan, baru kemudian menuju ke Maguwo. Walaupun mempunyai rute alternatif melalui Magelang tetapi tidak dipilihnya karena daerah tersebut lebih sulit kondisi geografi dan cuacanya.
Tindakan berani dari penerbang-penerbang RI dalam memberi serangan balas sungguh mengagumkan. Lebih-lebih jika diingat bahwa tugas penerbangan semacam itu baru pertama kali mereka lakukan. Apalagi kalau mengingat keadaan pesawat yang serba terbatas kondisinya. Meskipun Taktis dan strategi serangan itu tidak menimbulkan kerugian besar bagi Belanda, namun serangan itu memberi pengaruh besar terhadap situasi dan kondisi saat itu, karena sejak itu Belanda melakukan penggelapan penerangan pada malam hari di seluruh Jawa Tengah.

Bahkan kejadian yang ditimbulkan atas keberhasilan operasi udara ini, telah menarik perhatian opini dunia luar. Radio Singapura telah menyiarkan kejadian tersebut sebagai berita penting (Head Line) dalam acara siarannya dan disebutkan mungkin sebagai kegiatan yang pertama dilakukan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia. Pokok acara yang disiarkan oleh radio Singapura tersebut adalah, bahwa AURI telah menyerang pertahanan Belanda di Semarang dan Salatiga.

 
R. Muljono (tengah) nomor tiga dari kanan
(Dari kiri ke kanan : Sutardjo, Dulrachman, Kaput, Muljono, Sutardjo Sigit, Suharnoko Harbani)


 
Pesawat Guntei

JEJAK PESAWAT PERTAMA TNI AU: P-51 MUSTANG, Si Cocor Merah
Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 merupakan titik kulminasi dari perjuangan bangsa Indonesia, yang berarti bahwa sejak saat itu bangsa Indonesia telah menjadi negara yang berdaulat dan bebas menentukan nasibnya sendiri dalam suatu kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun pernyataan kemerdekaan yang diproklamirkan tersebut, bukanlah akhir dari perjuangan bangsa Indonesia, karena Kolonial Belanda baru mengakui kedaulatan Negara Indonesia pada 27 Desember 1949 sebagai tindak lanjut dari keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haaq, Belanda tanggal 23 Agustus – 2 November 1949 yang memaksa Pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS). Pengakuan kedaulatan ini kemudian ditandai dengan penyerahan kekuasaan, baik sipil maupun militer kepada bangsa Indonesia. Salah satu fasilitas militer yang diserahkan adalah penyerahan pangkalan-pangkalan udara beserta fasilitasnya, yang dilaksanakan secara bertahap dan sebagai puncaknya adalah penyerahan Markas Besar Penerbangan Militer Belanda atau Hoofd Kwartier Militaire Luchtvaart (HKML) di Jalan Merdeka Barat Nomor 8 Jakarta Pusat kepada Angkatan Udara Republik Indonesia Serikat (AURIS) tanggal 27 Juni 1950.

Dengan telah diserahkannya seluruh fasilitas Militaire Luchtvaart (ML) kepada Pemerintah Indonesia, maka sejak saat itu AURI sudah memiliki kekuatan udara dengan berbagai macam jenis pesawat, diantaranya adalah pesawat tempur P-51D Mustang buatan Amerika Serikat, yang kemudian melalui Surat Keputusan KSAU Nomor 28/II/KS/51 tanggal 21 Maret 1951, P-51 Mustang ditempatkan di Skadron 3 Pemburu Pangkalan Udara Cililitan, Jakarta dan selanjutnya dipindahkan ke Lanud Abdulrachman Saleh, Malang pada 17 Juli 1962 dibawah Wing Operasional 002 Taktis.

P-51 Mustang adalah pesawat buru sergap jarak jauh yang sangat handal pada era perang dunia ke dua. Mustang menjadi satu-satunya pesawat tempur yang mampu melangsungkan serangan secara mandiri maupun melaksanakan tugas pengawalan terhadap pesawat pengebom. Karena kehandalannya, Mustang diproduksi ribuan dan digunakan oleh banyak angkatan udara, termasuk Indonesia. Meskipun saat itu Indonesia menerima Mustang sebagai hibah dari Belanda, namun Mustang telah menjadi tulang punggung AURI dalam menjalankan berbagai operasi militer diwilayah NKRI, bahkan mustang digunakan Indonesia untuk melawan Belanda dan sekutunya dikemudian hari.
Untuk mengawaki pesawat P-51D Mustang yang diserahkan tersebut, AURI mendatangkan para instruktur dari negara asal pesawat maupun instruktur-instruktur yang sebelumnya merupakan personel Militaire Luchtvaart. Latihan yang dilaksanakan berupa penembakan udara ke darat dan dari udara ke udara, dengan menggunakan peralatan seadanya. Melalui latihan yang terus dilakukan, maka kemampuan dan keterampilan para penerbang tempur AURI semakin meningkat, sehingga mampu membentuk satu tim aerobatik dengan menggunakan pesawat tempur P-51D Mustang.

Pembentukan tim aerobatik TNI Angkatan Udara yang pertama ini berawal dari latihan formasi pesawat yang dibimbing oleh salah satu instruktur penerbang dari Amerika Serikat bernama Leo Nooms. Latihan yang diberikan adalah Red Race, kemudian formasi String, yaitu terbang berurutan lurus ke belakang, dengan instruktur di depan dan diikuti oleh penerbang di belakangnya. Latihan ini dilakukan secara berulang-ulang sampai tingkat mahir.

Kemudian dilanjutkan latihan terbang formasi dengan dua pesawat, tiga sampai empat pesawat, dengan masing-masing pesawat saling berdekatan untuk melakukan gerakan bersama. Semua latihan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan sempurna, sehingga mendorong Leo Wattimena, Roesmin Noerjadin, Ignatius Dewanto, R.Moeljono, Hadi Sapandi dan Pracoyo, untuk membentuk tim aerobatik kebanggaan AURI pada waktu itu.
Tim aerobatik P-51D Mustang berlatih disela-sela kegiatan operasi, sehingga tim ini tidak pernah muncul di depan publik, dan sangat disayangkan salah satu penerbangnya yaitu R.Moeljono, gugur dalam kecelakaan aerobatik di Surabaya dalam rangka atraksi di Kota Surabaya pada 12 April 1951 selanjutnya jasadnya dikebumikan di Surabaya. Meskipun tim aerobatik P-51D Mustang tidak pernah tampil di depan umum dan tidak memiliki nama khusus seperti tim-tim aerobatik TNI Angkatan Udara lainnya, namun tim ini telah menjadi inspirasi bagi penerbang-penerbang AURI berikutnya untuk membentuk tim aerobatik sejenis, sehingga tim aerobatik P-51D Mustang dapat dikatakan sebagai perintis atau the pioneer dari tim-tim aerobatik kebanggaan bangsa Indonesia, khususnya TNI Angkatan Udara.
Kapten Udara Mulyono adalah putra Indonesia kelahiran Pare, Kediri pada tanggal 13 Maret 1923, semasa hidupnya ia pernah bekerja pada jawatan kereta api Madiun sebagai Hoofdmachinist di zaman Belanda sampai Zaman Jepang ( tahun 1942-1945).

Setelah menyelesaikan pendidikan H.I.S pada tahun 1936, kemudian melanjutkan pada K.E.S sebuah Sekolah Tehnik Belanda di Surabaya selesai tahun 1941. Setelah tamat K.E.S Muljono masuk M.L.D. ( Dinas Militer Belanda) di Surabaya dengan pangkat Letnan I Vliegtuig maker.
Pengabdian Muljono di AURI diawali di Sekolah Penerbang Yogjakarta yang di buka tanggal 15 November 1945. Ketika masuk sekolah penerbang ia sebagai Kadet, ia diberi pangkat Kadet Udara II. Setelah menyelesaikan pendidikan penerbang tahun 1947 ia ditempatkan di Pangkalan Udara Maospati Madiun dengan pangkat Opsir Udara III ( setingkat Kapten sekarang).
Kapten Udara Muljono gugur dalam suatu kecelakaan pesawat yang dipilotinya yakni pesawat Mustang F-340, hari itu Kamis tanggal 12 April 1951 menjelang senja kira-kira pukul 17.30. Kecelakaan terjadi di Surabaya tepatnya di desa Kedung Klinter, ketika AURI sedang mengadakan penerbangan serta demontrasi keliling jawa tepat pada ulang tahunnya ke lima. Jenazah Muljono dimakamkan di Taman Bahagia Surabaya.
Guna mengabadikan nama almarhum maka pada tanggal 16 Agustus 1952 di PAU Medan diresmikan Lapangan Olah Raga dengan nama Muljono. Begitu pula untuk mengabadikan pengabdiannya almarhum di AURI pada tanggal 7 Agustus 1982 di Lanud Iswahjudi telah diresmikan sebuah mess dengan nama Muljono yang diresmikan oleh Menhankam Pangab M. Yusuf.


Nama almarhum Kapten Udara Muljono juga diabadikan sebagai nama Lanud TNI AU di Surabaya. Mabes TNI AU melalui Surat Keputusan KSAU Nomor KEP/708/VII/2018 yang ditandatangani pada 11 Juli 2018, menginstruksikan perubahan 8 (delapan) Pangakalan TNI Angkatan Udara/Lanud. Delapan lanud yang berubah nama itu terdiri dari satu Lanud Tipe A, enam Lanud Tipe B, dan satu Lanud Tipe C. Satu diantaranya Lanud Tipe B adalah Lanud Surabaya (SBY) dirubah namanya menjadi Lanud Muljono (MUL). Penggantian nama Lanud merupakan komitmen TNI AU dalam menghargai jasa-jasa pahlawan kita, sehingga dapat memberikan kebanggaan bagi keluarga pahlawan dan memotivasi semangat juang prajurit TNI AU dalam melaksanakan tugas seperti yang disampaikan oleh Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E., M.M. pada saat memimpin upacara serah terima jabatan dan pelantikan Komandan Lanud yang naik tipe serta peresmian penggantian nama Lanud di Biak, Papua, Kamis, 26 Juli 2018.

Rabu, 02 Januari 2019

Ki Wirodiwongso ugi asmo Patih Kyai Tumenggung Kudonowarso

Bathara Guretna iku gegambaranipun Patih Kyai Tumenggung Kudonowarso nalika campuh perang ing palagan nembelas warso laminipun, kaliyan junjunganipun yawiku Raden Mas Said ugi asmo Kanjeng Pangeran Adipati Mangkunagara I.

Asmo alitipun Kudonowarso kasebat Bandhek, dewasanipun keparing asma Wirodiwongso, kasebut Ki Wirodiwongso amargi dados pamomonge Pangeran Adipati Mangkunagara I.

Lajeng kaliyan Pangeran Adipati Mangkunagara I, Ki Wirodiwongso diangkat Patih keparing asma Patih Kudanawarso, ing jaman sampun santosa diangkat dados Adipati Keduang keparing gelar Tumenggung Kudonowarso.

Ing jaman campuh prang mengsah kumpeni para mantri sesanga yawiku Jayadigrama, Malangprakosa, Dhandhang Wisomarto, Dhandhang Mandalika, Malangsemita, Bagadenta, Surawinangun, Dhandhang Pramuseta, Demang Anggaspati, lan pimpinanipun mantri yawiku Ngabei Joyosimpangan, kasebut nderek lampahipun kang Patih Kudanawarso

(Dalam silsilah R.Kyai Sosroredjo ing Dolopo Madiun, tertulis drajat diatas beliau atau tepatnya Eyang Buyut beliau adalah R. Tumenggung Kudonowarso alias Kyai Wirodiwongso)

Kamis, 30 Agustus 2018

PETILASAN-PETILASAN ING NGLAROH


Nglaroh panggenane Eyang Kyai Wiradiwongso ugi kasebat Eyang Raden Tumenggung Kudonowarso leluhure (Eyang Buyutipun Kyai Sosroredjo ing Dolopo). Nglaroh saiki kasebut Kecamatan Selogiri ing Kabupaten Wonogiri.

Ing ngisor iki sejarahipun Raden Mas Said sing didhereake Eyang Kyai Wiradiwongso kang perang klawan Kumpeni bangsa Walondo ing jaman palihan negari agung Mataram Jawi Islam kang dibagi telu dadi Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, lan Kadipaten Mangkunagaran Solo).

Raden Mas Said, iya Raden Mas Suryakusuma, karo walando kasebut Pangeran Sambernyowo, kang wekasane jumeneng Kangjeng Gusti Mangkunegara I, iku jengkare saka Kartasura anjujug ing Nglaroh saka rembuge.

Siji, Raden Sutawijaya, anak bupati ing Kartasura, ora bisa anggenteni dadi Bupati, nanging oleh tinggalan bondho, sugih dhuwit.

Loro, Kyai Wiradiwongso, pamane Raden Mas Suryakusuma dhewe saka tanah Nglaroh. Dununge tanah Nglaroh iku salore larikan gunung saka Wonogiri mangulon.

Akeh anak-anake priyayi ing Kartasura sing ndherekake Raden Mas Said utawa Raden Mas Suryakusuma mau. Kajaba iku Kyai Wiradiwongso iya nglumpukake santana ing Nglaroh, mulane Raden Mas Suryakusuma banjur sugih bala. Yen awan padha digladhi perang, yen bengi padha nyenyuwun. Ana sing sarana kungkum ing sendhang Tretes ing gunung Gajahmungkur, sendhang Pancuran, sendhang Siwani sacedhake punthuk Tenongan. Sing disesuwun, bisaa kalakon sedyane Den Mas Suryakusuma mau.

Bareng bala wis katon santosa, Raden Sutawijaya banjur ditetepake dadi panggedhening punggawa, salin jeneng aran Kyai Ngabei Ronggo Panambangan. Dene Kyai Wiradiwongso diangkat dadi pepatih, aran Kyai Ngabei Kudanawarsa. Tekaning jaman tentrem diangkat dadi Tumenggung ing Keduwang. Sarehne Kyai Tumenggung Kudanawarsa iku asli Nglaroh, mulane bareng seda, iya disarekake ana tanah Nglaroh, ing desa Mantenan. Malah ing kono ana watu tilas palenggahane Raden Suryakusuma.

Pasareane Kyai Tumenggung Kudanawarso, foto taun 1930-an

Kajaba iku Raden Mas Suryakusuma iya nyedhakake wong-wong tuwa, kena diguroni lan ditakon- takoni, kaya upamane Kyai Kasan Nuriman. Iku pasareane ana ing desa Karangtengah, iya ing tanah Nglaroh.

Pasareane Kyai Kasan Nuriman, foto taun 1930-an.

Malah jaman samana Raden Mas Suryakusuma mundhut ampeyan anake Kyai Kasan Nuriman, wekas-wekasane diangkat dadi garwa, peparab Raden Ayu Matahati, sumare ana ing Gunungwijil, iya tanah Nglaroh.

Pasareane Raden Ayu Matahati, foto taun 1930-an.

Ana tanah Nglaroh, Radèn Mas Suryakusuma bisa katog anggone keklempak wadyabala, ingkang rayi loro diangkat, kajaba iku iya ngangkat punggawa cacah 22, lajeng bisa keklempak ngantos 40 punggawa cacahe, kabeh punggawa mau padha diparingi jeneng jaya-jaya, kaya ta: Jaya Prawira, Jaya Panantang, Jaya Pamenang, Jaya Leyangan, sapiturute.

Para punggawa lan wadyabala wis katon santosa lan prigel ulah gegaman, padha kepengin diajokake perang. Dhek samono ing Kartasura pinuju ana geger. Kaceluke diarani geger pacina. Bongsa Cina padha ngraman, Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan nganti linggar menyang Panaraga, kraton Kartasura dijegi Cina, sing banjur ngangkat Raden Mas Garendi, jumeneng ratu asma Sunan Kuning. Nanging Ingkang Sinuhun Kangje Walandi, bisa wangsul maneh jumeneng ana Kartasura. Dene Sunan Kuning kengser, alihan ana desa Randhulawang.

Lah, nalika iku karsane Raden Mas Suryakusuma, arep ngumpul Sunan Kuning, ngiras neter kekendelane wadyabala. Sunan Kuning bungah, malah Raden Mas Suryakusuma banjur diangkat dadi senapati, jejuluk: Pangeran Prangwadana.

Pangeran Prangwadana katon banget kekendelane. Nanging balane Sunan Kuning ora kuwat nanggulangi bala Kartasura lan Kumpeni, nganti Sunan Kuning kengser maneh saka Randhulawang. Pangeran Prangwadana banjur kondur mênyang Nglaroh.

Ana ing Nglaroh dielud karo bala Kartasura lan Kumpeni. Banjur Pangeran Prangwadana nusul Sunan Kuning menyang Kaduwang, malah banjur andherekake tekan Panaraga, Madiun lan Caruban. Ana ing Caruban, pepisahan. Sunan Kuning mangetan menyang Pasuruan, Pangeran Prangwadana mangulon menyang tanah Sukawati, yasa padaleman ana Jatirata. Ditempuh bala Kartasura lan Kumpeni, kengser menyang tanah Matesih, lerem ana desa Sigawe.

Anuli utusan yasa padaleman ana Panambangan, dadi bali menyang tanah Nglaroh maneh. Padalemane dirakit kaya kraton nganggo alun-alun kanggo ajar-ajaran perang.

Nalika iku Kangjeng Pangeran Prangwadana wis salin jejuluk Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara, mangkono uga Kyai Ngabei Kudanawarsa diangkat dadi Tumenggung. Sarta Kyai Ngabèi Ronggo Panambangan salin jeneng Tumenggung Surawijaya.

Sabên taun ing sasi Sapar, akèh wong padha mêmule mênyang gunung Wijil pasareyane Radèn Ayu Matahati, banjur ana priyayi pangrèh praja sing duwe ada, bab mêmule mau digêdhèkake, nganggo dianakake pasar malêm, papane ana ngarêp kapanèwon Selagiri, mangkono iku andadèkake kêparênge nagara (Praja Mangkunagaran). Malah para panggêdhe kaparêng yasa têtêngêr pisan, dhapur kang wujud  "Tugu Pêpundhèn" ing saiki dina kasebut "Tugu Pusaka Selagiri", minăngka kagem pangeling-eling jumênênge Kangjêng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara kaping I ugi asma Kanjeng Gusti Pangeran Sambêrnyawa, dhèk taun 1936 dipasang pandhêmène, pambukake diasta dhewe marang Kangjêng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunagara kaping VII.

Tugu Pêpundhèn ing Nglaroh, Tugu pèngêtan jumênêngan Kangjêng Gusti Sambêrnyawa.

Kaanane pasar malêm lan karamean mau. Bango-bango pasar, kanggo panggonan mitongtonake barang gêgawean, woh-wohan lan pamêtuning lêmah liyane:

Barang-barang padhas saka Wuryancara, kaya ta: pot, rêca, kijing, malah ana wong sing panuju anggarap barang padhas mau. Mangkono uga wayang, ana wong sing lagi natah lan nyungging. Jarik bathik lan êcap saka Matesih. Lurik saka Betal lan Tasikmadu. Barang wêsi lan kayu, kaya ta: kathil, pancak suji, meja kursi, gaweane murid patukangan ing Calamadu. Isih akèh manèh barang-barang gawean. Nganti wong-wong padha kêpengin tuku. Karsane sing gawe tontonan: wong-wong padha kêtarika atine duwe katabêrèn bisa gawe kaya ngono.

Ana manèh tontonan kewan. Sing padha duwe turunan saka sapi pamacêk, didhawuhi anggawa mênyang pasar malêm, sing apik dhewe, tămpa ganjaran, mulane sapi-sapi sing ditontonake mau iya apik-apik kabèh. Ana papan jêmbar, dikothak-kothak ditanduri sawarnane tanduran, panggarape dituntuni dêmang tani lan priyayi sing luwih mangrêti manèh, mula tanduran mau kabèh andêmênakake.

Lah, karameane: ana gambar idhup, wayang, kêthoprak, dhogèr sapêpadhane. Saiki pasamuan rawuh dalêm sampeyan dalêm kangjêng gusti sakalihan garwa dalêm Gusti Kangjêng Ratu Timur. Dina Ngahat surya kaping 3 Mèi 1936, wayah jam pitu esuk, para priyayi kakung putri wis andhèr ana ngarêp tugu pêpundhèn. Prajurit Mangkunagaran samusike, kyai pangulu saandhahane para ngulama, ing dalan saubênge papan sing diêdêgi tugu, kêbak barisan kridha mudha lan padpindêr.

Rawuh dalêm kangjêng gusti nitih oto, têkane Selagiri dijajari para satriya nunggang jaran tèji. Sawise kangjêng gusti ambikak tugu, banjur lênggah ing panggung sajroning pasar malêm. Wah, la kuwi, dhi, karameane apik bangêt. Para satriya mitongtonake kaprigêlane nunggang jaran. Para padpindêr, kridha mudha, padha manêmbrama, baris, ulahraga warna-warna. Ana manèh balapan lumayu saka gunung Tenongan.

 

Kapundhut saking majalah Bocah Mangkunagaran, anggitaniupun Yasawidagda, 1937, 
wedalan Bale Pustaka, Batawi Sentrem.


















Senin, 23 April 2018

Kabudayan Paugêraning Taun Jawa

--- 0 ---
Kang bisa nyakup marang antarane: Kabudayan Jawa Asli, Kabudayan Hindhu lan, Kabudayan Arab
PAMBUKA WÊWADINING NÊPTU TAUN LAN SASI
Kawêdharake dening R. Tanaya
Surakarta 1971 Masèhi. Kagiyarake lagi tumrap kagêm kawigatène para kadang mitra trêsna budaya
--- 2 ---
Isi buku iki
KABUDAYAN PAUGÊRANING TAUN JAWA ...
Khuruf utawa Huruf ...
Abjad utawa Abujid ...
Nêptu utawa Noktah ...
Saptawara lan Pancawara ...
Dina Kawitane Windu Jawa ...
Pambuka Wêwadine Araning Taun Jawa sarta Nêptune ...
Pasaran Kawitaning Taun Jawa ...
Khuruf Alif Jam'iyah Lêgi ...
Khuruf Alif Kamsiyah Kliwon ...
Khuruf Alif Arba'iyah Wage ...
Khuruf Alif Salasiyah Pon ...
Pambuka Wêwadine Nêptune Sasi ...
Luwih Sampurna Pakartine sarana ingowahan asline…
Bab Owahing arane sasi 'Arab sawise dadi sasi Jawa ...
TAUN JAWA SARTA GÊGAYUTANE KARO:
Maulud Nabi Mukhammad s.a.w ...
Garêbêg Mulud taun Soma Wrêcita ...
Taun Soma Wrêcita wiwit kalingan pêpêdhut ...
Sumilaking pêpêdhut ...
KABUDAYAN TAUN JAWA PANYAKUPE MARANG BABAGAN WUKU LAN MASA-WUKU…
Sasi Jawa lan umure pirang dina ...
Taun Jawa lan umure pirang dina ...
Windu Jawa lan umure pirang dina ...
Taun lan Windu sarta Tumbuking Wuku ...
Tumbuking Wuku lan Masa-Wuku sarta Taun lan Windu ...
Laku-jantraning Masa-wuku ing dalêm 4 windu ...
PATHOKANE ANGGOLÈKI MASA-WUKU SARTA WINDU LAN TAUN JAWA ...
SANATU'LHIJRAT UTAWA TAUN HIJRAH ...
PANANGGALAN JAWA 120 TAUN KHURUF ALIP SALASIYAH PON ...
--- 3 ---
KABUDAYAN PAUGÊRANING TAUN JAWA
Kawêdharake dening R. Tanaya
Ing nusa Jawa wiwit sajroning abad 8 Masèhi, kasumurupan wis kêlaku tumindake angkaning tahun Saka kanggo titimasa, iya iku wiwit jaman Kêraton Jawa Hindhu, sabanjure nganti tumêka jaman Karajan Jawa Islam ing Mataram, alame Sri Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma.
Dene taun Saka iku awêwaton taun Syamsiyah, iya iku taun miturut petungan srêngenge, wiwit tumapake taun 1 Saka, kapetung wiwit jumênênge Nata Prabu Saliwagna ing tanah Hindhu, marêngi 14 Marêt 78 Masèhi, panjênêngane nata iku narendra bangsa Sakya, misuwure asmane nganti tumêka ing nusa Jawa kasêbut Sang Prabu Saka iya Sang Aji Saka.
Barêng tumêka jaman Karaton Jawa Islam ing Mataram, ing sajumênêng dalêm Sri Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma, ana kêparênging karsa nata yasa paugêraning taun Jawa, awêwaton taun Kamariyah, iya iku taun miturut petungan rêmbulan, kang bisa nyakup antarane kabudayan Jawa, Hindhu lan Arab, kaya ta:
1. Panyakupe kabudayan Jawa: anggone bisa mêngku dina lan pasaran kang bisa tumbuk sabên sawindu, sarta bisa mêngku pawukon kang bisa tumbuk sabên rong windu, tuwin bisa mêngku masa wuku kang bisa tumbuk sabên patang windu.
2. Panyakupe kabudayan Hindhu: anggone nglêstarèkake tumindake angkaning taun Saka 1555 kang maune awêwaton taun Syamsiyah, banjur kadadèkake angkaning taun Jawa 1555 kang awêwaton taun Kamariyah.
3. Panyakupe kabudayan Arab: anggone migunakake wêwaton taun Kamariyah, nganggo sasi 12 miturut aran lan tatananing sasine taun Arab, kang wigati tumrap kanggo nindakake prêluning agama Islam.
--- 4 ---
Barêng yasan dalêm paugêraning taun Jawa iku wis kalakon kaanggit, kalayan mufakate para sujana sarjana ahlu'nnujum, banjur wiwit katindakake tumapake ana ing nusa Jawa lan Madura (kajaba ing Bantên kang ora kalêbu wilayah Mataram), marêngi ing taun Saka 1555.
Mungguh paugêraniung taun Jawa kang awêwaton taun Kamariyah, iku nganggo sasi 12, miturut aran lan tataning sasine taun Arab, kang uga sinêbut sanatu'lhijrat utawa taun Hijrah, ing dalêm sasasi-sasine kawiwitan umur 30 dina, gêntèn karo 29 dina.
Kasêbut ing ngisor iki, pratelane sasi 12, miturut aran lan tatananing sasine taun Arab, kang katulad lan banjur kadadèkake kanggo sasine taun Jawa.
1. Muharram umure 30 dina
2. Shafar umure 29 dina
3. Rabi'u'lawal umure 30 dina
4. Rabu'u'lakhir umure 29 dina
5. Jumadi'lawal umure 30 dina
6. Jumadi'lakhir umure 29 dina
7. Rajab umure 30 dina
8. Sya'ban umure 29 dina
9. Ramadlan umure 30 dina
10. Syawwal umure 29 dina
11. Zu'lkaedah umure 30 dina
12. Zu'lhijjah umure 29 dina
Yèn taun Wastu, gunggung 354 dina
Yèn taun Wuntu, umure sasi Zu'lhijjah wuwuh 1 dina
Gunggung yèn taun Wuntu 355 dina
Kaya kang kasêbut pratelan ing dhuwur iku, sabên 12 sasi utawa sataune umur 354 dina yèn nuju taun Wastu, utawa umur 355 dina yèn nuju taun Wuntu (kang umure sasi Zu'lhijjah dadi 30 dina).
--- 5 ---
Ananging paugêraning taun Jawa iku ora nganggo windu kang mêngku taun 30 kaya windune taun Hijrah, awit paugêraning taun Jawa iku anduwèni cara dhewe, nganggo windu kang mêngku taun 8, iya iku kang dadi sabab bedane taun Jawa karo taun Hijrah.
Sabên kawiwitan taun Jawa iku mêsthi sabên tanggal sapisan ing sasi kang sêpisan, dadi sabên salining taun mêsthi tumbuk tanggal lan sasine.
Sabên 8 taun diarani windu, sabên salining windu iku mêsthi tumbuk tanggal, sasi lan taune, sarta tumbuk dina lan pasarane.
Sabên wis kêlakon 2 windu, ngancike ing kawitaning windu kang kaping 3, iku mêsthi tumbuk wulane, kaya ing kawitaning windu kang sapisan.
Sabên wis kêlakon 4 windu, ngancike bali marang kawitaning windu kang sêpisan manèh, iku mêsthi tumbuk tanggal, sasi lan taune, sarta tumbuk dina lan pasarane, wuwuh tumbuk wuku lan masa wukune.
Dadi paugêraning taun Jawa iku nganggo windu 4:
1. Windu Adi.
2. Windu Kunthara.
3. Windu Sangara.
4. Windu Sancaya.
Sabên sawindune mêngku taun 8:
1. Taun kang sapisan, iku taun Wastu.
2. Taun kang kapindo, iku taun Wuntu.
3. Taun kang katêlu, iku taun Wastu.
4. Taun kang kapat, iku taun Wastu.
5. Taun kang kalima, iku taun Wuntu.
6. Taun kang kanêm, iku taun Wastu.
7. Taun kang kapitu, iku taun Wastu.
8. Taun kang kawolu, taun Wuntu.
Wondene wêwatone bab iki ora nulad kabudayan Arab, nanging tuwuh saka kabudayan Jawa dhewe.
--- 6 ---
Sabên sawindu Jawa (8 taun), mengku taun Wuntu 3, dadi ing dalêm 15 windu (120 taun) mêngku taun Wuntu 3x15 = 45.
Dene watone taun Hijrah, nganggo windu kang mêngku taun 30, sabên sawindu (30 taun) mêngku taun Wuntu 11, dadi ing dalêm 4 windu (120 taun) mêngku taun Wuntu 11 x 4 = 44.
Awit saka iku, murih petungan taun Jawa tansah ana salarase karo petungan taun Hijrah, sabên petungane taun Jawa wis kêlakon tumindak 15 windu (120 taun), banjur dikurangi 1 dina umure taun Wuntu kang wêkasan,ing sanalika kono mung kadadèkake taun Wastu bae.
Kalayan rêrigên mangkono, dadi nyababake salining dinane kang tinêngêran ing khuruf.
Sabên salin dinane kang tinêngêran ing khuruf, dina kawitaning windu (iya iku sabên tanggal 1 sasi Muharram ing taun kang kawitan kang akhire disêbut taun Alif) banjur mingsêr maju sadina, upama maune khuruf Alif Jam'iyah, mungsêre marang khuruf Alif Kamsiyah, dina kawitaning windu Jum'at mingsêr marang Kêmis.
Dene mingsêre khuruf Alif Kamsiyah marang khuruf Alif Arba'iyah, dina kawitaning windu Kamis mingsêr maju marang Rêbo. Mangkono uga mingsêre khuruf Alif Arba'iyah marang khuruf Alif Salasiyah, dina kawitaning windu Rêbo mingsêr maju marang Sêlasa.
Khuruf utawa Huruf
Têmbung khuruf iku asale saka têmbung 'Arab: huruf, têgêse: aksara. Mungguh urut-urutane aksara-aksara Arab iku unine: alif, ba, ta, tza, jim, lan sabanjure.
Abjad utawa Abujid
Ing kunane wong Arab migunakake aksara-aksarane uga kadadèkake angka, minangka têtêngêring wilangan, mungguh urut-urutane mangkene:
--- 7 ---
Alif kadadèkake angka 1
Ba (Be) kadadèkake angka 2
Jim kadadèkake angka 3
Dal kadadèkake angka 4
Ha (Ehe) kadadèkake angka 5
Wau (Wawu) kadadèkake angka 6
Zai (Je) kadadèkake angka 7 lan sabanjure.
Iku yèn kajupuk 4 aksara kang kawitan (alif ba jim dal = a b j d dadi muni: abjad utawa abujid, kang banjur dadi araning urut-urutane aksara-aksara kang kadadèkake angka, minangka têtêngêring wilangan mau.
Dadi basa "abjad" iku dhèk biyène kanggo nyêbut: urut-urutane aksara Arab kang kapigunakake kanggo angka, iya iku: alif ba jim dal, lan sabanjure. Ananging ing saikine uga kanggo nyêbut: urut-urutane aksara Arab: alif ba ta, lan sabanjure.
Dene basa "abujid", iku ing kunane atêgês: dina Sabtu, iya iku dina kawitan miturut etungan dina wong Islam. Ananging samêngkone dina Sabtu iku atêgês: dina lèrèn, utawa dina kang kapitu kapetung saka dina Akad dina kang sapisan.
Nêptu utawa Noktah
Nêptu utawa noktah iku iya asal saka têmbung Arab, têgêse: cêcêk. Tumrape ing kene cêcêk mau atêgês: atêr utawa ancêr urut-urutaning wilangan, kang banjur tinêngêran ing aksara (khuruf utawa huruf) miturut urut-urutaning abjad utawa abujid, kang aksara mau uga dadi angka minangka têngêring wilangan.
Uga tumrap ing kene, nêptu mau arupa angka, kang milang tibane ing dina pitu utawa tibane ing pasaran lima, ing kawitaning taun utawa kawitaning sasi. Karana sawiji-wijining taun utawa sasi iku padha anduwèni nêptu kang kanggo milang tibane ing dina pitu utawa tibane ing pasaran lima, ing kawitaning taun utawa kawitaning sasi mau.
--- 8 ---
Saptawara lan Pancawara
Wiwit ing kuna mula, wong Jawa wis migunakake petungan wêktu kang disêbut saptawara lan pancawara.
Saptawara, têgêse: dina kang pitu wilangane, dene arane sawiji-wiji kang asal saka Jawa dhewe mangkene: 1: Dite, 2: Soma, 3: Anggara, 4: Buddha, 5: Rêspati, 6: Sukra, 7: Saniscara utawa Tumpak. Akhire dirangkêpi aran kang asal saka Arab mêngkene: 1: Ahad, 2: Sênèn, 3: Sêlasa, 4: Rêbo, 5: Kêmis, 6: Jum'at, 7: Sabtu.
Pancawara, têgêse: dina kang lima wilangane, kang saikine lumrah sinêbut pasaran, dene arane sawiji-wiji asal saka Jawa dhewe mangkenè: 1. Lêgi, 2. Paing, 3. Pon, 4. Wage, 5. Kliwon, sarta ana rangkêpane aran mangkene: 1. Pêthakan, 2. Abritan, 3. Jênean, 4. Cêmêngan, 5. Mancawarna.
Dina Kawitane Windu Jawa
Dina kawitaning windu Jawa, iya iku tanggal 1 sasi Muharram ing taun kang kawitan kang akhire disêbut taun Alif, yèn tiba ing dina: disêbut:
Jum'at miturut Khuruf Alif Jam'iyah
Kêmis miturut Khuruf Alif Kamsiyah
Rêbo miturut Khuruf Alif Arba'iyah
Sêlasa miturut Khuruf Alif Salasiyah
Sênèn miturut Khuruf Alif Isnainiyah
Ahad miturut Khuruf Alif Ahadiyah
Sabtu miturut Khuruf Alif Sabtiyah
Wiwit Tumindake Taun Jawa
Wiwit tumindake taun Jawa nalika samana, marêngi ing dina Jum'at Lêgi, tanggal sapisan sasi Muharram ing taun kang kawitan (Alif), windu Kunthara, nuju wuku Kulawu, wuku masa Prangbakat, masa wuku Kasanga, angkaning taun Saka 1555 (kang maune nganggo petungan srêngenge), kalêstarèkake kanggo angkaning taun Jawa
--- 9 ---
1555 kang banjur kanggo petungan taun rêmbulan. Ing wêktu iku marêngi tanggal sapisan sasi Muharram sanatu'lhijrat (taun Hijrah) 1043, utawa marêngi surya kaping 8 Juli sanatu'lmiladiyah (taun Miladi utawa Masèhi) 1633.
Pambuka Wêwadine Araning Taun Jawa sarta Nêptune
Nalika samana, miturut petung: tanggale 1 sasi Muharram ing:
Taun kang kawitan, tiba ing dina Jum'at.
Taun kang kapindho tiba ing dina Sêlasa
Taun kang katêlu tiba ing dina Ahad
Taun kang kapat tiba ing dina Kêmis
Taun kang kalima tiba ing dina Sênèn
Taun kang kanêm tiba ing dina Sabtu
Taun kang kapitu tiba ing dina Rêbo
Taun kang kawolu tiba ing dina Ahad
Iya dina Jum'at (kawitaning taun kang kawitan) iku nalika samana kang dadi atêr kawitaning nêptu 1, banjur tinêngêran angka 1, miturut abjad arupa khuruf Alif, mula khuruf Alif iku uga banjur kadadèkake araning taun kang kawitan mau, aran taun Alif, nêptune 1.
Dene dina Sêlasa (kawitaning taun kang kapindho) iku yèn kawilang saka ing dina Jum'at, tiba ing atêr nêptu 5, banjur tinêngêran angka 5, miturut abjad arupa khuruf Ehe, mula khuruf Ehe iku banjur kadadèkake araning taun kang kapindho mau, aran taun Ehe, nêptune 5.
Dene dina Ahad (kawitaning taun kang katêlu) iku yèn kawilang saka ing dina Jum'at, tiba ing atêr nêptu 3, banjur tinêngêran angka 3, miturut abjad arupa khuruf Jim, mula khuruf Jim iku uga banjur kadadèkake araning taun kang katêlu mau, aran taun Jim, nêptune 3.
Dene dina Kêmis (kawitaning taun kang kapat) iku yèn kawilang saka dina Jum'at, tiba ing atêr nêptu 7, banjur tinêngêran angka 7, miturut abjad arupa khuruf Je, mula khuruf Je iku uga banjur kadadèkake araning taun kang kapat mau, aran taun Je,
--- 10 ---
nêptune 7.
Dene dina Sênèn (kawitaning taun kang kalima) iku yèn kawilang saka ing dina Jum'at, tiba ing atêr nêptu 4, banjur tinêngêran angka 4, miturut abjad arupa khuruf Dal, mula khuruf Dal iku uga banjur kadadèkake araning taun kang kalima mau, aran taun Dal, nêptune 4.
Dene dina Sabtu (kawitaning taun kang kanêm) iku yèn kawilang saka dina Jum'at, tiba ing atêr nêptu 2, banjur tinêngêran angka 2, miturut abjad arupa khuruf Be mula khuruf Be iku uga banjur kadadèkake araning taun kang kanêm mau, aran taun Be, nêptune 2.
Dene dina Rêbo (kawitaning taun kang kapitu) iku yèn kawilang saka ing dina Jum'at, tiba ing atêr nêptu 6, banjur tinêngêran angka 6, miturut abjad arupa khuruf Wawu, mula khuruf Wawu iku uga banjur kadadèkake araning taun kang kapitu mau, aran taun Wawu, nêptune 6.
Dene dina Ahad (kawitaning taun kang kawolu) iku yèn kawiwitan saka ing dina Jum'at, tiba ing atêr nêptu 3 banjur tinêngêran angka 3, miturut abjad arupa khuruf Jim, mula khuruf Jim iku uga banjur kadadèkake araning taun kang kawolu mau, aran taun Jim, nêptune 3.
Ing kene tinêmu ana taun loro kang tunggal nêptune 3, lan padha aran taun Jim, iya iku taun kang katêlu lan banjur ingaran taun Jimawal, têgêse taun Jim kang kawitan, dene taun kang kawolu banjur ingaran taun Jimakhir, têgêse taun Jim kang wêkasan.
Pasaran Kawitaning Taun Jawa
Nalika samana, miturut petung: tanggale 1 sasi Muharram ing
--- 11 ---
Taun Alif tiba ing pasaran Lêgi
Taun Ehe tiba ing pasaran Kliwon
Taun Jimawal tiba ing pasaran Kliwon
Taun Taub Je tiba ing pasaran Wage
Taun Dal tiba ing pasaran Pon
Taun Be tiba ing pasaran Pon
Taun Wawu tiba ing pasaran Paing
Taun Jimakhir tiba ing pasaran Lêgi
Iya pasaran Lêgi (kawitaning taun Alif) iku nalika samana kang dadi atêr kawitaning nêptu 1, mula pasarane taun Alif iku nêptune 1.
Dene pasaran Kliwon (kawitaning taun Ehe) iku yèn kawilang saka ing pasaran Lêgi, tiba ing atêr nêptu 5, mula pasarane taun Ehe iku nêptune 5.
Dene pasaran Kliwon (kawitaning taun Jimawal) iku yèn kawilang saka ing pasaran Lêgi, tiba ing atêr nêptu 5, mula pasarane taun Jimawal iku nêptune 5.
Dene pasaran Wage (kawitaning taun Je) iku yèn kawilang saka ing pasaran Lê, tiba ing atêr nêptu 4, mula pasarane taun Je iku nêptune 4.
Dene pasaran Pon (kawitaning tahun Dal) iku yèn kawilang saka ing pasaran Lêgi, tiba ing atêr nêptu 3, mula pasarane taun Dal iku nêptune 3.
Dene pasaran Pon (kawitaning taun Be) iku yèn kawilang saka ing pasaran Lêgi, tiba ing atêr nêptu 3, mula pasarane taun Be iku nêptune 3.
Dene pasaran Paing (kawitaning taun Wawu) iku yèn kawilang saka pasaran Lêgi, tiba ing atêr nêptu 2, mula pasarane taun Wawu iku nêptune 2.
Dene pasaran Lêgi (kawitaning taun Jimakhir) iku yèn kawilang saka ing pasaran Lêgi, tiba ing atêr nêptu 1, mula pasarane taun Jumakhir iku nêptune 1.
--- 12 ---
Khuruf Alif Jam'iyah Lêgi
Awit saka iku, nalika samana, miturut petung: tanggale 1 sasi Muharram ing
Taun ... Dinane ... Nêptu ... Pasarane ... Nêptu
Alif ... Jum'at ... 1 ... Lêgi ... 1
Ehe ... Sêlasa ... 5 ... Kliwon ... 5
Jimawal ... Ahad ... 3 ... Kliwon ... 5
Je ... Kêmis ... 7 ... Wage ... 4
Dal ... Sênèn ... 4 ... Pon ... 3
Be ... Sabtu ... 2 ... Pon ... 3
Wawu ... Rêbo ... 6 ... Paing ... 2
Jimakhir ... Ahad ... 3 ... Lêgi ... 1
Petung kasêbut ing dhuwur iku, dina kawitaning windu, iya iku tanggal 1 sasi Muharram ing taun Alif, tiba ing dina Jum'at Lêgi, mula banjur disêbut: miturut khuruf Alif Jam'iyah Lêgi.
Tumindake khuruf Alif Jam'iyah Lêgi iku, wiwit ing taun Alif 1555 nganti tumêka ing taun Jimakir 1674. (Dadi tumindak ing dalêm 120 taun).
Khuruf Alif Kamsiyah Kliwon
Barêng wiwit ing taun Alif 1675 nganti tumêka ing taun Ehe 1748, kang tumindak khuruf Alif Kamsiyah, (mung tumindak ing dalêm 74 taun). tanggal 1 sasi Muharram ing
Taun ... Dina lan ... Pasarane: ... Nêptune ajêg
Alif ... Kêmis ... Kliwon ... 1 - 1
Ehe ... Sênèn ... Wage ... 5 - 5
Jimawal ... Sabtu ... Wage ... 3 - 5
Je ... Rêbo ... Pon ... 7 - 4
Dal ... Ahad ... Paing ... 4 - 3
Be ... Jum'at ... Paing ... 2 - 3
Wawu ... Sêlasa ... Lêgi ... 6 - 2
Jimakhir ... Sabtu ... Kliwon ... 3 - 1
--- 13 ---
Pèngêtan ing dalêm primbon nyêbutake: Kala ing wêkasanipun taun angka 1748, saking dhawuh dalêm Ingkang Sinuhun Kangjêng Susuhunan Pakubuwana V ing Surakarta, etanging taun kaewahan, sarana kalangkahakên sadintên, sawingkingipun dintên Kêmis tanggal kaping 29 wulan Bêsar taun Ehe angka 1748, lajêng kacandhakakên ngetang Jum'at tanggal 1 wulan Sura taun Jimawal angka 1749.
Sawênèhing sarjana ngêndikakake, yèn salining khuruf alif kamsiyah Kliwon marang Khuruf Alif Arba'iyah Wage, lagi kêlakon wiwit ing taun Jimawal 1749, iku satêmêne wis kasèp 2 taun, pancène wiwit ing taun Alif 1747 wis salin Khuruf Alif Arba'iyah Wage.
Khuruf Alif Arba'iyah Wage
Barêng wiwit ing taun Jimawal 1749 nganti tumêka ing taun Jimakhir 1866, kang tumindak Khuruf Alif Arba'iyah Wage, (tumindak ing dalêm 118 taun) tanggale 1 sasi Muharram ing
Taun ... Dina lan Pasarane ... Nêptune ajêg
Alif ... Rêbo Wage ... 1 - 1
Ehe ... Ahad Pon ... 5 - 5
Jimawal ... Jum'at Pon ... 3 - 5
Je ... Sêlasa Paing ... 7 - 4
Dal ... Sabtu Lêgi ... 4 - 3
Be ... Kêmis Lêgi ... 2 - 3
Wawu ... Sênèn Kliwon ... 6 - 2
Jimakhir ... Jum'at Wage ... 3 - 1
Dene salining Khuruf Alif Arba'iyah Wage marang Khuruf Alif Salasiyah Pon, miturut layang dhawuh Nagara Surakarta, kang wis kapacak ing layang Kabar Paprentahan, kang mêtu ing tanggal kaping 15 Dhesèmbêr 1935, angka 24, surasane kaya ing ngisor iki.
--- 14 ---
Golongan Sekrêtari.
Angka 1467 A/I.
Bab Salinipun Khuruf, Arba'iyah dados Salasiyah.
Dhawuhipun pêpatih dalêm, dhumatêng abdi dalêm Bupati ... paring sumêrêp, nagari nampèni palapuranipun pangarsaning pahêman Radyapustaka, mratelakakên salining Khuruf taun Jawi punika sampun kapathok sabên 120 taun majêng sadintên, sarta benjing Alif 1867 ngajêng punika kalêrês salining Khuruf, Arba'iyah dados Salasiyah. Kêjawi punika Nagari ugi nampèni nota saking kantor guprênuran katitimasan kaping 18 Dhesèmbêr 1934 angka A / 14312 / 29, mratelakakên, badhe salinipun Khuruf malih wontên ing taun 1746 + 120 = 1866, inggih punika taun Jimakhir 1866 punika botên kaangge taun wuntu, dados tanggalipun Sapisan Sura, Alif 1867 ngajêng punika lajêng majêng sadintên, kadhawahakên ing tanggal 24 Marêt 1936 (marêngi ing dintên Sêlasa Pon). Makatên wau pamanggihipun abdi-dalêm Pangulu, wêwaton pêpetanganipun abdi-dalêm ahli Falak sampun mrayogèkakên. Mênggah rêmbag badhe salining Khuruf wau, Papatih-dalêm sampun saos unjuk saandhap ing Sampeyan-dalêm Ingkang Wicaksana Ingkang Sinuhun Kangjêng Susuhunan, dhawuhing timbalan-dalêm sampun marêngakên. Awit saking punika lajêng kadhawuhan andhawuhakên waradin dhatêng wêwêngkon Kabupatèn ... supados sami sumêrêp.
Khuruf Alif Salasiyah Pon
Barêng wiwit ing taun Alif 1867 nganti tumêka ing besuk taun Jimakhir 1986, kang tumindak Khuruf Alif Salasiyah Pon, (kapetung bakal tumindak ing dalêm 120 taun), tanggale 1 sasi Muharram ing
Taun ... Dina lan ... Pasarane ... Nêptune ajêg
Alif ... Sêlasa ... Pon ... 1 - 1
Ehe ... Sabtu ... Paing ... 5 - 5
Jimawal ... Kêmis ... Paing ... 3 - 5
--- 15 ---
Je ... Sênèn ... Lêgi ... 7 - 4
Dal ... Jum'at ... Kliwon ... 4 - 3
Be ... Rêbo ... Kliwon ... 2 - 3
Wawu ... Ahad ... Wage ... 6 - 2
Jimakhir ... Kêmis ... Pon ... 3 - 1
Pambuka Wêwadine Nêptune Sasi
Cêcêkakaning têmbung-têmbung kang kapigunakake kanggo ngèngêt-èngêt Nêptuning Sasi, kêna kanggo waton salawase.
Petung Nêptuning Sasi iki prêlu kanggo metung Nêptuning Tanggal, kang atêgês Tanggal, iku dadi têtêngêring wilangan kang bisa nuduhake: dina lan pasaran tibaning tanggal sapisan ing sa-sasi-sasine, sajrone sataun utawa sawindu, pangetunge kawiwitan saka sawiji-wijining Khurufing Taun, iya iku dina lan pasaran kawitaning sasi Muharram ing sa-taun-taune, padha kanggo kawitaning pangetung Nêptuning Tanggal, ing ngisor iki pratelane:
1. Ram ji ji ... karêpe ... Muharram ... 1, 1
2. Far lu ji ... karêpe ... Shafar ... 3, 1
3. Ra-wal pat ma ... karêpe ... Rabi'u'lawal ... 4, 5
4. Ra-khir nêm ma ... karêpe ... Rabi'u'lakhir ... 6, 5
5. Ju-wal tu pat ... karêpe ... Jumadi'lawal ... 7, 4
6. Ju-khir ro pat ... karêpe ... Jumadi'lakhir ... 2, 4
7. Jab lu lu ... karêpe ... Rajab ... 3, 3
8. Ban ma lu ... karêpe ... Sya'ban ... 5, 3
9. Dlan nêm ro ... karêpe ... Ramadlan ... 6, 2
10. Wal ji ro ... karêpe ... Syawwal ... 1, 2
11. Dah ro ji ... karêpe ... Zu'lkaedah ... 2, 1
12. Jah pat ji ... karêpe ... Zu'lhijjah ... 4, ... 1
Angka ing sawurining sasi, angka ing ngarêp iku Nêptuning Dinane, dene angka ing buri iku Nêptuning Pasarane.
--- 16 ---
Sajroning tumindak Khuruf Alif Salasiyah Pon, yèn arêp ngupaya tibaning dina lan pasaran ing tanggal sapisan sa-sasi-sasine, yèn ing taun:
Alif kawiwitan saka ing Sêlasa Pon
Ehe kawiwitan saka ing Sabtu Paing
Jimawal kawiwitan saka ing Kêmis Paing
Je kawiwitan saka ing Sênèn Lêgi
Dal kawiwitan saka ing Jum'at Kliwon
Be kawiwitan saka ing Rêbo Kliwon
Wawu kawiwitan saka ing Ahad Wage
Jimakhir kawiwitan saka ing Kêmis Pon
Cêcêkakaning têmbung-têmbunge:
A sa pon karêpe Alif Sêlasa Pon
He tu ing karêpe Ehe Sabtu Paing
Wal mis ing karêpe Jimawal Kêmis Paing
Je nèn gi karêpe Je Sênèn Lêgi
Dal ngat won karêpe Dal Jum'at Kliwon
Be bo won karêpe Be Rêbo Kliwon
Wu had ge karêpe Wawu Ahad Wage
Khir mis pon karêpe Jimakhir Kêmis Pon
--- 17 ---
[Grafik]
Kang kasêbut ing sangisoring kolom angka 1, iku dina lan pasaran kawiwitan taun kang tinamtu, kang kanggo kawitaning pangetung, Dene kang kasêbut ing sangisoring kolom angka 2, 3, 4, saurute, iku dina lan pasaran tibaning tanggal sapisan ing sasi kang tinamtu miturut Nêptune, kang cocog karo Angkane ing kolom.
--- 18 ---
Dadi Luwih Sampurna Pakartine sarana ingowahan asline
Petung kasêbut ing dhuwur iku mau, kêna diarani petung kang asli, awêwaton khurufing taun kang 8 cacahe, sawiji-wijine Khurufing Taun padha dadi jêjêr kawitaning pangetung.
Dene petung kang kasêbut ing ngisor iki mêngko, kêna diarani petung kang wis owah saka ing asline, ananging dadi luwih sampurna pakartine, dening mung awaton siji Khurufing Windu bae (têgêse mung awaton Khurufing Taun Alif bae), kang kadadèkake jêjêr kawitaning pangetung.
Dene kang kasêbut: wis owah saka ing asline, iku mungguh katêrangane mangkene:
Nêptuning Taun kang kanggo ngetung dinane, wiwit taun Alif nganti tumêka ing taun Jimakhir, isih têtêp Nêptu: 1, 5, 3, 7, 4, 2, 6, 3.
Dene Nêptuning Taun kang kanggo ngetung pasarane, wiwit taun Alif nganti tumêka ing taun Jimakhir, padha dikurangi ajine siji-siji, mungguh carane ngurangi mangkene:
Alif Asline Nêptu 1+5 = 6-1 = 5
Ehe Asline Nêptu 5-1 = 4
Jimawal Asline Nêptu 5-1 = 4
Je Asline Nêptu 4-1 = 3
Dal Asline Nêptu 3-1 = 2
Be Asline Nêptu 3-1 = 2
Wawu Asline Nêptu 2-1 = 1
Jimakhir Asline Nêptu 1+5 = 6-1 = 5
Samêngko Nêptuning Sasi kang kanggo ngetung dinane, wiwit sasi Muharram ngantri tumêka ing sasi Zu'lhijjah, padha dikurangi ajine siji-siji, mungguh carane ngurangi mangkene:
--- 19 ---
Muharram Asline Nêptu 1+7 = 8-1 = 7
Shafar Asline Nêptu 3-1 = 2
Rabu'u'lawal Asline Nêptu 4-1 = 3
Rabi'u'lakhir Asline Nêptu 6-1 = 5
Jumadi'lawal Asline Nêptu 7-1 = 6
Jumadi'lakhir Asline Nêptu 2-1 = 1
Rajab Asline Nêptu 3-1 = 2
Sya'ban Asline Nêptu 5-1 = 4
Ramadlan Asline Nêptu 6-1 = 5
Syawwal Asline Nêptu 1+7 = 8-1 = 7
Zu'lkaedah Asline Nêptu 2-1 = 1
Zu'lhijjah Asline Nêptu 4-1 = 3
Dene Nêptuning Sasi kang kanggo ngetung pasarane, wiwit sasi Muharram nganti tumêka ing sasi Zu'lhijjah, uga padha dikurangi ajine siji-siji, mungguh carane ngurangi mangkene:
Muharram, Shafar Asline Nêptu 1+5 = 6-1 = 5
Rabu'u'lawal, Rabi'u'lakhir Asline Nêptu 5-1 = 4
Jumadi'lawal, Jumadi'lakhir Asline Nêptu 4-1 = 3
Rajab, Sya'ban Asline Nêptu 3-1 = 2
Ramadlan, Syawwal Asline Nêptu 2-1 = 1
Zu'lkaedah, Zu'lhijjah Asline Nêptu 1+5 = 6-1 = 5
Mungguh pratelane kang têtela, Nêptuning Taun lan Nêptuning Sasi kang wis ingowahan mau, matênge kaya kang kasêbut pratelan ing ngisor iki:
--- 20 ---
Taun ... Nêptune ... A ... B
Alif ... Nêptune ... 1 ... 5
Ehe ... Nêptune ... 5 ... 4
Jimawal ... Nêptune ... 3 ... 4
Je ... Nêptune ... 7 ... 3
Dal ... Nêptune ... 4 ... 2
Be ... Nêptune ... 2 ... 2
Wawu ... Nêptune ... 6 ... 1
Jimakhir ... Nêptune ... 3 ... 5
Sasi ... Nêptune ... A ... B
Muharram ... Nêptune ... 7 ... 5
Shafar ... Nêptune ... 2 ... 5
Rabi'u'lawal ... Nêptune ... 3 ... 4
Rabi'u'lakhir ... Nêptune ... 5 ... 4
Jumadi'lawal ... Nêptune ... 6 ... 3
Jumadi'lakhir ... Nêptune ... 1 ... 3
Rajab ... Nêptune ... 2 ... 2
Sya'ban ... Nêptune ... 4 ... 2
Ramadlan ... Nêptune ... 5 ... 1
Syawwal ... Nêptune ... 7 ... 1
Zu'lkaedah ... Nêptune ... 1 ... 5
Zu'lhijjah ... Nêptune ... 3 ... 5
Pigunane petung iki, saka karsane Sarjana kang nganggit sakawit, wigati kanggo nyumurupi tibaning dina lan pasaran, tanggale sêpisan ing sasi lan taun Jawa kang tinamtu.
Mungguh carane ngetung, kang dhihin kudu nyumurupi nêptuning taun kang kanggo ngetung tibaning dinane (A), lan tibaning pasarane (B); sarta nêptuning sasi kang kanggo ngetung tibaning dinane (A), lan tibaning pasarane (B), kaya kang kasêbut ing ngisor iki.
Kawitaning pangetung, nêptuning taun lan nêptuning sasi kang padha kanggo ngetung tibaning dinane (A), kinumpulake dadi siji, pira tinêmuning gunggungane? banjur kapetung wiwit angka siji nganti tumêka ing angka tinêmuning gunggungan.
Nuli nêptuning taun lan nêptuning sasi kang padha kanggo ngetung tibane pasarane (B), kinumpulake dadi siji, pira tinêmuning gunggungane? banjur kapetung wiwit angka siji nganti tumêka ing angka tinêmuning gunggungan.
Ana dene wiwitaning pangetung miturut Khurufing Windu (iya iku Khurufing Taun Alif) tumrap ing taun-taun kang dikarêpake.
--- 21 ---
Yèn kang dikarêpake ing taun-taun kang tumindak sajroning Khuruf Alif Jam'iyah Lêgi (kang tumindak wiwit ing taun Alif 1555 nganti tumêka ing taun Jimakhir 1674), dinane kapetung wiwit angka siji Jum'at, dene pasarane kapetung wiwit angka siji Paing (dadi mundur 1 saka ing Lêgi).
Yèn kang dikarêpake ing taun-taun kang tumindak sajroning Khuruf Alif Kamsiyah Kliwon (kang tumindak wiwit ing taun Alif 1675 nganti tumêka ing taun Ehe 1748), dinane kapetung wiwit angka siji Kêmis, dene pasarane kapetung wiwit angka siji Lêgi (dadi mundur 1 saka ing Kliwon).
Yèn kang dikarêpake ing taun-taun kang tumindak sajroning Khuruf Alif Arba'iyah Wage (kang tumindak wiwit ing taun Jimawal 1749 nganti tumêka ing taun Jimakhir 1866), dinane kapetung wiwit angka siji Rêbo, dene pasarane kapetung wiwit angka siji Kliwon (dadi mundur 1 saka ing Wage).
Yèn kang dikarêpake ing taun-taun kang tumindak sajroning Khuruf Alif Salasiyah Pon (kang tumindak wiwit ing taun Alif 1867 nganti tumêka ing besuk taun Jimakhir 1986), dinane kapetung wiwit angka siji Sêlasa, dene pasarane kapetung wiwit angka siji Wage (dadi mundur 1 saka ing Pon).
Upamane ngupadi tanggale sapisan sasi Rabi'u'lawal taun Dal sajroning tumindak Khuruf Alif Salasiyah Pon, tiba ing dina lan pasarane apa?
Iku pangupadine dinane mangkene: nêptuning taun Dal A 4, kinumpulake karo nêptuning sasi Rabi'u'lawal A 3, gunggune tinêmu 7; banjur kapetung wiwit angka 1 Sêlasa, 2 Rêbo, 3 Kêmis, 4 Jum'at, 5 Sabtu, 6 Ahad, 7 Sênèn.
Nuli pangupadine pasarane mangkene: nêptuning taun Dal B 2, kinumpulake karo nêptuning sasi Rabi'u'lawal B 9, gunggunge tinêmu 11; banjur kapetung wiwit angka 1 Wage, 2 Kliwon, 3 Lêgi, 4 Paing, 5 Pon, 6 Wage, 7 Kliwon, 8 Lêgi, 9 Paing, 10 Pon, 11 Wage.
--- 22 ---
Dadi tanggale sapisan sasi Rabi'u'lawal taun Dal Khuruf Alif Salasiyah Pon, iku mêsthi tiba ing dina lan pasaran: Sênèn Wage.
Mingangka kanggo cocogan utawa pasêksèn patitise kawruh petung kasêbut ing dhuwur, ing kono sinartan Pananggalan A Sa Pon kanggo 120 taun.
Bab Owahing arane sasi 'Arab sawise dadi sasi Jawa
Ora anèh yèn nalika jaman Karaton Jawa-Islam ing Mataram Kasultan-Agungan, wiwit migunakake petungan taun Hijrah kang wis kabangun dadi taun Jawa, awit wigati kanggo ancêr-ancêr nindakake prêluning agama Islam, sarta 'adat kang kêlaku ing tanah 'Arab, kaya ta:
1. Asyura, sabên tanggal kaping 10 Muharram; suwening-suwe sasi Muharram iku banjur katêlah diarani sasi Sura, ana ing bêbrayan Jawa, panindake slamêtan diarani Suran.
2. Maulud, sabên tanggal kaping 12 Rabi'u'lawal, suwening-suwe sasi Rabi'u'lawal iku banjur katêlah diarani sasi Mulud, ana ing bêbrayan Jawa, panindake slamêtan banjur diarani Muludan, garêbêge diarani Garêbêg Mulud. Apa manèh sasi Rabi'u'lakhir banjur diarani sasi Bakda Mulud, têgêse: sawise sasi Mulud.
3. Mi'raj, sabên tanggal kaping 27 Rajab.
4. Sajrone sasi Ramadlan, kaum agama Islam padha nglakoni pasa sa-sasi muput, suwening-suwe sasi Ramadlan iku banjur diarani sasi Pasa, ana ing bêbrayan Jawa.
5. Idu'l Fitri, sabên tanggal sapisan sasi Syawwal; garêbêge katêlah diarani Garêbêg Bakda Pasa, têgêse: garêbêg salêbare nglakoni pasa.
6. Idu'l Adha, sabên tanggal kaping 10 Zu'lhijjah; wêktu iku uga diarani Riyadin Bêsar, garêbêge katêlah diarani Garêbêg Bêsar, sasine kêtêlah sasi Bêsar.
--- 23 ---
Kajaba saka iku, ana manèh sasi 'Arab kang banjur kêtêlah diarani nganggo aran liyane, kaya ta:
1. Sasi Sya'ban, kêtêlah diarani sasi Arwah utawa Ruwah, awit ing sasi iku bêbrayan Jawa lumrah padha mêmule arwahe (arwah = roh = nyawa) para lêluhur kang wus ana ing 'alamu'l-arwah (= 'alaming roh), panindake slamêtan banjur diarani Ruwahan.
2. Sasi Zu'lkaedah, kêtêlah diarani sasi Sêla utawa sasi Apit, sababe kang mangkono iku, ana kang ngarani yèn sasi Zu'lkaedah iku: ingapit khutbah, têgêse: diapit-apit dening khutbah loro, iya iku khutbah Riyadin Idu'l Fitri (1 Syawwal) lan khutbah Riyadin Idu'l Adha (10 Zu'lhijjah); dene kang diarani khutbah iku: sêsorahe para imam (pangulu agama) ana ing mimbar sajroning masjid. Gênahe, sasi Sêla utawa Apit iku ana ing antarane (sa-sêlane utawa diapit-apit) sasi Syawwal karo sasi Zu'lhijjah.
Tumêkane samêngko, arane sasi 'Arab ana ing bêbrayan Jawa, wis owah dadi arane sasi Jawa, kaya kang kasêbut ing ngisor iki.
Sasi 'Arab ... Sasi Jawa
Muharram ... Sura
Shafar ... Sapar
Rabi'u'lawal ... Mulud
Rabi'u'lakhir ... Bakda Mulud
Jumadi'lawal ... Jumadi lawal
Jumadi'lakhir ... Jumadi lakir
Rajab ... Rêjêb
Sya'ban ... Ruwah
Ramadlan ... Pasa
Syawwal ... Sawal
Zu'lkaedah ... Sêla
Zu'lhijjah ... Bêsar
--- 24 ---
TAUN JAWA SARTA GÊGAYUTANE KARO MAULUD NABI MUKHAMMAD S.A.W.
Wiwit bab iki sabanjurê, panulisê araning taun lan araning sasi, nganggo ejan miturut pakêcapan utawa aran Jawa.
Taun Jawa kang tanggale Sapisan sasi Sura taun Alip tiba
Ing dina ... iku disêbut miturut
Ahad ... Khuruf Alip Ahadiyah
Sênèn ... Khuruf Alip Isnainiyah
Sêlasa ... Khuruf Alip Salasiyah
Rêbo ... Khuruf Alip Arba'iyah
Kêmis ... Khuruf Alip Kamsiyah
Jum'at ... Khuruf Alip Jam'iyah
Sabtu ... Khuruf Alip Sabtiyah
Sabên-sabên taun Jawa kang tanggale Sapisan sasi Sura sadhengah taune tiba ing:
Dina ... Iku disêbut taun
Ahad ... Dite Kênaba
Sênèn ... Soma Wrêcita
Sêlasa ... Anggara Rêkatha
Rêbo ... Buddha Maesa
Kêmis ... Rêspati Mintuna
Jum'at ... Sukra Mangkara
Sabtu ... Tumpak Menda
Nalika sajroning jaman isih tumindak khuruf Alip Jam'iyah, wiwit ing taun Alip 1555, nganti tumêka ing taun Jimakir 1674, tanggale Sapisan sasi Sura
Taun ... Tiba ing dina ... Disêbut taun
Alip ... Jum'at Lêgi ... Sukra Mangkara
Ehe ... Sêlasa Kliwon ... Anggara Rêkatha
Jimawal ... Ahad Kliwon ... Dite Kênaba
Je ... Kêmis Wage ... Rêspati Mintuna
--- 25 ---
Dal ... Sênèn Pon ... Soma Wrêcita
Be ... Sabtu Pon ... Tumpak Menda
Wawu ... Rêbo Paing ... Buddha Maesa
Jimakir ... Ahad Lêgi ... Dite Kênaba
Nalika sajroning jaman isih tumindak Khuruf Alip Kamsiyah, wiwit ing taun Alip 1675, nganti tumêka ing taun Ehe 1748, tanggale Sapisan sasi Sura
Taun ... Tiba ing dina ... Disêbut taun
Alip ... Kêmis Kliwon ... Rêspati Mintuna
Ehe ... Sênèn Wage ... Soma wrêcita
Jimawal ... Sabtu Wage ... Tumpak Menda
Je ... Rêbo Pon ... Buddha Maesa
Dal ... Ahad Paing ... Dite Kênaba
Be ... Jum'at Paing ... Sukra Mangkara
Wawu ... Sêlasa Lêgi ... Anggara Rêkatha
Jimakir ... Sabtu Kliwon ... Tumpak Menda
Nalika sajroning jaman isih tumindak Khuruf Alip Arba'iyah, wiwit ing taun Jimawal 1749, nganti tumêka ing taun Jimakir 1866, tanggale Sapisan sasi Sura
Taun ... Tiba ing dina ... Disêbut taun
Alip ... Rêbo Wage ... Buddha Maesa
Ehe ... Ahad Pon ... dite Kênaba
Jimawal ... Jum'at Pon ... Sukra Mangkara
Je ... Sêlasa Paing ... Anggara Rêkatha
Dal ... Sabtu Lêgi ... Tumpak Menda
Be ... Kêmis Lêgi ... Rêspati Mintuna
Wawu ... Sênèn Kliwon ... Soma Wrêcita
Jimakir ... Jum'at Wage ... Sukra Mngkara
Barêng sajroning jaman wis tumindak Khuruf Alip Salasiyah, wiwit ing taun Alip 1867, nganti tumêka ing besuk taun Jimakir 1986, tanggale Sapisan sasi Sura
--- 26 ---
Taun ... Tiba ing dina ... Disêbut taun
Alip ... Sêlasa Pon ... Anggara Rêkatha
Ehe ... Sabtu Paing ... Tumpak Menda
Jimawal ... Kêmis Paing ... Rêspati Mintuna
Je ... Sênèn Lêgi ... Soma Wrêcita
Dal ... Jum'at Kliwon ... Sukra Mangkara
Be ... Rêbo Kliwon ... Buddha Maesa
Wawu ... Ahad Wage ... Dite Kênaba
Jimakir ... Kêmis Pon ... Rêspati Mintuna
Maulud Nabi Mukhammad s.a.w.
Anane Garêbêg Mulud kang tiba ing tanggal kaping 12 sasi Mulud sadhengah taune, iku wigatine mèngêti Maulud Nabi Mukhammad, iya iku wiyosane Kangjêng Nabi Mukhammad s.a.w.
Miturut katêrangan kasêbut ing kitab Siratu'lkalabiyah, juz I, kaca 61-62, katêrangan saka ing Kayogaswaran, Pawarti Surakarta 1940.
Miturut katêrangane Pangarang kitab kasêbut ing dhuwur,
1. Kangjêng Nabi Mukhammad s.a.w. iku wiyosane ing dina Sênèn, masa Robik (Masa Sêmi), tanggal kaping 12 sasi Rabi'u'lawal (sasi Mulud), taun Fil (taun Gajah).
2. Tampane wahyu kajumênêngake Nabi Nayakaningrat, dina Sênèn ing sasi Rabi'u'lawal.
3. Hijrah utawa linggare saka ing Mêkah marang Madinah, dina Sênèn ing sasi Rabi'u'lawal.
4. Tumêkaning sedane uga tumiba ing dina Sênèn ing sasi Rabi'u'lawal.
Miturut katêrangan kasêbut ing dhuwur mau, mungguh bundhêlane kang prêlu, kêna kapangkat ing pamilah lan panunggale manèh dadi rong pangkat.
--- 27 ---
Pangkat I. Ing tanggal kaping 12 sasi Rabi'u'lawal, iku wis cukup kanggo mèngêti tingalan taun wiyosane Kangjêng Nabi Nukhammad s.a.w.; iku bisa katindakake ing sabên taun.
Pangkat II. Yèn ing tanggal kaping 12 sasi Rabi'u'lawal iku pinuju marêngi dina Sênèn, iku kêna diarani wêktu kang utama kanggo mèngêti Maulud Nabi, awit kajaba pinuju tingalan taun wiyosan kang tumbuk dinane, Sênèn uga marêngi dina Jumênênge Nabi Nayakaningrat, sarta marêngi dina hijrahe saka ing Mêkah marang Madinah, apa manèh uga marêngi dina sedane; dadi wêktu kang utama iku pantês yèn pinahargya kalayan pasamuwan gêdhe; iku mung bisa katindakake sabên sawindu sapisan (utawa 8 taun miturut petungan taun Jawa), yèn pinuju marêngi taun Soma Wrêcita, iya iku ing taun Je sajrone tumindak Khuruf Alip Salasiyah samêngko iki, wiwit nalika ing taun Alip 1867 nganti tumêka ing besuk taun Jimakir 1986; ananging uga ana masa-kalane bisa katindakake sabên sawindu kaping loro, manawa wis tumêka masa-kalane tumindak Khuruf Alip Sabtiyah, ing besuk wiwit taun Alip 2227 nganti tumêka ing taun Jimakir 2346, awit sajrone tumindak Khuruf Alip Sabtiyah iku, Sang Soma Wrêcita manggon ing taun Jimawal lan Jimakir; marêngi dina Sênèn Wage ing taun Jimawal, karo marêngi dina Sênèn Kliwon ing taun Jimakir.
Garêbêg Mulud taun Soma Wrêcita
Dina lan pasaran kawitaning taun, iya iku ing tanggal Sapisan sasi Sura, iku mêsthi tumbuk (padha) karo dina lan pasaran tibane Garêbêg Mulud, iya iku ing tanggal kaping 12 sasi Mulud, kang nunggal taune.
Nalika sajroning jaman isih tumindak Khuruf Alip Jam'iyah Lêgi, yèn pinuju ing taun Dal, iku tanggale Sapisan sasi Sura mêsthi tiba ing tanggal Sênèn Pon, tumêkane Garêbêg Mulud ing tanggal kaping 12 sasi Mulud uga mêsthi tiba ing dina Sênèn Pon,
--- 28 ---
karana wiwit tanggal Sapisan sasi Sura nganti tumêka tanggal kaping 12 sasi Mulud, iku petunge tiba tumbuk dina lan pasarane 2 lapan (35 dina x 2) trêp.
Soma Wrêcita iku sêsêbutaning taun kang akawitan dina Sênèn, iku taun kang utama kanggo mèngêti Maulud Nabi kalayan pasamuwan gêdhe, awit tibaning Garêbêg Mulud marêngi dina Sênèn tanggal kaping 1 sasi Mulud.
Dene taun Soma Wrêcita kang kawitan kanggo mèngêti Maulud Nabi kalayan pasamuwan gêdhe, iya iku nalika jaman Karaton Jawa-Islam ing Mataram "alame Sri Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma, nalika samana marêngi dina Sênèn Pon tanggal kaping 1 sasi Mulud taun Dal 1559 Khuruf Alip Jam'iyah Lêgi.
Mungguh mula-bukane ana pahargyan mèngêti Maulud Nabi nganggo pasamuwan gêdhe, marêngi Garêbêg Mulud tanggal kaping 12 sasi Mulud ing taun Dal, pinuju dina Sênèn Pon, iku sanyatane mung kapinujon ing nalika sajrone tumindak Khuruf Alip Jam'iyah Lêgi bae, iya iku wiwit nalika Garêbêg Mulud taun Dal 1559, 'alame Sri Sultan Agung Anyakrakusuma ing Mataram, sabanjure ing sajrone tumindak Khuruf Alip Jam'iyah Lêgi; dene mungguh ing sabênêr-bênêre, kang kanggo paugêran: taun Soma Wrêcita, iya iku taun kang akawitan dina Sênèn.
Taun Soma Wrêcita wiwit kalingan pêpêdhut
Barêng petungane taun Jawa wis salin Khuruf Alip Kamsiyah Kliwon, kang tumindak wiwit ing taun Alip 1675 nganti tumêka ing taun Ehe 1748, Garêbêge Mulud taun Dal miturut petung wis mingsêr tiba ing dina Ahad Paing, ananging nalika samana tumrap ing Karaton Surakarta, isih ngarah murih Garêbêge Mulud taun Dal isih lêstari tiba ing dina Sênèn Pon, bisane kalakon mangkono, sarana ngowahi umure sasi Sapar ing taun Dal iku kang bênêre umur 29 dina kadadèkake umur 30 dina; dene minangka panyaure: umure sasi Mulud taun Dal iku kang bênêre umur 30 dina kadadèkake umur 29 dina.
--- 29 ---
Barêng petungane taun Jawa wis salin Khuruf Alip Arba'iyah Wage, kang tumindak wiwit ing taun Jimawal 1749 nganti tumêka ing taun Jimakir 1866, Garêbêge Mulud taun Dal miturut petung wis mingsêr tiba ing dina Sabtu Lêgi, ananging nalika samana tumrap ing Karaton Surakarta, isih ngarah murih Garêbêge Mulud Taun Dal isih lêstari tiba ing dina Sênèn Pon, bisane kalakon mangkono, sarana ngowahi wiwit umure sasi Bêsar ing taun Je kang bênêre umur 29 dina kadadèkake umur 30 dina, lan umure sasi Sapar ing taun Dal kang bênêre umur 29 dina kadadèkake umur 30 dina; dene minangka panyaure: umure sasi Mulud lan umure sasi Jumadilawal taun Dal kang bênêre padha umur 30 dina kadadèkake padha umur 29 dina.
Barêng petungan taun Jawa wis salin Khuruf Alip Salasiyah Pon, kang tumindak wiwit ing taun Alip 1867 nganti tumêka ing besuk taun Jimakir 1986, Garêbêge Mulud taun Dal miturut petung wis mingsêr tiba ing dina Jum'at Kliwon, ananging nalika samana tumrap Karaton Surakarta, ing sakawit isih ngarah murih Garêbêge Mulud taun Dal isih lêstari tiba ing dina Sênèn Pon, bisane kalakon mangkono, sarana ngewahi wiwit umure sasi Sawal lan umure sasi Bêsar ing taun Je, sarta umure sasi Sapar ing taun Dal kang bênêre padha umur 29 dina kadadèkake padha umur 30 dina, dene minangka panyaure: umure sasi Mulud, sasi Jumadilawal lan sasi Rêjêb kang bênêre padha umur 30 dina kadadèkake padha umur 29 dina. Tujune cara owah-owahan mangkono iku rupa-rupane kaya wis ora lêstari kabanjurake tumindake manèh. Saupama isih, saya kalantur-lanturake tumindake owah-owahan kaya kang kasêbut ing dhuwur mau, sayêkti bakal mêtêngi Paugêraning Taun Jawa kang asli. Apa manèh manawa kalanture owah-owahan mau ing sadungkapan êngkas, nganti anggèsèr waktuning sasi Pasa, ing kono lagi kêbêntus ing bêbasan: amburu ucêng kelangan dêlêg.
--- 30 ---
Iya ing kono kang bakal nuduhake yèn: Paugêraning Taun Jawa kang asli iku satêmêne wis anggawa dhasar kang ora kêna dirusak.
Sumilaking pêpêdhut
Dene yèn nêdya nglêstarèkake mèngêti Maulud Nabi kalayan pasamuwan gêdhe, kang marêngi tiba ing dina Sênèn, tumrap petungan taun Jawa, sajrone tumindak Khuruf Alip Salasiyah Pon iki, cukup milih ing sabên taun Je Soma Wrêcita, kaya nalika ing taun Je 1902 Garêbêge Mulud tiba ing dina Sênèn Lêgi.
Dadi ora kudu tiba ing diba Sênèn Pon taun Dal, awit iku rak nalika sajrone isih tumindak Khuruf Alip Jam'iyah Lêgi biyèn. Samêngko wis salin tumindake Khuruf Alip Salasiyah Pon, Garêbêge Mulud kang gêdhe wis salin tiba ing taun Je marêngi dina Sênèn Lêgi, iya iku taun Je Soma Wrêcita.
--- 31 ---
KABUDAYAN TAUN JAWA PANYAKUPE MARANG BABAGAN WUKU LAN MASA-WUKU
Kang disêbut Wuku, iku minangka têngêraning waktu kang umure 7 dina, kapetung wiwit ing dina Ahad nganti tumêka ing dina Sabtu.
Miturut petung Jawa, kang disêbut Dina, iku kapetung wiwit mlêthèking srêngenge, dadi wiwit saka rinane banjur wêngine. Beda karo kawitane tanggal, iku kapetung wiwit katoning rêmbulan ing nalikane tanggal sapisan, dadi gampangane wiwit saka wêngine banjur rinane.
Sa-dhapur Wuku utawa sa-grombolaning wuku-wuku, iku cacahe ana 30 wuku, kang sawiji-wijining wuku umure 7 dina mau, dadi ing dalêm 30 wuku utawa sadhapur wuku umure 7 x 30 = 210 dina.
Wuku kang cacahe 30 iku ana arane dhewe-dhewe, wiwit wuku kang angka 1 arane wuku Sinta, sabanjure nganti tumêka wuku kang angka 30 arane wuku Watugunung.
Dene kang disêbut Masa-Wuku, iku têngêring waktu kang umure 35 dina, kapetung wiwit ing dina Anggara Kasih utawa Sêlasa Kliwon, nganti tumêka ing dina Sênèn Wage.
Sa-dhapur Masa-Wuku, iku cacahe ana 12 masa-wuku, kang sawiji-wijining masa-wuku umure 35 dina mau, dadi ing dalêm 12 masa-wuku utawa sadhapur masa-wuku umure 35 x 12 = 420 dina.
Ing ngisor iki kapratelakake arane lan urute Masa-Wuku, lan wiwit tumapake ing dina Anggara Kasih (Sêlasa Kliwon) sarta pinuju wuku apa?
Wiwit tumapake Masa-Wuku ... Ing dina Anggara Kasih pinuju wuku
1. Kasa / 7 Kapitu ... 14. Mandhasiya
2. Karo / 8 Kawolu ... 19. Tambir
3. Katêlu / 9 Kasanga ... 24. Prangbakat
4. Kapat / 10 Kasapuluh ... 29. Dhukut
5. Kalima / 11 Dhêstha ... 4. Kurantil
6. Kanêm / l2 Saddha ... 9. Julungwangi
--- 32 ---
Kasêbut ing ngisor iki, pratelan arane wuku kang 30 wilangane, kaurutake wiwit wuku angka 1, sabanjure nganti tumêka wuku angka 30, dalah tumindake wiwit ing dina Ahad pasaran apa? nganti tumêka ing dina Sabtu pasaran apa? sarta tibaning dina Anggara Kasih (Sêlasa Kliwon), kang dadi kawitane sabên masa-wuku kang tinamtu.
Wuku ... tumindake wiwit dina ... tumêka dina
1. Sinta ... Ahad Paing ... Sabtu Pon
2. Landêp ... Ahad Wage ... Sabtu Kliwon
3. Wukir ... Ahad Lêgi ... Sabtu Paing
4. Kurantil ... Ahad Pon ... Sabtu Wage
Anggara-Kasih ... masa-wuku 5 / 11
5. Tolu ... Ahad Kliwon ... Sabtu Lêgi
6. Gumbrêg ... Ahad Paing ... Sabtu Pon
7. Warigalit ... Ahad Wage ... Sabtu Kliwon
8. Warigagung ... Ahad Lêgi ... Sabtu Paing
9. Julungwangi ... Ahad Pon ... Sabtu Wage
Anggara-Kasih ... masa wuku 6 / l2
10. Sungsang ... Ahad Kliwon ... Sabtu Lêgi
11. Galungan ... Ahad Paing ... Sabtu Pon
12. Kuningan ... Ahad Wage ... Sabtu Kliwon
13. Langkir ... Ahad Lêgi ... Sabtu Paing
14. Mandhasiya ... Ahad Pon ... Sabtu Wage
Anggara-Kasih ... masa-wuku 7 / 1
15. Julungpujud ... Ahad Kliwon ... Sabtu Lêgi
16. Pahang ... Ahad Paing ... Sabtu Pon
17. Kuruwêlut ... Ahad Wage ... Sabtu Kliwon
18. Marakèh ... Ahad Lêgi ... Sabtu Paing
19. Tambir ... Ahad Pon ... Sabtu Wage
Anggara-Kasih ... masa-wuku 8 / 2
20. Mêdhangkungan ... Ahad Kliwon ... Sabtu Lêgi
21. Maktal ... Ahad Paing ... Sabtu Pon
22. Wuye ... Ahad Wage ... Sabtu Kliwon
--- 33 ---
23. Manahil ... Ahad Lêgi ... Sabtu Paing
24. Prangbakat ... Ahad Pon ... Sabtu Wage
Anggara-Kasih ... masa-wuku 9 / 3
25. Bala ... Ahad Kliwon ... Sabtu Lêgi
26. Wugu ... Ahad Paing ... Sabtu Pon
27. Wayang ... Ahad Wage ... Sabtu Kliwon
28. Kulawu ... Ahad Lêgi ... Sabtu Paing
29. Dhukut ... Ahad Pon ... Sabtu Wage
Anggara-Kasih ... masa-wuku 10 / 4
30. Watugunung ... Ahad Kliwon ... Sabtu Lêgi
Sasi Jawa lan umure pirang dina
Sasi Jawa kang 12 wilangane iku, sawiji-wijining sasi umure wiwit 30 dina gêntèn karo 29 dina, mung sasi kang wêkasan manawa pinuju taun Wuntu umure wuwuh sadina dadi 30 dina, iya iku yèn pinuju taun Ehe, Dal lan Jimakir.
Angka urut araninga sasi:
1. Sura ... umure 30 dina
2. Sapar ... umure 29 dina
3. Mulud ... umure 30 dina
4. Bakda Mulud ... umure 29 dina
5. Jumadilawal ... umure 30 dina
6. Jumadilakir ... umure 29 dina
7. Rêjêb ... umure 30 dina
8. Ruwah ... umure 29 dina
9. Pasa ... umure 30 dina
10. Sawal ... umure 29 dina
11. Sêla ... umure 30 dina
12. Bêsar ... umure 29 dina
Yèn taun Wastu, gunggung ... 354 dina
Yèn taun Wuntu, umure sasi Bêsar wuwuh 1 dina
Gunggung yèn taun wuntu, 355 dina.
--- 34 ---
Taun Jawa lan umure pirang dina
Taun Jawa kang 8 wilangane iku, sawiji-wijining taun yèn taun Wastu umure 354 dina, yèn taun Wuntu umure 355 dina. Dene katêrangane Wastu lan Wuntuning taun kaya kang kapratelakake ing ngisor iki:
Angka urut araning taun:
1. Alip taun Wastu umure 354 dina
2. Ehe taun Wuntu umure 355 dina
3. Jimawal taun Wastu umure 354 dina
4. Je taun Wastu umure 354 dina
5. Dal taun Wuntu umure 355 dina
6. Be taun Wastu umure 354 dina
7. Wawu taun Wastu umure 354 dina
8. Jimakir taun Wuntu umure 355 dina
Gunggung ing dalêm sawindu 2835 dina.
Windu Jawa lan umure pirang dina
Windu Jawa kang 4 wilangane iku, sawiji-wijining windu umure racak 2835 dina. Dene katêrangan araning windu lan umure kaya kang kapratelakake ing ngisor iki:
Angka unut araning windu:
1. Adi umure 2835 dina
2. Kunthara umure 2835 dina 2 windu 5670 dina
3. Sangara umure 2835 dina 3 windu 8505 dina
4. Sancaya umure 2835 dina 4 windu 11340 dina
Gunggung 4 windu 11340 dina
Taun lan Windu sarta Tumbuking Wuku
Taun Jawa
Sataun Wastu, gunggung dinane 354.
Sataun Wuntu, gunggung dinane 355.
--- 35 ---
Windu Jawa
Sawindune:
5 taun Wastu kang gunggung dinane 354 x 5 = 1770
lan 3 taun Wuntu kang gunggung dinane 355 x 3 = 1065
Dadi ing dalêm sawindu gunggung dinane 2835
Yèn 2 windu, diwuwuhi manèh 2835
Dadi ing dalêm 2 windu gunggung dinane 5670
Yèn 4 windu, diwuwuhi manèh 5670
Dadi ing dalêm 4 windu gunggung dinane 11340
Tumbuking Wuku lan Taun, kadadian sawise kalakon 2 windu, utawa 16 taun, utawa 27 dhapur wuku (1 dhapur wuku = 30 wuku = 210 dina), dadi yèn 27 dhapur wuku gunggung dinane ana 210 x 27 = 5670.
Tumbuking Wuku lan Taun sarta Windu, kadadian sawise kalakon 4 windu, utawa 32 taun, utawa 54 dhapur wuku kang gunggung dinane ana 210 x 54 = 11340, iku uga bêbarêngan karo Tumbuking Masa-Wuku.
Tumbuking Wuku lan Masa-Wuku sarta Taun lan Windu
Tumbuking Wuku lan Masa-Wuku sarta Taun lan Windu, iku uga kadadean sawise kalakon 4 windu, utawa 32 taun, kang gunggung dinane ana 11340. Utawa 54 dhapur wuku kang gunggung dinane 210 x 54 = 11340. Utawa 27 dhapur masa-wuku kang gunggung dinane ana 420 x 27 = 11340.
Sabên 30 wuku = 1 dhapur wuku, lawase 210 dina.
Sabên 12 masa-wuku = 1 dhapur masa-wuku = 420 dina, dadi padha lawase karo 2 dhapur wuku = 210 x 2 = 420 dina.
Sabên 1 windu iku mêngku 13,5 dhapur wuku ( = 210 x 13,5 = 2835 dina) utawa 6,25 dhapur masa-wuku (= 420 x 6,25 = 2835 dina).
Sabên 2 windu mêngku 27 dhapur wuku (= 210 x 27 = 5670 dina), utawa 13,5 dhapur masa-wuku (= 420 x 13,5 = 5670 dina).
Sabên 4 windu mêngku 54 dhapur wuku (= 210 x 54 = 11340 dina), utawa 27 dhapur masa-wuku (= 420 x 27 = 11340 dina).
--- 36 ---
Laku jantraning Masa-wuku ing dalêm 4 windu
Laku-jantraning Masa-Wuku sajrone tumindak Khuruf Alip Salasiyah, kajupuk sabên ing dina kawitaning windu.
1. Windu Adi kawiwitan ing tanggal 1 sasi Sura, taun Alip, tiba ing dina Sêlasa Pon, pinuju wuku 13 Langkir, iku isih tumindak Masa-Wuku kang kawitane ing dina Anggara-Kasih pinuju wuku 9 Julungwangi.
Barêng ing dina Anggara-Kasih wuku Mandhasiya, tanggal kaping 8 sasi Sura taun Alip windu Adi, iku wiwit tumapake Masa-Wuku Kasa.
2. Windu Kunthara kawiwitan ing tanggal 1 sasi Sura, taun Alip, tiba ing dina Sêlasa Pon, pinuju wuku 28 Kulawu, iku isih tumindak Masa-Wuku Kasanga, kang kawiwitan ing dina Anggara-Kasih pinuju wuku 24 Prangbakat.
Barêng ing dina Anggara-Kasih wuku 29 Dhukut, tanggal kaping 8 sasi Sura taun Alip windu Kunthara, iku wiwit tumapake Masa-Wuku Kasapuluh.
3. Windu Sangara kawiwitan ing tanggal 1 sasi Sura, taun Alip, tiba ing dina Sêlasa Pon, pinuju wuku 13 Langkir, iku isih tumindak Masa-Wuku Kanêm kang kawiwitan ing dina Anggara-Kasih pinuju wuku 9 Julungwangi.
Barêng ing dina Anggara-Kasih wuku 14 Mandhasiya, tanggal kaping 8 sasi Sura taun Alip windu Sangara, iku wiwit tumindak Masa-Wuku Kapitu.
4. Windu Sancaya kawiwitan ing tanggal 1 sasi Sura, taun Alip, tiba ing dina Sêlasa Pon, pinuju wuku 28 Kulawu, iku isih tumindak Masa-Wuku Katiga kang kawiwitan ing dina Anggara-Kasih pinuju wuku 24 Prangbakat.
Barêng ing dina Anggara-Kasih wuku 29 Dhukut, tanggal kaping 8 sasi Sura taun Alip windu Sancaya, iku wiwit tumapake Masa-Wuku Kapat.
Sawise tutug tumindake windu Sancaya banjur bali wiwit tumindak windu Adi manèh.
--- 37 ---
PATHOKANE ANGGOLÈKI MASA-WUKU SARTA WINDU LAN TAUN JAWA
Bêtuwahe Bagus Ngarfah
Pathokane anggolèki Masa-Wuku, iku mangkene: Nêptuning windu kagunggung karo nêptuning taun sarta nêptuning sasi kang katamtokake, kawuwuhan tanggaling sasi mau.
Nêptu mau rong warna, kang sawiji cacahing masa, sawijine cacahing dina.
Panggungune mangkene: cacahing dina karo cacahing masa kagunggung dhewe-dhewe, nanging cacahing dina mawa kawuwuhan tanggaling sasi. Sabanjure gunggunganing dina yèn luwih saka 35, kang 35 kaunggahake dadi masa 1; yèn luwih saka 70, kang 70 kaunggahake dadi masa 2; kawuwuhake marang gunggunging masa, kang katêtêpake gunggunging dina mung 35 sapangisor.
Gunggunganing masa yèn luwih saka 12, kang 12 kabuwang; yèn luwih saka 24, kang 24 kabuwang; kang katêtêpake gunggunganing masa iku mratelakake masa wuku kang digolèki, kaya ta: 1: iku masa Kasa, 2: masa Karo, 3: masa Katêlu, sapiturute nganti tumêka 12 iku masa Saddha.
Dene gunggunganing dina, iku mratelakake umuring masa-wuku kang katêmu mau wis pirang dina tumêka titi-masa kang tinamtokake.
Yèn pinuju taun Dal, iku kudu nganggo tanggal lugu, ora kêna nganggo tanggal owah-owahan saka Nagara.
Pathokan iki kanggo sajrone tumindak Khuruf Alip Arba'iyah, kang tumindak wiwit taun Jawa 1747 (Patitise: wiwit taun Jawa Jimawal 1749. R. Tanaya) tumêka 1866.
Besuk yèn salin Khuruf Alip Salasiyah, gunggunganing dina kudu kasuda 1, besuk Khuruf Isnainiyah kasuda 2, besuk Khuruf Alip Ahadiyah kasuda 3, sabanjure sabên salin Khuruf Alip panyudane mundhak siji-siji. Kosok-baline dhèk isih tumindak Khuruf Alip Kamsiyah, gunggunganing dina kudu kawuwuhan 1, dhèk Khuruf Jam'iyah kawuwuhan 2.
--- 38 ---
Ing ngisor ini pratelaning nêptu-nêptu mau.
Araning Windu karo Taun ... Nêptu Masa ... Nêptu Dina ... Araning Sasi ... Nêptu Masa ... Nêptu Dina
Windu Sangara ... 6 ... 0 ... Sura ... 0 ... 0
Windu Sancaya ... 3 ... 0 ... Sapar ... 0 ... 30
Windu Adi ... 12 ... 0 ... Mulud ... 1 ... 24
Windu Kunthara ... 9 ... 0 ... Bakda Mulud ... 2 ... 19
Taun Alip ... 0 ... 29 ... Jumadilawal ... 3 ... 13
Taun Ehe ... 10 ... 33 ... Jumadilakir ... 4 ... 8
Taun Jimawal ... 9 ... 3 ... Rêjêb ... 5 ... 2
Taun Je ... 7 ... 7 ... Ruwah ... 5 ... 32
Taun Dal ... 5 ... 11 ... Pasa ... 6 ... 26
Taun Be ... 3 ... 16 ... Sawal ... 7 ... 21
Taun Wawu ... 1 ... 20 ... Sêla ... 8 ... 15
Taun Jimakir ... 11 ... 24 ... Bêsar ... 9 ... 10
Katêrangan
Sêrat Pamuryan anggitanipun Radèn Ngabèi Ranggawarsita amratelakake: Dintên Anggara-Kasih wuku Mandhasiya, tanggal kaping 7 wulan Sura taun Alip windu Adi punika manjingipun masa-wuku: Kasa, dados nalika tanggal Sapisan Sura wau taksih masa-wuku Saddha, mila nêptuning windu Adi kadamêl masa 12.
Wiwitaning taun Alip (Khuruf Alip Arba'iyah) tamtu Rêbo Wage, etangipun saking Anggara Kasih 30 dintên, dados ingkang sampun kapêngkêr 29 dintên, mila nêptuning taun Alip kadamêl 29. Inggih punika ingkang katurut minangka uwit pandamêl sarta pangragumipun nêptu-nêptu punika, kapanggihipun satunggal-tunggaling nêptu sarana katindakakên mawi etangan Khronologie.
Pambabaring pathokan punika ing dintên Rêbo Wage tanggal kaping 4 wulan Zu'lkaedah taun Dal 1831, (Taksih salêbêtipun tumindak Khuruf Alip Arba'iyah). Bagus Ngarfah
--- 39 ---
Upamane arêp anggolèki masa-wuku ing dina Anggara-Kasih wuku Kurantil tanggal kaping 10 sasi Sêla taun Dal windu Sancaya. Dina Anggara-Kasih karo wuku Kurantil tumrape nggolèki masa-wuku ora kanggo apa-apa.
Ana dene kang pêrlu kanggo garan anggolèki masa-wuku iya iku: tanggal kaping 10 sasi Sêla taun Dal windu Sancaya. Pangetunge mangkene:
Nêptuning windu Sancaya Masa 3 Dina 0
Nêptuning taun Dal Masa 5 Dina 11
Nêptuning sasi Sêla Masa 8 Dina 15
Tanggaling sasi Sêla Dina 10
Gunggung Masa 16 Dina 36
Gunggung dadi Masa 5 Dina 1
Gunggunging masa ana 16. Gunggunging dina ana 36, Sarèhne 36 iku luwih saka 35, mula kasuda 35, kari 1, iya iku gunggunganing dina kang wis dadi, kawuwuhake marang gunggunganing masa kang 16 mau dadi 17. Sarèhne 17 iku luwih saka 12, mula kabuwang kang 12, kari 5, iya iku gunggunganing masa kang wis dadi. Mungguh gunggung dadi (5, 1) iku kudu kawaca mangkene: Masa Kalima lagi umur sadina.
Saiki kang digolèki wis katêmu: dina Anggara-Kasih wuku Kurantil tanggal kaping 10 sasi Sêla taun Dal windu Sancaya iku masa-wukune masa Kalima lagi umur sadina.
Pathokan anggolèki Windu Jawa, iku mangkene: angkaning taun Jawa kawuwuhan 6, banjur kapara 32.
Yèn turah 1 tumêka 8, iku windu Sangara.
Yèn turah 9 tumêka 16, iku windu Sancaya.
Yèn turah 17 tumêka 24, iku windu Adi.
Yèn turah 25 tumêka cèplês, iku windu Kunthara.
--- 40 ---
Upamane Sakalaning panggung Sanggabuwana: naga muluk tinitihan jalma, iya taun 1708, iku kawuwuhan 6, dadi 1714, banjur kapara 32, olèh 53, turah 18, sarèhne 18 iku kalêbu 17 tumêka 24, dadi têtela Sakalaning panggung Sanggabuwana taun 1708, iku windu Adi.
Pathokane anggolèki Taun Jawa, iku mangkene: angkaning taun Jawa kawuwuhan 6, banjur kapara 8.
Yèn turah 1, iku taun Alip.
Yèn turah 2, iku taun Ehe.
Yèn turah 3, iku taun Jimawal.
Yèn turah 4, iku taun Je.
Yèn turah 5, iku taun Dal.
Yèn turah 6, iku taun Be.
Yèn turah 7, iku taun Wawu.
Yèn cèplês, iku taun Jimakir.
Upamane Sakalaning panggung Sanggabuwana: panggung (pa agung, aksara Jawa kang dadi angka 8) luhur sangga buwana, iya taun 1708, iku kawuwuhan 6, dadi 1714, banjur kapara 8, olèh 214, turah 2, sarèhne turah 2, dadi têtela Sakalaning panggung luhur sangga buwana taun 1708, iku taun Ehe.
Tinulis tanggal kaping 4 sasi Zu'lkaedah taun Dal 1831. (isih sajrone tumindak Khuruf Alip Arba'iyah). Bagus Ngarfah.
--- 41 ---
SANATU'LHIJRAT UTAWA TAUN HIJRAH
Pathokane anggolèki Angkaning Taun Hijrah lan Jawa, iku mangkene: Manawa angkaning taun Jawa kasuda 512, iku dadi angkaning taun Hijrah. Kosok-baline: Manawa angkaning taun Hijrah diwuwuhi 512, iku dadi angkaning taun Jawa.
Upama: Nalika pangalihe karaton Kartasura marang karaton Surakarta, Sakalane: munggah gunung rasaning rat, angkaning taun Jawa 1670, iku bêbarêngane karo angkaning taun Hijrah pinuju taun angka pira?
Pangetunge mangkene: Angkaning taun Jawa 1670 kasuda 512
Cocoge karo taun Hijrah pinuju taun angka 1158
Kosok-baline: Ana sawijining masjid, nalika pangyasane tinêngêran angkaning taun Hijrah 1234, iku yèn ing taun Jawa pinuju angka pira?
Pangetunge mangkene: Angkaning taun Hijrah 1234 kawuwuhan 512
Cocoge karo taun Jawa pinuju taun angka 1745
Pangetunge taun Hijrah, iku awêwaton taun Kamariyah, iya iku taun miturut petungan Rêmbulan, nganggo sasi 12 kang ing dalêm sa-sasi-sasine ana 30 dina, gêntèn karo 29 dina, dene araning sasi-sasine kaya kang wis katulad kanggo sasi Jawa kasêbut ing ngarêp, iya iku wiwit sasi Muharram umure 30 dina, sabanjure nganti tumêka sasi Zu'lhijjah umure 29 dina, sabên 12 sasi utawa sêtaune umur 354 dina yèn pinuju sanat basitah (taun wastu), utawa umur 355 dina yèn pinuju sanat kabisat (taun wuntu), kang umure sasi Zu'lhijjah dadi 30 dina.
Kawitane Sanatu'lhijrat utawa taun Hijrah, iku kapetung wiwit linggare Kangjêng Nabi Mukhammad s.a.w. saka Mêkah marang Madinah, kapèngêtan ing dina Isnain sasi Rabi'u'lawal, ananging pangetunge Sanatu'lhijrat kawiwitan saka tanggal sapisan sasi
--- 42 ---
Muharram, dene kang murwani nganakake angkaning taun Hijrah iku, Sang Khalifah 'Umar, sawise kaangkat dadi Amiru'lmu'minin, iya iku sakabate Kangjêng Nabi kang asma "umar, akhire jumênêng Khalifah kang kapindho.
Petungane taun Hijrah, iku nganggo sarupa windu kang lawase sabên 30 taun urut-urutan, kang mêngku 19 sanat kabitah (taun Wastu), lan 11 sanat kabisat (taun Wuntu). Manawa arêp nyumurupi manggone taune Wastu lan taune Wuntu, iku carane metung mangkene: yèn turah: 1, 3, 4, 6, 8, 9, 11, 12, 14, 15, 17, 19, 20, 22, 23, 25, 27, 28, lan cèplês 30, iku padha taun Wastu kabèh, dene yèn turah: 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, lan 29, iku padha taun Wuntu kabèh.
--- 43 ---
KATÊRANGAN
Nêptuning Dina lan Nêptuning Pasaran sarta Angka-uruting Wuku.
Nêptuning Dina ... Nêptuning Pasaran
3. Sêlasa ...
4. Sênèn ... 4. Wage
5. Ahad ... 5. Lêgi
6. Jum'at ...
7. Rêbo ... 7. Pon
8. Kêmis ... 8. Kliwon
9. Sabtu ... 9. Paing.
Angka-urutaning Wuku.
1. Sinta, 2. Landêp, 3. Wukir, 4. Kurantil, 5. Tolu, 6. Gumbrêg, 7. Warigalit, 8. Warigagung, 9. Julungwangi, 10. Sungsang, 11. Galungan, 12. Kuningan, 13. Langkir, 14. Mandhasiya, 15. Julungpujud, 16. Pahang, 17. Kuruwêlut, 18. Marakèh, 19. Tambir, 20. Mêdangkungan, 21. Maktal, 22. Wuye, 23. Manahil, 24. Prangbakat, 25. Bala, 26. Wugu, 27. Wayang, 28. Kulawu, 29. Dhukut, 30. Watugunung.
--- 44 ---
PANANGGALAN JAWA 120 TAUN
Khuruf Alip Salasiyah Pon
Lambang Wuku Kulawu ing sabên Kawitaning Windu
Angkaning Taun Jawa
Windu
Kunthara ... 1875 ... 1876 ... 1877 ... 1878 ... 1879 ... 1880 ... 1881 ... 1882
Sancaya ... 1891 ... 1892 ... 1893 ... 1894 ... 1895 ... 1896 ... 1897 ... 1898
Kunthara ... 1907 ... 1908 ... 1909 ... 1910 ... 1911 ... 1912 ... 1913 ... 1914
Sancaya ... 1923 ... 1924 ... 1925 ... 1926 ... 1927 ... 1928 ... 1929 ... 1930
Kunthara ... 1939 ... 1940 ... 1941 ... 1942 ... 1943 ... 1944 ... 1945 ... 1946
Sancaya ... 1955 ... 1956 ... 1957 ... 1958 ... 1959 ... 1960 ... 1961 ... 1962
Kunthara ... 1971 ... 1972 ... 1973 ... 1974 ... 1975 ... 1976 ... 1977 ... 1978
Taun ... Alip ... Ehe ... Jimawal ... Je ... Dal ... Be ... Wawu ... Jimakir
Sasi: Nêptuning Dina lan Pasaran sarta Angka-uruting Wuku ing tanggal 1 sabên sasine
Sura ... 3-7,28 ... 9-9,18 ... 8-9,9 ... 4-5,30 ... 6-8,20 ... 7-8,11 ... 5-4,2 ... 8-7,22
Sapar ... 8-7,2 ... 4-9,23 ... 9-9,13 ... 7-3,4 ... 5-8,25 ... 6-8,15 ... 3-4,6 ... 9-7,26
Mulud ... 6-9,6 ... 3-5,27 ... 5-5,18 ... 8-8,8 ... 4-4,29 ... 9-4,19 ... 7-7,10 ... 5-9,1
BakdaMulud ... 5-9,11 ... 8-5,1 ... 3-5,22 ... 9-8,12 ... 7-4,3 ... 4-4,24 ... 6-7,14 ... 3-9,5
Jumadilawal ... 4-5,15 ... 6-8,5 ... 7-8,26 ... 6-4,17 ... 8-7,7 ... 3-7,28 ... 9-9,18 ... 7-5,9
Jumadilakir ... 7-5,19 ... 5-8,10 ... 6-8,30 ... 3-4,21 ... 9-7,11 ... 8-7,2 ... 4-9,23 ... 6-5,13
Rêjêb ... 8-3,23 ... 4-4,14 ... 9-4,4 ... 7-7,25 ... 5-9,16 ... 6-9,6 ... 3-5,27 ... 9-8,17
Ruwah ... 9-8,17 ... 7-4,18 ... 4-4,9 ... 6-7,29 ... 3-9,20 ... 5-9,11 ... 8-5,1 ... 4-8,22
Pasa ... 5-4,2 ... 8-7,22 ... 3-7,13 ... 9-9,3 ... 7-5,24 ... 4-5,15 ... 6-8,5 ... 3-4,26
Sawal ... 3-4,6 ... 9-7,26 ... 8-7,17 ... 4-9,8 ... 6-5,28 ... 7-5,19 ... 5-8,10 ... 8-4,30
Sêla ... 7-7,10 ... 5-9,1 ... 6-9,21 ... 3-5,12 ... 9-8,2 ... 8-8,23 ... 4-4,14 ... 6-7,4
Bêsar ... 6-7,14 ... 3-9,5 ... 5-9,26 ... 8-5,16 ... 4-8,7 ... 9-8,27 ... 7-4,18 ... 5-7,9
--- 45 ---
KHURUF ALIP SALASIYAH PON
Wiwit Alip 1867 - Jimakir 1986
Lambang Wuku Langkir ing sabên Kawitaning Windu
Angkaning Taun Jawa ... Windu
1867 ... 1868 ... 1869 ... 1870 ... 1871 ... 1872 ... 1873 ... 1874 ... Adi
1883 ... 1884 ... 1885 ... 1886 ... 1887 ... 1888 ... 1889 ... 1890 ... Sangara
1899 ... 1900 ... 1901 ... 1902 ... 1903 ... 1904 ... 1905 ... 1906 ... Adi
1915 ... 1916 ... 1917 ... 1918 ... 1919 ... 1920 ... 1921 ... 1922 ... Sangara
1931 ... 1932 ... 1933 ... 1934 ... 1935 ... 1936 ... 1937 ... 1938 ... Adi
1947 ... 1948 ... 1949 ... 1950 ... 1951 ... 1952 ... 1953 ... 1954 ... Sangara
1963 ... 1964 ... 1965 ... 1966 ... 1967 ... 1968 ... 1969 ... 1970 ... Adi
1979 ... 1980 ... 1981 ... 1982 ... 1983 ... 1984 ... 1985 ... 1986 ... Sangara
Alip ... Ehe ... Jimawal ... Je ... Dal ... Be ... Wawu ... Jimakir ... Taun
Nêptuning Dina lan Pasaran sarta Angka-uruting Wuku ing tanggal 1 sabên sasine Sasi
3-7,13 ... 9-9,3 ... 8-9,24 ... 4-5,15 ... 6-8,5 ... 7-8,26 ... 5-4,17 ... 8-7,7 ... Sura
8-7,17 ... 4-9,8 ... 9-9,28 ... 7-5,19 ... 5-8,10 ... 6-8,30 ... 3-4,21 ... 9-7,11 ... Sapar
6-9,21 ... 3-5,12 ... 5-5,3 ... 8-8,23 ... 4-4,14 ... 9-4,4 ... 7-7,25 ... 5-9,16 ... Mulud
5-9,26 ... 8-5,16 ... 3-5,7 ... 9-8,27 ... 7-4,18 ... 4-4,9 ... 6-7,29 ... 3-9,20 ... Bakda Mulud
4-5,30 ... 6-8,20 ... 7-8,11 ... 5-4,2 ... 8-7,22 ... 3-7,13 ... 9-9,3 ... 7-5,24 ... Jumadilawal
7-5,4 ... 5-8,25 ... 6-8,15 ... 3-4,6 ... 9-7,26 ... 8-7,17 ... 4-9,8 ... 6-5,28 ... Jumadilakir
8-8,8 ... 4-4,29 ... 9-4,19 ... 7-7,10 ... 5-9,1 ... 6-9,21 ... 3-5,12 ... 9-8,2 ... Rêjêb
9-8,12 ... 7-4,3 ... 4-4,24 ... 6-7,14 ... 3-9,5 ... 5-9,26 ... 8-5,16 ... 4-8,7 ... Ruwah
5-4,17 ... 8-7,7 ... 3-7,28 ... 9-9,18 ... 7-5,9 ... 4-5,30 ... 6-8,20 ... 3-4,11 ... Pasa
3-4,21 ... 9-7,11 ... 8-7,2 ... 4-9,23 ... 6-5,13 ... 7-5,4 ... 5-8,25 ... 8-4,15 ... Sawal
7-7,25 ... 5-9,16 ... 6-9,6 ... 3-5,27 ... 9-8,17 ... 8-8,8 ... 4-4,29 ... 6-7,19 ... Sêla
6-7,29 ... 3-9,20 ... 5-9,11 ... 8-5,1 ... 4-8,22 ... 9-8,12 ... 7-4,3 ... 5-7,24 ... Bêsar






DUKUH SANGGRAHAN TEMPAT ASAL IBUNDA PAHLAWAN NASIONAL H. Dr. R. SOEHARTO SASTROSOEYOSO

Ibundanya memiliki bakat dalam mengobati dan menyembuhkan orang sakit, ternyata pekerjaan mulia tersebut menurun kepada putranya H. Dr. R. S...